Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Hotel yang berdiri tepat di samping Stasiun Gubeng dan tergolong berusia senior di Surabaya adalah Hotel Sahid, sesuai namanya adalah milik dari imperium bisnis perhotelan Grup Sahid dari Surakarta. Hotel berlantai 12 dengan 145 kamar ini punya sejarah konstruksi yang sangat lama dan bisa dibilang, bikin jengkel investor dan pemerintah.

Mungkin ini alasannya arsitek dan kontraktor gedung ini tidak disebutkan – tetapi kami bisa beri kemungkinan perancang finalnya adalah dari tim arsitek New Sahid Builders, karena kemiripan desain atas dari baik Hotel Sahid di Yogyakarta maupun di Jakarta yang dirancang oleh PRW Architects. Baca artikel ini sampai habis karena bila anda ingin belajar bisnis, inilah alasannya kenapa anda harus berpikir realistis, terutama bila anda memakai uang panas saat memulai bisnis.

Hotel Sahid Surabaya
Hotel Sahid ini dibangunnya lama sekali. Desember 2008.
Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sejarah pembangunan Hotel Sahid Surabaya

Hotel Bhima Sakti, macet karena salah hitung (1973-1981)

Hotel ini awalnya berdiri sebagai Hotel Bhima Sakti, dimiliki oleh keluarga Masdjedi, salah satu anggota Angkatan ’45 yaitu organisasi veteran tentara, dibawah nama “PT Hotel International Bhima Sakti” (HIBS)Versi pemberitaan harian KOMPAS (3/9/1975) dipadu dengan berita di Jawa Pos (10/11/1990). Otobiografi Sukamdani Sahid, bila dihubungkan dengan kedua berita tersebut, memberi kesan bahwa Masdjedi merupakan anggota Angkatan ’45 yang menjadi pengusaha kayu di Kalimantan, yang dibangun dalam suasana euforia PATA 1974. Proyek 250 kamar tersebut dimulai melalui sebuah penanaman kepala kerbau oleh Walikota Surabaya R. Soekotjo pada 28 Mei 1973, dan direncanakan berlangsung selama 18 bulan hingga seharusnya bisa selesai sekitar Desember 1974.

Namun, kenyataannya proyek ini mangkrak gara-gara salah perhitungan oleh pemilik hotel. Ketika studi kelayakan dikeluarkan oleh Bank Bumi Daya (BBD) selaku pemberi kredit, pemilik hotel meyakini bahwa rencana 250 kamar mereka sudah diberi lampu hijau oleh baik BBD dan Bank Indonesia (BI). Sehingga, sembari menunggu kredit tersebut diloloskan organ moneter Republik Indonesia, HIBS mengajukan kredit eksplorasi.

BBD menyarankan Bhima Sakti membangun dulu dengan 25 persen dari kebutuhan total investasi dengan kredit eksplorasi tersebut. Titik masalah itu muncul ketika BI meluluskan proyek tersebut untuk 150 kamar, bukan 250 kamar seperti yang diharapkan pemilik. Akibatnya, proyek 12 lantai tersebut kekurangan dana untuk melanjutkan proyek itu dan akhirnya macet. Pihak pengembang sebetulnya sudah mengajukan kredit tambahan, tetapi hingga September 1977 belum ada titik temu antara BBD/BI dengan HIBS.

Sahid sang juru selamat (1981-1990)

Hotel Sahid Surabaya
Foto oleh mimin SGPC

Akhirnya, Sukamdani Sahid (pemilih hotel Sahid Jaya Surakarta dan Jakarta) menjadi juru selamat hotel tersebut dari ancaman menjadi “candi” (ini bahasa generasi Dilan dan Z) di masa depan. Dalam otobiografinya, Sahid menyuntikkan modalnya atas permintaan bank langganannya yaitu BBD setelah pihak bank milik negara itu mulai gusar atas mulai berkaratnya alat bangunan dan setegernya di proyek itu.

Proyek tersebut lanjut di tahun 1981, dan di tahun 1985, proyek Hotel Bhima Sakti baru itu sudah rampung dan tinggal menunggu operasionalnya saja. Sialnya bagi Sahid, muncul sengketa antara HIBS melawan BBD dan Sahid terkait kejelasan status hotel tersebut sehingga peresmian yang seharusnya dilakukan di tahun tersebut tertunda. Untuk kepentingan pendataan, proyek Hotel Sahid Surabaya bisa dikatakan selesai sejak 1985.

….. Kekesalan saya memuncak ketika pada tahun 1988 [catatan SGPC: September 1988] Gubernur Jawa Timur Sularso dalam keterangannya yang disiarkan oleh mass media Surabaya menyatakan kecewa atas terbengkalainya proyek itu. Gubernur bahkan menyebutnya “monumen mangkrak.”……. Pernyataan Gubernur ini saya rasakan sebagai suat tamparan yang getir.

Sukamdani Sahid dalam otobiografinya “Sumakdani Sahid Gitosardjono: Wirausaha Mengabdi Pembangunan”, hal. 226-227

Gara-gara inilah, selain Hotel Beringin dan Graha Bumiputera, Hotel Bhima Sakti menjadi sasaran kritik tajam Gubernur Jawa Timur Soelarso di koran-koran lokal (Jawa Pos, 30 September 1988, dan Surabaya Post, 30 September dan warta lapangannya pada 1 Oktober 1988) yang menganggap ketiga bangunan ini tidak hanya tak sedap dipandang melainkan juga bisa menjadi monumen kegagalan pembangunan alias “candi.” Gara-gara ucapan orang nomor satu Jawa Timur inilah, yang membuat Sahid, dalam otobiografinya, terasa sebagai “suatu tamparan yang getir” dan pada akhirnya berujung pada tekad menyelesaikan proyek hotel tersebut.

Pada Juli 1988, akhirnya pihak PT HIBS melepas saham-sahamnya di Hotel Bhima Sakti kepada BBD dan selanjutnya dijual ke Sahid. Sehingga proyek ini bisa diselesaikan dan dioperasikan tepat waktu, sekaligus membuat Gubernur Soelarso senang – karena dua dari tiga proyek mangkrak itu selesai juga pembangunannya. Akibat keterlambatan ini, Sahid harus menanggung investasi 30 milyar rupiah nilai 1990 untuk hotel yang saat itu akan menampung 219 kamar.

Hotel tersebut akhirnya diresmikan pada 9 November 1990 dan menjadi hotel ke-11 dalam keluarga imperium hotel Sahid, dalam acara yang diwarnai pegelaran sendratari Ramayana dan sambutan dari Menteri Pariwisata Soesilo Soedarman. Cukup banyak apresiasi dan pujian bagi Sahid terkait kepiawaiannya dan sikap profesional dalam mengelola 10 hotel, tanpa meninggalkan identitas keindonesiaannya. Bagi Sahid, ini sebuah pengalaman sendiri karena 9 tahun menguras pikiran untuk menyelesaikan sengkarut dengan mitra bisnisnya dan kejelasan investasinya di Kota Pahlawan.


Iklan

Profil hotel Sahid Surabaya

Karena beberapa renovasi yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan, kini Hotel Sahid Surabaya memiliki hanya 145 kamar (versi Agoda) – alias nyaris sama dengan jumlah kamar versi kucuran kredit BBD/BI kepada pemilik Hotel Bhima Sakti pada 1974 – yang terbagi ke dalam tiga tipe; Superior, Deluxe dan Junior Suite.

Halaman resminya memang mengklaim hotel ini menyasar wisatawan liburan maupun wisatawan bisnis, namun hotel ini belum punya yang namanya kolam renang untuk yang berlibur, tapi masih menyediakan fasilitas fitness, tempat spa/pijat dan taman. Selain itu ia memiliki tujuh ruang rapat (dinamai setelah gunung-gunung api di Jawa Timur) dengan kapasitas maksimal 250 orang dan restoran Candi Bentar.

Harian KOMPAS edisi 5 September 1977 membahas sedikit desain arsitektur Hotel Sahid saat masih bernama Hotel Bhima Sakti. Berlokasi di lahan berbentuk panjang dan sejajar dengan jalur kereta api dan Jalan Sumatera, maka sumbu hotel atau bentuk gedungnya ikut dibuat memanjang, dan membentuk sebuah blok dengan konstruksi beton.

Eksteriornya direncanakan akan menggunakan peneduh surya dan kaca film untuk mengurangi sinar matahari, karena orientasi gedung ini agaknya tidak menyenangkan karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit/tenggelam. Namun, tidak ditemukan peneduh surya pada gedung finalnya; justru lebih ditemukan pemakaian penggunaan lengkungan di lantai 12 gedung. Interiornya mempertahankan ciri khas Jawa Timur, namun lebih minimalis sejak direnovasi.

Data dan fakta

Nama lamaHotel Bhima Sakti
AlamatJalan Sumatera No. 1-15 Tambaksari, Kota Surabaya, Jawa Timur
Arsitek (estimasi SGPC, final produk)New Sahid Builders
Lama pembangunan1973 – 1985
Diresmikan9 November 1990
Jumlah lantai12 lantai
Jumlah kamar (Agoda)145 kamar
Biaya pembangunanRp. 30 milyar (1990)
Rp. 381,6 milyar (inflasi 2023)

Referensi

  1. ch (1975). “Pembangunan Hotel Bhima Sakti Terhenti Karena Kurang Beaya.” KOMPAS, 3 September 1975 hal. 12
  2. st (1977). “Macet, Pembangunan Hotel “Bhima Sakti”.” KOMPAS, 5 September 1977, hal. 7
  3. mg (1988). “Gubernur Peringatkan Pemilik Hotel Bimasakti dan Beringin.” Jawa Pos, 30 September 1988 hal. 2
  4. hds (1988). “Tiga gedung jangkung, mangkrak.” Surabaya Post, 1 Oktober 1988
  5. al; dh (1990). “Peresmian Sahid Surabaya Hotel diwarnai Sendratari Ramayana.” Jawa Pos, 9 November 1990, hal. 2
  6. dg (1990). “Jatim sudah laksanakan sapta kebijakan wisata.” Jawa Pos, 10 November 1990, hal. 2
  7. Sukamdani Sahid Gitosardjono (1993). “Sukamdani Sahid Gitosardjono: Wirausaha Mengabdi Pembangunan.” Jakarta: CV. Masagung. Halaman 226-228
  8. Profil hotel di Agoda dan halaman resmi, diakses 25 April 2023

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *