Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Mimin SGPC harus angkat bicara soal “The Architecture of Love”

Selama seminggu lebih terakhir, Setiap Gedung Punya Cerita dihadapkan oleh ramainya pembicaraan mengenai film The Architecture of Love. Film romansa yang penulis blog ini tidak akan tonton. Mimin lebih suka nonton TV!

Ya, mimin menghadapi itu gegara isi filmnya, dimana salah satu karakter perempuan – seorang novelis – menamai novel barunya “Setiap Gedung Punya Cerita” setelah pacar barunya, seorang arsitek, mengatakan “setiap gedung punya ceritanya” dan berupaya memperbaiki asmaranya masing-masing. Terutama karakter perempuan yang sebelumnya cerai. Itu kalau menurut sinopsis filmnya. Film tersebut adalah adaptasi novel bernama sama.

Bagaimana minSGPC tahu walau tidak menonton film itu? Salah satu teman mimin memberi tahu bahwa ia teringat oleh blog ini selama ia menonton film itu. Kebetulan? Bisa iya, bisa tidak. Ketika blog ini mimin buat sejak 2018, visi dan misi blog ini kebetulan selaras dengan apa kata salah satu karakter tersebut.

SGPC saat memulai pembuatan blog ini berpikir, bagaimana sejarah sebuah gedung direncanakan dan mulai dibangun? Bagaimana perjalanan hidup produk arsitektur itu?

Kisah indah Dealer Volkswagen di Kemayoran itu datang dari penghargaan yang diraih arsiteknya. Foto oleh Ikatan Arsitek Indonesia.

Ada yang penuh kisah indah (Intiland Tower Jakarta, Dealer VW di Kemayoran), kisah sedih (Hotel Sahid Surabaya), atau yang campur aduk (Panin Life Centre, Hotel Benakutai, Palaguna Bandung).

Ada yang tidak berwarna sama sekali (Balai Kota Surabaya, Kementerian Koperasi & UKM), ada yang jadi korban gosip murahan (Menara Saidah, Gedung Sapta Pesona), atau ada jenakanya (Hotel Satelit Surabaya).

Atau berakhir tragis (Wisma Kosgoro dan Glodok Plaza).

Sejarah kemunculan Gedung Kemkop UKM karya Suwondo B. Sutedjo ini seperti eksterior gedungnya, tak berwarna (hitam dan putih). Foto oleh Suwondo B. Sutedjo.

Perjuangan para pengembang properti yang terkadang harus menggadaikan tanah paling berharga perusahaannya untuk membangun proyek prestisius mengingat persaingan di jagat real estat yang semakin seru-seru saja; tetapi bila tidak tahan, ia harus berjuang mencari pembeli.

Begitulah jalan satu dari beberapa produk arsitektur modern nasional yang blog Setiap Gedung Punya Cerita ciptakan selama 5 tahun lebih eksistensinya, bersaing merebut pembaca dari lautan romantisme pada arsitektur era kolonial Belanda yang sayangnya sulit terbendung. Dan mohon maaf, teman-teman pecinta pita film, ini blog, bukan novel atau buku. Malahan kalau dibukukan akan menjadi lebih mahal karena bisa kerjasama bareng pengelola gedung/developernya.

Namun, ada satu kekhawatiran dari blog ini mengenai popularitas The Architecture of Love yaitu persaingan visibilitas. Domain lama blog ini, dengan akhiran dot web dot id, dipensiunkan paksa sejak Desember 2023 karena adanya serangan siber yang tidak bisa mimin pahami. Lima bulan berselang web ini dibuat kembali, setiapgedung dot id menghadapi kompetisi dari web properti dan berita lagi selain web yang mengglorifikasi romantisme era penjajahan Belanda. Apalagi web yang mengutip SGPC tanpa menyertakan backlink apalagi menyebut nama.

Akhir tragis Glodok Plaza pada 1983. Foto oleh Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta.

Belum lagi dengan digunakannya Setiap Gedung Punya Cerita sebagai branding tambahan film The Architecture of Love seperti yang blog ini singgung di awal paragraf. Ini merupakan pisau bermata dua, apakah film tersebut membawa durian runtuh bagi blog ini, atau jangan-jangan Setiap Gedung Punya Cerita terancam menjadi identik dengan TAoL – bukan blog ini – sehingga perjuangan blog SGPC menyosialisasikan dan mendalami sejarah pembangunan Indonesia pascakemerdekaan menjadi sia-sia. Semoga film itu membawa berkah bagi blog ini.

Mungkin saja ada rasa kecewa sebagian fans The Architecture of Love dengan sajian blog ini. Mengutip lagu Jamrud “Asal British”, “terus ngamuk-ngamuk karena liriknya domestik, bukannya Amrik.” Tulisannya mengenai karya arsitektur domestik semacam Atelier 6 atau Arkonin dengan nama-nama reguler yang jarang menghiasi koran dan portal berita, bukan gedung di New York City karya nama beken semacam Mies van der Rohe, Frank Lloyd Wright atau Phillip Johnson yang jadi setting film yang dibintangi Nicholas Saputra dan Putri Marino tersebut. SGPC, sebagai blog sejarah arsitektur nasional, akan tetap di koridornya. The show must go on kata bule.

SGPC berharap tidak banyak fans TAoL yang kecewa dengan sajian blognya yang asli Apel Malang, bukan Big Apple. Dan lagu Jamrud “Asal British” ini didedikasikan bagi mereka.

Sebagai penutup, bagi mimin SGPC The Architecture of Love bukan sesuatu yang mimin akan saksikan, jadi mimin tidak bahas film secara sepenuhnya. Anda yang sudah menonton dan menemukan blog ini, bacalah dan bagikan kepada teman-teman anda sekaligus mendukung kami melalui Trakteer, karena blog ini dijamin membuat anda kecanduan dan membuat anda tertarik pada dunia arsitektur dan bisnis properti, terima atau tidak, SGPC adalah blog yang sangat adiktif!

Setiap Gedung Punya Cerita, asli blog sejak 2018

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *