Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, dari analisa dan bahasa kita, bagian II: 1986-1993

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta – alias Jakarta History of Shopping – kata pencetus aslinya di Skyscrapercity – kembali!

Anda tidak salah baca. Semasa blog ini masih menggunakan platform Blogger, Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta atau disingkat SPPJ merupakan tulisan terpopuler dan yang paling wow dalam eksistensi Setiap Gedung Punya Cerita, serta satu-satunya tulisan yang tidak dibuat oleh mimin SGPC dan Ronniecoln. Namun, banyak faktor yang membuat kami di blog ini memutuskan menarik SPPJ, yaitu tingginya pemakaian konten dari satu sumber media dan kevakuman penulisnya bernama ModarJayaAbadi. Kini, kami ganti dengan apa yang ada di arsip SGPC, dipindai dari rak majalah berisi 30 tahun lebih sejarah pembangunan di Indonesia.

Dibanding sebelumnya yang rencananya bisa 13 bagian (tiga bagian perdana (Pionir, Melawai dan Internasionalisasi) dibuat, bagian empat yaitu sejarah mal di Kelapa Gading tak jadi-jadi juga), maka disini lebih singkat, dengan pembagian dari masa-ke-masa. Berikut merupakan sejarah kehadiran mal-mal di Ibukota Republik Indonesia – setidaknya kami upayakan selengkap mungkin.

Ini adalah bagian kedua dari empat bagian sejarah mal-mal di Daerah Khusus Jakarta yang blog ini pecah berdasarkan evolusi tahunnya, mulai dari 1960-1983, 1987-1993, 1995-1997, dan 2000-sekarang. Setiap evolusi mal-mal di Jakarta punya ciri khasnya masing-masing dan pengisi tokonya masing-masing. Untuk tulisan terpisah mengenai sejarah supermarket di kota ini, bacalah artikel ini.

Isi dari artikel ini merupakan versi perampingan dan de-Jaksel-isasi dari Lintas Melawai dan Internasionalisasi sehingga sejak dirilisnya artikel ini, akan menjadi pengalihan dari bagian 2 dan 3 SPPJ.


Iklan

Di tahun 1984-85 tidak ada mall yang memulai kegiatannya. Di balik layar, pengembang endus sebuah peluang

Ada dua tahun yang terputus dalam lini waktu Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta versi SGPC. Alasannya adalah tidak ada mal baru yang dibangun karena melimpahnya ketersediaan pertokoan dan waktu itu ada booming gedung perkantoran. Argumen tersebut bisa dibaca di artikel Gedung BRI I yang SGPC tulis di awal-awal kehadiran blog ini.

Glodok Plaza
Glodok Plaza adalah yang kedua hadir dalam gelombang kedua pembangunan pusat belanja di Jakarta. Foto oleh Yul Adriansyah/SWAsembada, Maret 1993

Tetapi, itu bukan berarti tidak ada pembangunan mal yang sedang berjalan, dan kebutuhan ruang pertokoan akan berhenti di situ saja. Akhir Juni 1984, harian KOMPAS mengabarkan bahwa keterisian Ratu Plaza dan Gajah Mada Plaza sudah mencapai 95 persen; pada Maret 1985, ruang pertokoan Gajah Mada Plaza sudah ludes diisi pedagang menurut majalah berita Tempo. Sebulan sebelumnya di tahun yang sama, Pasaraya Blok M melanjutkan konstruksi perluasan pertamanya yang terimbas kebakaran hebat pada Oktober 1984 sekaligus merenovasi pusat belanja raksasa yang baru berusia seumur jagung itu.

Di waktu yang bersamaan – Glodok Plaza yang hangus karena kebakaran dibongkar mulai akhir 1984 dan diputuskan dibangun mall baru yang juga bernama Glodok Plaza. Berbeda dengan inkarnasi pertamanya, Glodok Plaza generasi kedua jauh lebih luas, lebih tinggi dan eksklusif digunakan sebagai pusat perbelanjaan alih-alih menerapkan model Gajah Mada Plaza. Kami masukkan episode Pasaraya dan Glodok Plaza dalam subbagian berikutnya.


Iklan

1986-88: Perluasan pertama Pasaraya Blok M dan Glodok Plaza “reborn” hingga pertokoan Pasar Baru dan mal di pinggir Jakarta

Demam plaza yang kedua di Ibukota sebenarnya paling terlihat di tahun 1989 hingga 1991. Namun, itu berawal dari rampungnya perluasan Pasaraya Blok M berlantai 10 dan Glodok Plaza dengan 8 lantai dan 1 ruang bawah tanah masing-masing di bulan Maret 1986 dan April 1987. Pasaraya – seperti yang dibahas di bagian pertama SPPJ versi SGPC, masih diisi sepenuhnya untuk department store milik ALatief itu.

Glodok Jaya. Tidak layak bagi SPPJ sebenarnya. Foto oleh Majalah Konstruksi

Glodok Plaza – sentra barang elektronik Tanah Air – lain dengan Pasaraya. Sama tambunnya, tetapi secara karakter mirip mal-mal dahulu dan sekarang terdiri dari kios, department store Kumbo, supermarket Gelael, KFC, Burger King (generasi I dibawah Gelael), bahkan dealer mobil Toyota. Konsep yang saat itu adalah gebrakan, tetapi berkat buruknya dokumentasi sejarah yang tak ada sangkut pautnya dengan politik dan kebudayaan di Indonesia, konsep itu malah dianggap idenya Hyundai di Mal Pondok Indah III dan Lotte Mall Jakarta (Lotta). Soal PIM III dan Lotta, kita bahas di bagian IV. Selain Glodok Plaza, ada Glodok Jaya yang desainnya tidak spesial dan lebih terkenal dengan sentra perkakas, mesin dan instalasi listrik. Jangan tanya tenant utamanya.

Lippo Plaza Kramat Jati
Kramat Jati Indah, 1988. Juni 1988. Foto oleh tim redaksi Majalah Konstruksi

Kejutan datang dari Jakarta Timur. Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta versi MJA selama ini tidak pernah menyentuh Kramat Jati Indah, sebuah mal kelas menengah yang berdiri di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Kramat Jati, yang dibangun dua tahap, yang pertama dibangun di kurun tahun 1987-1988. Walau terlihat biasa saja, KJI menyimpan memori di hati sebagian masyarakat, dan saat berdiri ditempati oleh Matahari, Toko Gunung Agung, Mitra Toko Diskon dan Buku dan Church’s Texas Chicken.

Tak jauh dari Glodok, kawasan dagang orang Tionghoa, adalah Pasar Baru yang memiliki nilai sejarah tiada tara. 10 tahun setelah berdirinya Metro Pasar Baru yang pernah dilanda kebakaran pada 1985, dibangun tiga pertokoan baru yaitu Metro Atom milik PD Pasar Jaya pada 1986, Istana Pasar Baru di tahun 1987 dan King Plaza pada 1988, keduanya dari swasta. Penyelesaiannya juga bertahap; Metro Atom mendahului selesai pada April 1988, menyediakan kios untuk eks pedagang Pasar Atom. Untuk Istana dan King Plaza, baca subbagian berikutnya.


Iklan

1989: Pasar Pagi Mangga Dua, Pasar Baru swasta, Lokasari dan Menteng menyusul di akhir tahun

Pada tahun 1989, Procon Indah/Jones Lang Wootton (sekarang Jones Lang LaSalle) mengatakan bahwa luas lantai pertokoan yang bisa disewa di Jakarta baru mencapai 188.700 m2. Tidak usah dibandingkan dengan 500 ribu m2 luas lantai mal di Bangkok; luas lantai Mall Taman Anggrek mencapai 360 ribu m2. Itu perbandingan dengan satu mall modern Jakarta yang akan marak pada pertengahan ke akhir 1990an. Tetapi, di tahun 1989 ini, banyak mal-mal yang sedang atau memulai tahapan konstruksi.

Mal-mal baru di Jakarta yang buka pada tahun 1989 menumpuk di akhir-akhir tahun (September-Desember). Diawali dengan Pasar Pagi Mangga Dua yang dibuka pada bulan September 1989 untuk menggantikan los-los grosir Pasar Pagi yang dibongkar untuk membangun jalan layang. Ini merupakan salah satu pusat belanja – bukan mall, tetapi sebuah trade centre – yang dikhususkan untuk perdagangan grosir, terutama aksesoris dan busana. Ia juga menjadi pelopor mal-mal grosir di Indonesia.


Iklan

Istana Pasar Baru
Istana Pasar Baru punya 3 lantai pertokoan. Foto oleh mimin SGPC

Di Pasar Baru, proyek-proyek swasta seperti Istana Pasar Baru dan King Plaza sama-sama membuka tokonya pada akhir 1989, sementara di luar itu ada Lokasari Plaza dan Menteng Plaza. Yang mendahului adalah Istana Pasar Baru, yang sepertinya, berdasarkan iklan, buka pada bulan Oktober 1989, disusul dengan King Plaza pada bulan Desember 1989. Keduanya merupakan proyek Peddy Wongsowidjojo, namun kurang berhasil menarik perhatian pengusaha calon penghuni toko. Penghuni jangkarnya adalah Andria Department Store dan Toko Buku Nasional di Istana Pasar Baru dan Matahari dan Toys City di King Plaza.

Bersamaan dengan dibukanya Istana Pasar Baru, sebuah mall berukuran mini di Menteng resmi dibuka dengan nama Menteng Plaza. Walau lokasinya mentereng dan menggaet tenant-tenant yang tidak kalah terkenalnya seperti Supermarket Gelael, KFC, Optik Tunggal, toko buku Booktique dan bahkan, 6 tahun kemudian, Marks & Spencer, mal ini kalah luas dari ketiga mal lain yang berdiri di tahun 1989, hanya 7.200 m2. Mal ini oleh salah satu majalah bisnis disebut merupakan juru selamat bagi pemiliknya, Jakarta Setiabudi Internasional.

Terakhir adalah Lokasari Plaza yang dibangun sebagai bagian dari peremajaan Taman Hiburan Rakyat Lokasari, dibuka resmi di bulan Desember 1989 bersamaan dengan pembukaan operasional King Plaza Pasar baru. Saat awal kemunculannya, Lokasari memilih bersaing dengan Glodok Plaza sebagai mall pusat elektronika, disamping menghadirkan tenant-tenant seperti biasanya seperti Toko Gunung Agung dan Matahari Dept. Store atau bahkan Hari-Hari Supermarket.


Iklan

Tahun Dilan adalah masa-masa terproduktif dunia retail Jakarta

Tulisan ini adalah yang terbesar yang SGPC susun dalam empat bagian Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta ini, karena melingkupi 10 mall yang berdiri di kurun tahun Dilan (1990-1991). Sangat banyak, untungnya kebanyakan mal-mal kecil yang tenantnya tidak jauh-jauh dari penghuni-penghuni familiar. Yang menonjol terdiri dari Plaza Indonesia, ITC Mangga Dua dan Pondok Indah Mall.

Grand Hyatt Plaza Indonesia
Mahkota dunia peritelan Tanah Air dari era Dilan. Foto oleh mimin SGPC

Tahun 1990 bisa dikatakan merupakan tahun terproduktif pembangunan mal-mal di Jakarta di era Orde Baru. Mulai bulan Februari, dibuka mal Slipi Jaya Plaza yang ukurannya 18 ribu meter persegi; disusul dengan tiga mal di bulan Maret: mal spesifik Jakarta Design Centre di Slipi, Kelapa Gading Plaza di Kelapa Gading dan Plaza Indonesia di Segitiga Emas, dan diakhiri di bulan Desember 1990 dengan beroperasinya Arion Mall serta Blok M Plaza. Enam mall tersebut adalah sampel – jumlah luas lantai sesungguhnya melipat ganda menjadi 338.000 m2 di Tahun Dilan. Blok M Plaza dengan Plaza Indonesia menjadi salah dua mall yang paling menonjol dari tahun 1990.

Blok M Plaza dikenal karena lebih modern dan besar dan variasi penghuninya sehingga menjadi pesaing serius bagi Pasaraya, di awal-awal eksistensinya menarik Cahaya dan Rimo Deparment Store sebagai penghuninya. Sementara Plaza Indonesia lebih dikenal karena konsepnya yang menggebrak, karena visinya sebagai sebuah “mal yang membuat bangga jadi orang Indonesia” tercipta melalui sebuah mal yang diisi oleh perancang busana ternama, dan hotel berkelas dunia. Ini awal dari era internasionalisasi dan modernisasi mal yang melanda tidak cuma Jakarta, tetapi juga di penjuru nusantara. Hal ini bisa dilihat dari keberhasilannya menarik Sogo Department Store menggelar dagangannya di mal ini pada Januari 1990, ditengah kekhawatiran pesaing dan masyarakat menyoal keberadaan ritel-ritel asing.

Mall Kelapa Gading
Tampilan pra-renovasi Mal Kelapa Gading I. Foto oleh mimin SGPC

Sementara Jakarta Design Centre kurang dikenal sebagai sebuah mal, malah lebih dikenal sebagai salah satu pusat pertokoan yang khusus menyediakan kebutuhan untuk arsitektur dan properti. Kelapa Gading Plaza sebagai mall pertama yang ukurannya tidak begitu menonjol di kawasan Jakarta Timur dan Utara, adalah embrio dari Summarecon Mall Kelapa Gading yang lebih besar, luas dan sukses. Melongok dari tenant KGP saat itu, Supermarket Diamond adalah nama yang paling menonjol dan mengawali suksesnya dari mal ini.

Setahun kemudian, tahun 1991, jumlah mal yang dibuka susut jadi tiga tidak termasuk ITC Mangga Dua yang berstatus trade centre kedua, sekaligus merupakan debut nama ITC di properti milik Duta Pertiwi. Ketiga mal tersebut adalah Pondok Indah Mall, Central Klender Plaza dan Kalibata Mall.

Mall Pondok Indah 1
Mall Pondok Indah dari udara, sekitar 1994. Foto oleh tim penyusun Jakarta: City of Culture & Tourism, terbitan Bappeda DKI

Namun, Pondok Indah Mall paling terkenal dan ngetop menjadi tempat ngeceng anak-anak muda sejak menggelar operasionalnya sejak Oktober 1991, menggeser Blok M. Saat berdiri, hanya ada satu gedung yang diisi nama-nama super mentereng seperti Metro Department Store dari Singapura, Hero Supermarket, toko elektronik Agis, hingga bioskop 21. Secara arsitektur, mall ini menjadi perhatian karena perancangnya, yaitu Design International/DDG/BCT Design Group, berkarya untuk mal ini selama 30 tahun lebih eksistensi serta perluasannya.

Baik Slipi Jaya, Arion Mall, Kalibata Mall dan Central Klender Plaza merupakan mal-mal ukuran kecil yang bisa dibilang lebih melayani kebutuhan masyarakat sekitar, dengan tenant yang saat itu familiar di mata masyarakat. Ketika semua mal tersebut mulai beroperasi, keempat mal ini masing-masing ditempati oleh merk terkenal atau yang jelas-jelas berafiliasi, seperti Cahaya Department Store (Slipi Jaya dan Kalibata), Hero Supermarket (Kalibata), Matahari dan Gelael Supermarket (Arion) serta Yogya Department Store (Central Klender).


Iklan

1992-93: Lebih sedikit mal, tetapi……

Mall Plaza Atrium Senen
Foto oleh mimin SGPC

Tahun 1992 jumlah mal yang hadir makin susut yakni hanya dua. Ia adalah Plaza Atrium Senen dan Blok M Mall yang sama-sama proyek bangun-guna-serah Pemprov DKI Jakarta dengan swasta. Atrium Senen yang awalnya merupakan proyek dari Indokisar Djaja dan Pembangunan Sarana Jaya merupakan bagian dari revitalisasi Segitiga Senen, memulai operasionalnya pada Agustus 1992, disusul dengan proyek kerjasama langsung Pemprov dan PT Langgeng Ayolestari dua bulan kemudian. Kedua proyek tersebut punya pandangan cukup utopis mengenai penggunanya; menggaet penghuni kalangan menengah keatas di lokasi yang mengemban stigma kalangan menengah ke bawah. Bacalah sampai habis biar tahu apa yang terjadi kemudian.

Hotel & Mall Ciputra
Foto oleh mimin SGPC

Sementara tahun 1993 hanya kedatangan satu mal, Ciputra Mall di Grogol. Mall berlantai delapan tersebut adalah yang terdekat ke Bandara Soekarno-Hatta dan yang pertama di kawasan sekitar Tomang, memulai operasional penuhnya sejak Februari 1993. Sampel mal-mal yang muncul di Jakarta dari 1990 hingga 1993 tersebut telah membuat stok lantai pertokoan terbang seperti lemparan ke dalam Pratama Arhan yaitu 583.000 m2. Tetapi, dibelakang layar, jumlah mal yang akan berdiri seiring kepanasannya mesin ekonomi Indonesia akan bertambah.


Iklan

Bagaimana mall-mall tersebut saat ini?

Mimin pisahkan keadaan terkini dengan catatan historis mal-mal yang berdiri dari kurun 1986-93, yang jumlahnya menggunung ini. Namun, nasibnya bisa berbeda-beda per malnya.

Mal-mal dari 1986-1989: Pertokoan biasa ga ada matinya…..

Pasaraya Blok M melanjutkan perluasan dan renovasinya selepas kebakaran kedua pada tanggal 13 April 1993. Perluasan tahap ketiganya ada di bagian III SPPJ alias menyusul; sementara Kramat Jati Indah sejak renovasi demi renovasi dan perluasan pada 2010, serta akuisisi oleh Lippo membuatnya terlihat lebih segar namun penghuninya mulai didominasi afiliasi Lippo Group. Tenant barunya terdiri dari bioskop XXI, Ace Hardware dan Electronic City, dan sebelumnya, Carrefour/Transmart.

Diantara ketiga mall Pasar Baru yang berdiri di tahun 1988-1989; nasib pertokoan milik PD Pasar Jaya, Metro Atom, masih lebih baik, terutama sejak dilakukan perubahan eksterior pada 2015. Istana Pasar Baru sekarang lebih identik dengan pusat perdagangan senjata, sementara King Plaza hancur dilalap si jago merah pada Januari 1997, yang pada akhirnya digusur pada 2007.

Dua mal non-Pasar Baru yaitu Lokasari dan Menteng Plaza nasibnya berbeda. Lokasari Square, nama sekarang, masih menjadi mal tetapi Matahari, Toko Gunung Agung, atau pusat elektronik Lokasari sudah tutup dan bioskop 21 Lokasari juga tidak lagi beroperasi. Eksterior Lokasari juga sudah jauh berubah. Sementara Menteng Plaza lebih tragis lagi; sejak 2006 sebagian besar luas pertokoan telah beralih fungsi sebagai sebuah hotel, karena bagi pihak Jakarta Setiabudi Internasional, daya tawar mall ini sudah kalah dari mal-mal pesaingnya di kawasan Menteng/Thamrin.

Di Mangga Dua, Pasar Pagi Mangga Dua dan ITC Mangga Dua masih tetap melayani pembeli grosir dan bahkan sejak 2006 tersambung oleh sebuah jembatan penyeberangan. Tidak banyak hal yang berubah selain tenantnya yang menyesuaikan dengan perubahan zaman dan kebutuhan pasar.

Glodok Plaza
Setelah Glodok Plaza direnovasi, 2017. Foto oleh mimin SGPC

Glodok Plaza terus mengalami perkembangan, namun Kumbo Department Store kolaps di tahun 1989. Tidak ada department store pengganti. Sama dengan pendahulunya, generasi kedua mall ini nasibnya sial karena dijarah dan dibakar dalam kerusuhan Mei 1998. Beruntungnya ia cepat-cepat direnovasi dari 2000 hingga 2002 walau pemiliknya dicerca para aktivis dan korban kerusuhan sehingga bisa kembali mengemban status sebagai sebuah sentra elektronik ibukota. Karena perkembangan zaman, Glodok Plaza kehilangan banyak pengunjung dan penghuninya sehingga mau tidak mau pengembang harus melakukan renovasi.


Iklan

1990-1991: Mall era Dilan tetap tegar, berkembang dan tumbuh besar

Berbeda dengan mal-mal dari tahun 1989, mal besar maupun kecil yang beroperasi sejak 1990 dan 1991 jauh lebih sukses dan bertahan, memberi kontribusi besar pada pengembangnya dan pilihan bagi konsumen. Bahkan beberapa mall sigap menyesuaikan konsep mallnya dengan melakukan renovasi dan pengocokan ulang toko-toko yang disewakan.

Mari kita awali dengan mal-mal berukuran jumbo dahulu, karena mal tersebut berhasil memperluas dirinya dan tetap relevan dengan perubahan zaman. Plaza Indonesia melakukan pelbagai renovasi dengan hadirnya mal-mal baru yang marak di tahun 1995-97 dan memperluas diri dua kali; dari Entertainment X’enter di tahun 2004 dan perluasannya yang terdiri dari dua bangunan menjulang bernama Keraton dan Plaza dan tambahan ruang pertokoan PI empat tahun berselang. Perluasan Plaza Indonesia dibahas selanjutnya di bagian IV SPPJ.

Namun, perluasan dan pembenahan itu bukannya tanpa memakan korban, karena di tahun 2006 Sogo pertama di Indonesia akhirnya ditutup karena Plaza Indonesia Realty, tuan tanahnya, tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaan ritel independen itu (Sogo Jepang, di titik ini sudah dipecah-pecah ke eks pemegang franchise-nya di luar Jepang; di Jepang dipegang oleh Seibu). Lantai bekas Sogo kini dimanfaatkan untuk butik-butik kelas mewah, sementara supermarketnya bernama The Foodhall menempati perluasan PI.

Sementara Pondok Indah Mall juga melakukan hal yang sama dengan Plaza Indonesia agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman sekarang. Di tahun 1995, Odditorium Ripley’s yang memajang keunikan dunia Robert Ripley, resmi dibuka. Namun itu tak bertahan lama karena pasca-krismon, di atas bekas Odditorium, Kidz Station mulai menjajakan mainannya ke anak-anak whicher Pondok Indah. Pada tahun 2013, bekas Odditorium/Kidz Station beralih fungsi menjadi PIM Street Gallery alias galeri pujasera. Hebatnya, Metro, Hero dan bioskop 21 tetap ada di PIM asli ini. Perluasan PIM II dan III menyusul di bagian IV.

Begitupun Summarecon Mall Kelapa Gading. Summarecon selaku pengembang dan pemilik mall mengetahui potensi besar di belakang Kelapa Gading Plaza, sehingga pada tahun 1995 memperluas malnya – hingga terakhir diperluas di tahun 2010 dengan dibukanya ekstensi dari MKG 3. Nanti dibahas di bagian III dan IV. Tenant di MKG 1 tidak banyak berubah; pada tahun 1992 Diamond memperluas luas lantai operasionalnya karena tingginya minat; namun itu bertahan 15 tahun karena Diamond Supermarket digantikan oleh Star Department Store dan Farmer’s Market.

Blok M Plaza – walau merupakan mal jumbo, tak banyak berubah. Justru penghuninya yang silih berganti mengisi pertokoan yang hip di era 1990an dan 2000an ini. Misal Cahaya Dept. Store, sudah keluar dan digantikan oleh Galleria Department Store dan selanjutnya disatukan dengan Matahari; Rimo yang juga tutup dan digantikan oleh pengisi lain, dan Hero Supermarket. Sempat sepi di tahun 2010an karena faktor kalah saing dan juga dibatasi oleh proyek angkutan massal MRT Jakarta, sejak 2019 mal ini bangkit lagi setelah Pakuwon dengan sigap memanfaatkan koneksivitas dengan angkutan tersebut sekaligus membenahi isi malnya.

Slipi Jaya Plaza Plaza yang masih merupakan mall komunitas. Foto oleh Google Street View.

Bagaimana dengan Slipi Jaya, Arion Mall, Kalibata Mall dan Central Klender Plaza? Slipi Jaya Plaza dan Klender Plaza bernasib sial karena dibakar dan dijarah massa dalam kerusuhan Mei 1998. Untungnya ia direnovasi oleh masing-masing pengelola, walau diumpat-umpat para aktivis karena merasa tidak diberi tempat dan jatah ruang toko/parkir untuk mengenang tragedi Mei 1998 seperti yang terjadi di Glodok Plaza.

Klender Plaza sekarang bernama City Plaza Klender dan ditempati oleh Ramayana/Robinson, sementara baik Arion dan Slipi Jaya diisi supermarket Superindo. Arion juga masih mempertahankan Matahari Department Store dan bioskop XXI dan Slipi Jaya punya CGV – bekas bioskop 21. Sementara Kalibata Mall, kami rasa tidak ada tenant top disini, selain toko-toko, taman bermain dan restoran biasanya setelah Giant disini tutup sejak 2021 lalu.


Iklan

1992-1993: Hasil produk BGS dipaksa menyesuaikan diri

Berbeda dengan mal-mal produk era novel Pidi Baiq – mal-mal kerjasama dengan Pemda di Jakarta yang memulai operasinya pada 1992-93 terpaksa menyesuaikan diri karena dengan konfigurasi awal sebagai mal kalangan menengah ke-atas ternyata tidak sesuai dengan ekspetasi pengelola.

Atrium Plaza Senen, nama sekarang The Atrium, misalnya sejak 1995 sudah degradasi ke liga mal-mal kelas menengah seperti Kalibata Mall dan Slipi Jaya. Gegara salah prediksi pengunjung dan krisis keuangan di kantor pusatnya di Jepang, pada 1995 Yaohan tutup dan akhirnya digantikan oleh Matahari Department Store. Saat ini Atrium Plaza Senen menjadi mal kelas menengah seperti biasanya, dengan bioskop XXI dan supermarket Foodmart sebagai pendamping jangkar Matahari.

Hal yang sama juga menimpa Blok M Mall, dimana McDonald’s, KFC dan Gelael keluar dari mal tersebut, degradasi ke kompetisi dengan trade center dan berhasil menggaet pedagang kaki lima sekitar Blok M dan Ramayana/Robinson. Konfigurasi tersebut bisa bertahan hingga tahun 2010an dimana kompetisi di pasar ritel membuat Blok M Mall ditinggal penghuninya.

Ciputra Mall
Ciputra Mall Grogol secara garis besar tidak tergoyahkan untuk mall era 1993. Foto oleh g0dd4mn[LZW]

Nah, Ciputra Mall Grogol tak banyak berubah dari susunan tenantnya! Hanya tempatnya yang direnovasi rutin agar sesuai dengan tuntutan zaman saja, serta tenant tingkat dua yang silih berganti menempati mal ini sesuai perkembangan zaman. Tenant yang ada di mal ini terdiri dari Matahari Department Store, Farmers Market, bioskop XXI hingga Toko Buku Gramedia.

Kesimpulan Bagian II Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta

Bagian II SPPJ merupakan perulangan dari tulisan “Internasionalisasi” versi ModarJayaAbadi plus elemen-elemen yang membuat SPPJ versi SGPC lebih luas dan menyeluruh dari versi MJA (indiscriminate). Ketika mal-mal dari 1988 dan 1989 mengulang formula mal-mal era 1976-1983, kehadiran mal-mal seperti Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall dan Atrium Senen mendongkrak citra Jakarta sebagai kota yang menarik untuk pemain retail kelas kakap dunia dan juga sebagai kota belanja dunia.

Namun, itu tidak cukup, karena selanjutnya, menjelang tahun emas dan selanjutnya krismon, semut-semut bernama pengembang mal akan terus menambah mal-mal barunya yang mengemban konsep yang berbeda dari pesaingnya dan sekaligus lebih lega bagi pengunjung dan pedagang. Akan semakin lebih menarik lagi di bagian III!

Referensi tambahan

Sebagian atau seluruh tulisan ini disarikan dari artikel mal-mal yang sudah ditulis SGPC.

  1. DP (1984). “Bisnis Perkantoran di Kawasan Segi Tiga Emas.” KOMPAS, 25 Juni 1984, hal. 1
  2. “Gejala Plaza.” TEMPO, 2 Maret 1985, hal. 73-74
  3. Michael J. William (1990). “Trend dan Peluang Pasar Properti di Indonesia.” Majalah SWA No. 2/VI, Mei 1990, hal. 24-26
  4. H.B. Supiyo (1993). “Adu Strategi Pusat Perbelanjaan.” Majalah SWA No. 5/IX, Oktober 1993, hal. 34-35
  5. Nukman Luthfie; Henni T. Soelaeman (1995). “Jatuh Bangun Pusat Perbelanjaan”. SWAsembada No. 4/XI, Juli 1995, hal. 78-81

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Atau, bila anda berminat dengan artikel majalah yang dikutip oleh blog ini, sekaligus butuh referensi, belilah di TORSIP SGPC!


Bagaimana pendapat anda……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights