Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, dari analisa dan bahasa kita, bagian I: 1960-1983

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta – alias Jakarta History of Shopping – kata pencetus aslinya di Skyscrapercity – kembali!

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta lama tidak pernah memasukkan gedung ini. Ya ga? Foto oleh Multi Plaza Properties/Majalah Pola No. 22, Juni 1977

Anda tidak salah baca. Semasa blog ini masih menggunakan platform Blogger, Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta atau disingkat SPPJ merupakan tulisan terpopuler dan yang paling wow dalam eksistensi Setiap Gedung Punya Cerita, serta satu-satunya tulisan yang tidak dibuat oleh mimin SGPC dan Ronniecoln. Namun, banyak faktor yang membuat kami di blog ini memutuskan menarik SPPJ, yaitu tingginya pemakaian konten dari satu sumber media dan kevakuman penulisnya bernama ModarJayaAbadi. Kini, kami ganti dengan apa yang ada di arsip SGPC, dipindai dari rak majalah berisi 30 tahun lebih sejarah pembangunan di Indonesia.

Dibanding sebelumnya yang rencananya bisa 13 bagian (tiga bagian perdana (Pionir, Melawai dan Internasionalisasi) dibuat, bagian empat yaitu sejarah mal di Kelapa Gading tak jadi-jadi juga), maka disini lebih singkat, dengan pembagian dari masa-ke-masa. Berikut merupakan sejarah kehadiran mal-mal di Ibukota Republik Indonesia – setidaknya kami upayakan selengkap mungkin.

Ini adalah bagian pertama dari empat bagian sejarah mal-mal di Daerah Khusus Jakarta yang blog ini pecah berdasarkan evolusi tahunnya, mulai dari 1960-1983, 1986-1993, 1995-1997, dan 2000-sekarang. Setiap evolusi mal-mal di Jakarta punya ciri khasnya masing-masing dan pengisi tokonya masing-masing. Untuk tulisan terpisah mengenai sejarah supermarket di kota ini, bacalah artikel ini.

Terbaru 29 Oktober 2023: penambahan penjabaran layout mal.


Iklan

Sebelum mengetahui sejarahnya, ketahui dulu evolusinya

Mungkin banyak yang tidak tahu bagaimana sih susunan penataan mall itu berjalan hingga seperti sekarang selama 55 tahun terakhir. Namun, mimin SGPC selaku orang biasa akan menjelaskan evolusinya melalui nukilan opini dari T.H. Antonius dan Ulung dari Ciputra Development (Properti Indonesia, Mei 1994) dalam bahasa sederhana. Ada tiga jenis mall yang dikemukakan oleh dua (mantan) eksekutif perusahaan properti milik dedengkot properti tanah air Ir. Ciputra itu yaitu mall banyak koridor; mall dengan koridor terbatas dan mall sejati dengan satu koridor utama saja.

Di era 1976-83 alias bagian 1 SPPJ, secara bersamaan mayoritas mall yang berdiri menerapkan sistem berkoridor banyak maupun terbatas beratrium. Sejak berdirinya Glodok Plaza, praktis beberapa mal di Jakarta mulai menambahkan atrium pada desain mereka, tetapi mall seperti Melawai, Tomang dan Aldiron Plaza masih berkoridor banyak.

Denah lantai dasar Ratu Plaza. Disini anda bisa melihat atrium alias plaza seperti pada foto. Ada tiga koridor pembagi. Sumber: Majalah Konstruksi, Agustus 1980

Di bagian 2 SPPJ, terutama sejak 1989, akan muncul varian mall yang sesungguhnya, dimana semua toko diposisikan ke satu-satunya koridor utama yang mengelilingi atrium (kami menyebutnya mal sejati). Koridor tersebut dipersiapkan sebagai satu-satunya peredaran arus manusia karena ia akan berperan menghubungkan dua pusat kegiatan atau magnet. Anda bisa lihat contoh mal sejati di foto Slipi Jaya Plaza di bawah.

Di era yang sama, model koridor masih juga digunakan oleh beberapa mal seperti trade centre kebanyakan dan ternyata Plaza Indonesia yang sukses, megah dan mewah, masih menerapkan sistem ini sejak hadir pada Maret 1990. Mungkin ekstensinya menggunakan pola mal sejati.

Denah lantai dasar/1 Slipi Jaya Plaza yang menggunakan sistem mall. Punya 3 pintu masuk dan hanya punya koridor utama saja. Sumber: Majalah Konstruksi, Februari 1990

Semua tipe mall tersebut ada nilai tambah dan minusnya. Secara teoritis, menurut Antonius dan Ulung, mall berkoridor banyak lebih efisien dari segi pemasukkan dan pemakaian luas, tetapi lemah di titik orientasinya karena pusat perhatiannya tidak ada. Tulisan Petrus Loekito di Majalah Asri edisi Agustus 1989 juga menemukan dalam kasus tertentu, pola penataan koridor mal bisa memengaruhi baik penjualan ruangan mal maupun kemampuan penghuni menarik perhatian pengunjung mal itu.

Sementara mal sejati memiliki kelebihan, yaitu peredaran yang lebih sederhana, ada titik orientasi dan toko yang mudah dilihat pengunjung, tetapi kelemahannya adalah harga sewanya jadi mahal karena ruangan yang tersedia untuk disewa menjadi tak banyak (TH Antonius dan Ulung, 1994). Tergantung kecerdikan arsitek untuk memaksimalkan luas lantai dan koridornya serta sasaran pasarnya.

Karena merupakan campuran mal sejati dan berkoridor banyak; nilai plus dan minus mall berkoridor terbatas bisa dikatakan tergantung pengalaman pedagang yang menggelar usahanya di sebuah mall berkoridor terbatas itu.


Iklan

Sarinah, dari regulator pasar hingga etalase mewah Indonesia

Sarinah pada tahun 1992, masih menarik banyak nama besar. Foto oleh Adhi Karya/Majalah Konstruksi (edisi Juli 1992)

Tentu saja pusat belanja modern pertama di Indonesia adalah Sarinah. Lahir dari keinginan Presiden Soekarno yang menjadikan Sarinah regulator pasar sekaligus menjadi pusat penjualan produk-produk asli Indonesia. Pemancangan tiang pertama gedung berlantai 14 setinggi 74 meter itu dimulai pada bulan April 1963 hingga selesai dibangun di bulan Desember 1965, didanai oleh pampasan perang dari Jepang dan perancangannya dilaksanakan oleh Perentjana Djaja dan Ohbayashi Corporation – Ohbayashi juga membangun gedung ini.

Evolusi dari gedung ini cukup bermacam-macam, awalnya supermarket berlantai banyak tetapi pada akhirnya, sejak 1973 hanya 4 lantai yang dijadikan supermarket. Tragisnya, 11 tahun kemudian, pada 14 November 1984, Sarinah terbakar hebat sehingga hanya 6 lantai yang bisa digunakan. Renovasi baru dilaksanakan pada tahun 1987 setelah pelbagai perdebatan di balik penanganan sisa gedung tersebut. Sarinah baru bisa disewakan kembali kepada umum pada 1992. Di titik ini, beberapa nama-nama asing muncul seperti Emporio Armani, Guess, McDonald’s (1991), Hard Rock Cafe (1992), Chili’s (1995) hingga nama nasional seperti toko batik Danar Hadi dan Batik Keris menempati ruang pertokoan Sarinah.

Demi mengembalikan khittah sebagai etalase penjualan produk asli Indonesia, semua tenant termasuk McDonald’s berhenti beroperasi pada Mei 2020 dan direnovasi kembali selama dua tahun. Sarinah generasi ketiga, dengan tampilan baru dan kebijakan baru, dibuka pada 21 Maret 2022.


Iklan

Pelopor superblok dan demam plaza tahap I, 1976-1983

Duta Merlin adalah pusat belanja pertama di Jakarta sejak 1966 (Sarinah). Foto oleh Sinar Harapan, 25 Agustus 1976

Karena kondisi politik Indonesia yang jelas-jelas tidak bersahabat bagi kegiatan investasi, termasuk properti, praktis tidak ada pusat perbelanjaan baru yang dibangun di Jakarta, dan harus menunggu hingga 10 tahun setelah Sarinah berdiri agar sebuah pusat perbelanjaan baru dari swasta berdiri. Pada tahun 1976, Duta Merlin dibuka untuk umum.

Sayangnya, mall rancangan Michael Sumarijanto dan Raysoeli Moeloek ini kontroversial karena berdiri di atas Hotel Duta Indonesia, sebuah hotel bersejarah era kolonial Belanda. Beberapa tenant yang ada saat itu a.l. Sarinah Jaya, Duta Electronics, salon-salon Rudy Hadisuwarno serta Multi Hair dan apparel Tiffany’s; dan yang menempati ruangan ritel Duta Merlin akhir-akhir ini adalah Carrefour. Mall ini dibongkar pada tahun 2023.

Rentang 1977-1983 diwarnai kehadiran lebih banyak mall yang muncul di Jakarta, terutama di pusat perdagangan Gajah Mada-Hayam Wuruk. Pada Maret 1977 Glodok Plaza bentukan Multi Plaza Properties mulai beroperasi, menampung mayoritas toko-toko alat elektronik. Sialnya, baru enam tahun beroperasi mall itu hangus terbakar hebat bulan April 1983, dan setahun kemudian dibongkar total.

Aldiron Plaza mendapat efek positif dari budaya ngeceng kawula muda Jakarta di Blok M. Foto oleh PRW Architects/Ikatan Arsitek Indonesia
Hayam Wuruk Plaza adalah satu dari tiga pusat belanja yang dibuka di Jakarta pada tahun 1978. Foto oleh Majalah Konstruksi

Tahun 1978 lebih banyak lagi mall yang muncul di Jakarta, tetapi kebanyakan ukuran lantainya kecil. Metro Pasar Baru adalah yang tidak diketahui kapan bukanya (mungkin pertengahan per iklan) namun masih dianggap lahir duluan; disusul dengan Plaza Hayam Wuruk yang dibuka pada awal Agustus 1978 serta Aldiron Plaza, tetenger Blok M era anak-anak muda Jakarta ngeceng yang dibuka akhir Desember 1978.

Tidak ada informasi mengenai mal yang berdiri pada tahun 1979; SGPC menduga di tahun tersebut Tomang Plaza memulai operasionalnya. Di rentang tahun 1980-1983, setiap tahun ada satu mall baru yang dibuka. Pertama adalah Ratu Plaza pada bulan Desember 1980; Pasaraya Blok M menyusul di 1981, Gajah Mada Plaza sekitar 1982 dan tergress adalah Melawai Plaza pada 1983. Bila estimasi Tomang Plaza benar, maka dari 1978-1983 setiap tahun paling tidak 1 plaza dibuka di kota metropolitan Jakarta.


Iklan

Namun, diantara mal-mal yang muncul di kurun 1976-1983, Ratu Plaza merupakan sebuah gebrakan karena merupakan proyek multiguna/mixed-use alias superblok pertama di Indonesia, dengan memadukan bangunan kantor berlantai 32 dan apartemen 52 unit dengan mall yang mewah berinterior besi baja. Selain itu, tercatat mall ini digemari kalangan menengah atas ibukota dengan penghuni yang mentereng seperti Levi’s, Louis Vuitton dan Etienne Aigner (kedua terakhir muncul di akhir 1980an). Tetapi, urusan mal/plaza yang menyediakan ruangan kantor, Ratu Plaza tidak sendiri, karena Gajah Mada Plaza memiliki gedung Gajah Mada Tower dan Glodok Plaza serta Metro Pasar Baru menyediakan ruangan berkantor di lantai terpisah, di atas mal.

Ratu Plaza juga dikenal menjadi tempat favorit kawula muda ibukota. Foto oleh Tatan Rustandi/Properti Indonesia
Isi atrium Ratu Plaza, 1980. Foto oleh Toky/Majalah Konstruksi

Selain Ratu Plaza, trio Blok M (Aldiron Plaza, Pasaraya dan Melawai) terkenal sebagai salah satu sentra berkumpulnya kawula muda Ibukota era 1980an dan awal 1990an, terutama dengan banyaknya toko-toko yang dianggap trendi bagi remaja metropolitan. Pasaraya Blok M misalnya, menyediakan pakaian-pakaian dari merk-merk ternama seperti Levi’s, Christian Dior dan Yves Saint Laurent, sementara Aldiron Plaza lebih ngetop dengan roller disco Happy Day. Sebenarnya, tempat makan dan hiburan yang berdiri di sekitar daerah inilah yang mendongkrak citra tempat pengecengan anak-anak muda ibukota.

Selain nama-nama tadi, tidak lupa beberapa perusahaan ritel nasional ikut menghiasi mal-mal tersebut. Pasaraya jelas sejak awal merupakan jenama department store; Ratu Plaza dalam sejarah sempat diisi oleh Gelael Supermarket, Supermarket Hero dan Matahari Department Store; kedua terakhir juga mengisi ruang mal Hayam Wuruk Plaza. Hero dan Rimo bersama-sama mengisi Gajah Mada Plaza.

Pasaraya Blok M, 1982
Pasaraya Blok M pada 1982. Ekspansif di awal namun belakangan melempem. Foto: Seribu Wajah Jakarta 1982

Sayangnya, keberadaan mal-mal era 1990an dan 2000an dengan sistem mall beratrium besar dan luas lantai yang jauh lebih menarik penjual, efektif membuat mal-mal era 1970-80an yang menggunakan sistem kios seperti Metro Pasar Baru dan Plaza Hayam Wuruk kehilangan nilai kompetitifnya, dan memaksa banyak mal senior lain untuk berbenah bila ada uangnya. Hal ini yang dilakukan Gajah Mada Plaza dan Metro Pasar Baru saat ini yaitu melakukan renovasi agar lebih menarik tenant dan pengunjung kelas menengah yang lebih menginginkan suasana yang lebih mewah dan minimalis.

Pasaraya Blok M cukup unik untuk dinamika mal-mal di Jakarta. Hal ini karena mereka melakukan perluasan dua kali, 1986 serta 1995 dan menarik nama-nama yang berpadu dengan perkembangan zaman seperti Seibu, Ace Hardware hingga Best Denki. Tidak hanya itu, perluasan tersebut menjadikan pusat belanja pertama yang mengawali babak baru pembangunan mal-mal di ibukota Negara Republik Indonesia pada kurun akhir 1980an sampai 1990an (1986-1997). Sayangnya, Pasaraya layu sejak awal 2010an karena kurang tanggap pada kompetisi ritel yang lebih ketat, berkebalikan dengan Gajah Mada Plaza.

Sebaliknya, pengelola Aldiron Plaza memilih harakiri dengan tidak memperpanjang kontrak dan pada akhirnya dibongkar pada 2006, sementara Duta Merlin menyusul dibongkar pada 2023 atau 17 tahun kemudian. Ratu Plaza dan Melawai Plaza sebaliknya nasibnya gantung atau tidak mampu berbenah mengikuti perubahan di dunia properti pertokoan.


Iklan

Kesimpulan Bagian I Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta

Menarik untuk disimak evolusi mal di Ibukota selama 60 tahun terakhir sejak Sarinah berdiri. Ketika pertama muncul di tahun 1970an, kebanyakan mal menganut prinsip kios dan terkadang tanpa atrium. Kelahiran mal-mal seperti Glodok Plaza, Gajah Mada Plaza dan Ratu Plaza inilah yang mendorong terciptanya mal yang lebih baik, lebih modern dan memanjakan penggunanya.

Sekian bagian pertama dari SPPJ a la SGPC bagian I, bagian kedua bisa anda baca disini.

Referensi tambahan

Sebagian atau seluruh tulisan ini disarikan dari artikel mal-mal yang sudah ditulis SGPC.

  1. T.H. Antonius; Ulung (Ciputra Development) (1994). “Trend Konsep Sirkulasi Pusat Perbelanjaan di Jakarta.” Majalah Properti Indonesia No. 4, Mei 1994, hal. 46-47
  2. Petrus Loekito (1989). “Arsitektur Pusat Perbelanjaan.” Majalah Asri No. 77, Agustus 1989, hal. 78-81

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Atau, bila anda berminat dengan artikel majalah yang dikutip oleh blog ini, sekaligus butuh referensi, belilah di TORSIP SGPC!


Bagaimana pendapat anda……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights