Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Sekarang bangunan modern bersejarah dari Bandung dapat giliran di blog Setiap Gedung Punya Cerita. Bangunan itu adalah pusat belanja modern, namanya Palaguna Plaza alias Palaguna Nusantara. Bangunan berlantai 7 (lantai terbanyaknya) ini dahulu berlokasi di pojok antara Jalan Alun-Alun Timur dan Jalan Dalem Kaum, yang menyimpan banyak memori indah bagi insan remaja era Dilan ’90 di Kota Kembang.

Ketiadaan data arsitektur gedung Palaguna Plaza berarti tulisan di blog ini akan didominasi sejarah dan deskripsinya.

Palaguna Nusantara
Palaguna Plaza di masa senjakalanya, 2010. Foto oleh Yonna I

Iklan

Tiga bioskop dikorbankan untuk dua bioskop dan mal

Sejarahnya dimulai sejak awal 1982. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui perusahaan daerahnya PD Kerta Wisata menangkap peluang bisnis di selatan pusat belanja Gedung Miramar, yaitu lahan bioskop Elita (Puspita), Nusantara dan Aneka. Rencananya adalah membangun sebuah pusat aktivitas yang menggabungkan bioskop dengan pusat belanja, rekreasi dan perkantoran, dan untuk melaksanakannya harus dengan kolaborasi dengan pihak swasta. Tetapi, dibalik rencana tersebut, muncul kritik bahwa proyek Kerta Wisata di eks Elita, Nusantara dan Aneka hanya memperberat beban kepadatan pusat kota (yang sebaliknya akan lebih dipuji bilamana peristiwa sejenis terjadi saat ini).

Sekitar Februari hingga April 1982 trio Elita, Nusantara dan Aneka dibongkar untuk mempersiapkan konstruksi gedung baru Alun-Alun Timur Bandung, selanjutnya diberi nama “Aneka Nusantara” yang terealisasi melalui peletakan batu pertama oleh Gubernur Jawa Barat Soehoed Warnaen dan Dirut PD Kerta Wisata Hutama Saaran pada tanggal 21 April 1982.

Pembangunan yang dilaksanakan oleh CV Chandra Gama memang berlangsung lancar. Pembangunan basement parkir “Aneka Nusantara” selesai dibangun dan mulai digunakan sekitar Maret 1983. Lantai ritel pusat belanja tersebut awalnya akan dirancang untuk pindahan pasar Jopankar dan Kota Kembang. Karena banyak pedagang pindahan tidak mampu membayar biaya sewa, akhirnya diputuskan dijual ke khalayak banyak dan laku. Sementara April 1983 diperkirakan awal dari dibangunnya gedung kantor Aneka Nusantara berlantai 8.

Ditengah jalan, nama “Aneka Nusantara” berganti menjadi Palaguna Nusantara yang amat melekat di benak masyarakat. Sekitar Oktober 1984, foto dan berita harian Pikiran Rakyat menampilkan eksterior Palaguna Nusantara yang sudah jadi, sehingga tinggal memerlukan pemolesan di dalam. Baru pada tanggal 15 Mei 1985 proyek senilai 6 milyar rupiah, kerennya dinamai Palaguna Plaza, diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat H.A. Kunaefi. Sambutan Gubernur dalam peresmiannya meminta agar pusat-pusat pertokoan disebarkan ke wilayah pinggiran untuk mengurangi beban pusat kota – dalam konteks modern bisa membuat telinga Yasinista meradang karena dianggap mengglorifikasi suburbanisasi dan budaya otomotif.

Saat diresmikan, Supermarket Hero, Department Store Matahari dan Toko Buku Gunung Agung sudah membuka usahanya disini. Matahari sendiri sudah memulai operasionalnya di Palaguna sejak tanggal 23 November 1984.

Sementara dari segi bioskop, terdapat dua bioskop yang dibuka di Palaguna Nusantara, yaitu Palaguna Theatre dan Nusantara Theatre, sama-sama menempati lantai 3 dan resmi dibuka tiga hari setelah peresmian, yaitu pada tanggal 18 Mei 1985. Sayangnya, ketika dibuka, terjadi kemelut soal tiket di bioskop Nusantara Theatre yang sedianya akan memutar film box office The Killing Fields untuk jam 14.00. Sementara Palaguna Theatre yang menayangkan film yang dibintangi Rano Karno, Ranjau-Ranjau Cinta, relatif tidak terwartakan alias berjalan lancar.


Iklan

Palaguna Plaza Simpan Banyak Memori

Pemandangan Bandung ke arah timur. Gedung Palaguna Plaza di latar depan dengan Jalan Dalem Kaum di kanan gedung
Bandung pada tahun 2005. Pusat perbelanjaan Palaguna Nusantara di tengah. Foto oleh Fahmi Mukhlis.

Bilamana Jakarta punya Aldiron Plaza dan Kebayoran Baru sebagai tempat kawula remaja Jakarta bercengkrama dan mencari eksistensinya alias ngeceng, di Bandung lokasi sejenis yang dimaksud adalah Palaguna Plaza. Namun, berbeda dengan Aldiron, Palaguna tidak banyak memiliki penghuni yang menjadi tonggak penentu tren masyarakat alias trend-setter.

Memori terkuat ada di bioskop Nusantara dan Palaguna di lantai 3, bagi kalangan muda yang hidup di tahun 1980an merupakan tempat mereka menjalin hubungan cintanya. Sementara Hero dan Matahari yang masing-masing menempati lantai 3 dan 2, menurut seseorang yang menamakan dirinya Iman Klunkerz, populer sebagai tujuan belanja terutama di saat musim Lebaran. Keadaan tersebut digambarkan tepat oleh berita Pikiran Rakyat tertanggal 24 Mei 1985 terkait musim diskon di Matahari Palaguna. Situasi senada dirasakan oleh gerai California Fried Chicken yang juga menempati lantai 3.

Saat awal perencanaan dan konstruksi, pengelola berencana untuk mendatangkan arena boling di lantai 4, tetapi saat peresmian, tidak ada sponsor untuk arena bowling. Karena inilah pihak pengelola akhirnya menjadikan lantai 4 sebagai diskotik sepatu roda bernama Lipstick (nama yang sama dengan diskotik sejenis di Blok M Jakarta), dimana di dasawarsa 1990an dan 2000an beralih fungsi menjadi arena bermain Timezone.


Iklan

Lokasi strategis bukan jaminan Palaguna Plaza bertahan

Palaguna Plaza
Palaguna Plaza yang semakin merana dan akhirnya mulai dibongkar. Foto oleh mimin SGPC

Sayangnya, era kejayaan Palaguna Plaza hanya bertahan sebentar. Ketika dibangun, Palaguna sudah menghadapi banyak saingan seperti Asia-Afrika Plaza (yang dibuka sebulan kemudian), selanjutnya Kings Shopping Centre, Bandung Indah Plaza (BIP) dan supermarket Yogya di dekat Parahyangan Plaza. Walaupun itu, Palaguna setidaknya masih menyedot pengunjung hingga awal 2000an, saat Hero, Matahari dan Timezone keluar dari pusat belanja berwarna krem dan hijau muda itu.

Keluarnya penghuni penting tersebut turut merembet ke Bioskop Nusantara dan Palaguna yang makin layu karena kalah saing dengan bioskop modern seperti XXI dan Blitzmegaplex, sehingga semakin sepi penonton dan akhirnya tutup, hanya menyisakan toko-toko kecil di lantai satu. Senjakala mal tersebut semakin terlihat dari kondisi gedung yang semakin tidak terawat, ironi dari sebuah bangunan bersejarah di lokasi strategis.

Palaguna Plaza akhirnya dibongkar pada akhir tahun 2014, dan Pemprov menyewakannya kepada perusahaan bernama PT Tirta Rajajaya untuk pengembangan superblok penerus Palaguna Plaza. Namun, bagi aktivis dan orang-orang budaya, lahan tersebut “cocoknya dijadikan lahan terbuka saja” dalam konteks kurangnya taman di Parijs van Java. Delapan tahun kemudian, Pemda memutuskan bergerak dan berencana membatalkan sewa tersebut setidaknya hingga akhir 2021, sekaligus merencanakan superblok baru yang juga menyertakan ruang terbuka hijau.

Data dan fakta

AlamatJalan Dalem Kaum, Regol, Kota Bandung, Jawa Barat
PemborongCV Chandra Gama
Lama pembangunanApril 1982 – November 1984
Diresmikan15 Mei 1985 (pertokoan)
18 Mei 1985 (bioskop)
DibongkarOktober – Desember 2014
Jumlah lantai7 lantai
1 basement
Biaya pembangunanRp. 6 milyar (1985)
Rp. 109,4 milyar (inflasi 2022)

Referensi

  1. hers (1982). “Alun-alun Timur Bandung akan jadi “Sapi Perah” Baru.” KOMPAS, 6 Februari 1982, hal. 1
  2. pun (1982). “Mulai Dibangun, Alun-Alun Timur Bandung.” KOMPAS, 23 April 1982, hal. 8
  3. Zulkarnaen (foto) (1984). “Palaguna Nusantara.” Pikiran Rakyat, 31 Oktober 1984
  4. “Sore Ini Gubernur Jabar Resmikan ‘Palaguna Nusantara’.” Pikiran Rakyat, 15 Mei 1985
  5. “Pusat Perbelanjaan Mendatang Agar Diarahkan ke Pinggiran.” Pikiran Rakyat, 17 Mei 1985
  6. “Penonton Kecewa Setelah Antri Tak Dapat Karcis.” Pikiran Rakyat, 20 Mei 1985
  7. “Pusat Pertokoan di Bandung Mulai Diserbu Pengunjung.” Pikiran Rakyat, 24 Mei 1985
  8. Iklan Palaguna Theatre dan Nusantara Theatre, Pikiran Rakyat, 17 Mei 1985, hal. 12
  9. Imgar (2008). “Bandung di kala 80-an.” Lapanpuluhan Blogspot, 29 Agustus 2008. Diakses 12 Juli 2022 (arsip)
  10. Herlambang Jaluardi (2010). “Suasana Hari Minggu Tak Seperti Dulu.” KOMPAS Jawa Barat, 29 Maret 2010, hal. A
  11. Iman Klunkerz (2014). “Runtuhnya Kejayaan Palaguna Plaza.” Buruan.co, 30 Oktober 2014. Diakses 12 Juli 2022 (arsip)
  12. Agung Bakti Sarasa (2021). “8 Tahun Terbengkalai, Lahan Eks Palaguna Plaza Bandung Bakal Dibangun 2022.” Seputar Indonesia, 13 November 2021. Diakses 12 Juli 2022 (arsip)
  13. “Optimis “Aneka Nusantara” Selesai Pertengahan ’84.” Pikiran Rakyat, 1 Maret 1983
  14. Foto di rubrik Hallo2 Bandung. Pikiran Rakyat, 12 Juni 1983
  15. Daftar gerai Matahari per 31 Desember 2001, diarsip 3 September 2004

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *