Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Hotel Borobudur Jakarta, atau dulunya bernama Hotel Banteng (era Bung Karno) dan Hotel Borobudur Intercontinental (1973-1990an), adalah sebuah hotel mewah berlantai 18 dengan jumlah kamar saat ini mencapai 695 kamar per 2020. Hotel Borobudur dirancang oleh arsitek Perancis yaitu Damery, Vetter et Weil bersama dengan perancang struktur dari Coyne et Bellier dan dibangun oleh pemborong Cicofrance dari tahun 1971 hingga 1974, dan dilanjutkan oleh tim arsitek lokal dari Jasa Ferrie Partners dan pemborong Decorient Indonesia dari 1983 sampai 1986 untuk Garden Wing.

Hotel Borobudur
11 tahun diperlukan membangun hotel ini. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sejarah Hotel Borobudur Jakarta: Mahakarya Friedrich Silaban yang gagal berdiri

Awal pembangunan (1962-1974)

Jelang perhelatan Asian Games 1962, pada 15 Agustus 1962, pembentukan PT Hotel Banteng oleh beberapa pengusaha nasional dan Pemerintah DKI Jakarta sudah mendapatkan tanda tangan notaris dan berbadan hukum. Proyek tersebut sudah direncanakan berlantai 15 dan memiliki 220 kamar, dengan desain arsitektur dirancang oleh Friedrich Silaban, menurut laporan harian Merdeka. Proyek yang direncanakan bernilai antara Rp. 2 milyar hingga 6 milyar nilai 1962-63 itu, oleh Pemerintah DKI Jakarta, dicanangkan sebagai proyek contoh kerjasama swasta. Hotel Banteng direncanakan dibangun di atas perumahan para perwira AD RI di selatan Lapangan Banteng.

Butuh setahun bagi pengelola PT Hotel Banteng merealisasikan proyek ambisius itu. Pada tanggal 20 Mei 1963, Gubernur DKI Jakarta Dr. Soemarno memulai proyek pembangunan Hotel Banteng, yang sekarang berlantai 16 lantai. Proyek yang disebut terealisasi atas campur tangan Presiden Soekarno itu dibangun oleh Adhi Karya, ditujukan untuk meremajakan cakrawala kota Jakarta sekaligus menjamu para tamu VIP yang datang ke Indonesia – kata laporan majalah Southeast Asia Building (Oktober 1974). Dua tahun kemudian di bulan Juli 1965, harian KOMPAS mewartakan rencana kawasan bisnis di sekitar Hotel Banteng dengan nama Bung Karno Centre. Pada 8 Juli 1965, pengelola Hotel Banteng, yaitu PT Hotel Banteng, menandatangani kontrak dengan perusahaan Italia untuk memasok tenaga ahli dan perlengkapan konstruksi. Pinjaman dana pembangunan Hotel Banteng juga berasal dari Italia.

Hotel Borobudur di tahun 1970an. Foto: tidak diketahui, disadur dari “Welcome to Jakarta”, Editions Delroisse Montreal.

Namun, masalah muncul semenjak krisis ekonomi dan politik mengganyang Indonesia. Sejak Juni 1966 proyek Hotel Banteng mangkrak di tahap penanaman pondasi[mfn]Southeast Asia Building (SEA BME) pada tahun 1974 menyebutkan konstruksi Hotel Banteng baru sampai lantai lima[/mfn]. Bahkan pengambilan barang dari Tanjung Priok saja tidak bisa dilakukan, salah satunya berefek kekecewaan dari seniman Indonesia jebolan Cekoslowakia yang karyanya tidak pernah diambil pemborong hotel.

Cicofrance (nama panjang Compagnie française de coopération économique), sebuah pemborong Perancis, menyelamatkan Hotel Banteng dari kemangkrakkan abadi, setelah menang tender untuk kerjasama modal pada tahun 1969. Tetapi konstruksi penuhnya baru dimulai pada 29 Januari 1970 dalam sebuah upacara peresmian pembangunan Hotel Banteng oleh Presiden Soeharto. Dalam proses pembangunan gedung ini, Dirjen Kehakiman dan Akademi Hukum Militer harus pindah dari tempat yang sekarang menjadi bagian dari Hotel Borobudur.

Direncanakan dibuka pada tahun 1971, proyek Hotel Banteng mengalami sedikit perlambatan. Pada 6 Maret 1973, Menteri Perhubungan Frans Seda mengumumkan pergantian nama hotel menjadi Hotel Borobudur Intercontinental, dan mengatakan bahwa proyek diselesaikan oleh Intercontinental Group, karena Cicofrance dianggapnya tidak bisa menyelesaikan kewajiban perampungan gedung tersebut. Penggantian nama tersebut diresmikan oleh Menhub Emil Salim, dua bulan kemudian pada 3 Mei 1973.

Agar Hotel Borobudur cepat selesai pembangunannya, terutama dengan pertemuan PATA 1974 yang saat itu akan dilangsungkan di hotel ini, kerjasama Cicofrance-Perhotelan Banteng Baru dihentikan Menhub dan formasi saham barupun dibentuk pada 17 Maret 1973, dimana Bank Dagang Negara, Pemerintah Republik Indonesia, International Finance Corporation dan Intercontinental Hotels Group masuk memegang saham perusahaan ini bersama dengan Cicofrance dan Perhotelan Banteng Baru. Komposisi pemegang saham inilah yang menjadi cikal bakal PT Jakarta International Hotels & Development.

Proyek Hotel Borobudur berjalan mulus kembali. Pada 8 Januari 1974, eksterior Hotel Borobudur Intercontinental dikabarkan telah rampung, tetapi interiornya masih disiapkan untuk mengejar peresmian pada 1 Maret 1974. Tetapi, peresmian hotel ini baru dilakukan pada 23 Maret 1974 oleh Presiden Soeharto (bersamaan dengan peresmian Hotel Sahid Jaya, perluasan Hotel Indonesia dan Balai Sidang Jakarta), dengan 600 dari 866 kamar yang dibuka terlebih dahulu untuk persiapan rapat PATA 1974. Sisa kamar lainnya dibuka belakangan hari di tahun 1974.


Iklan

Pasca-pembangunan (1974-sekarang)

Hotel Borobudur Garden Wing, 1986
Garden Wing Hotel Borobudur diarahkan ke pemandangan kolam renang, 1986. Foto oleh PT Tunas Kwarta Cipta/Majalah Konstruksi No. 100, Juli 1986

Pasca perjuangan lebih dari 11 tahun untuk pembangunan gedung hotel utamanya, kemajuan Hotel Borobudur Inter-Continental tidak berhenti sampai di sana saja. Ketika dibuka, pengelola hotel menyediakan 40 unit suite apartemen di lantai empat dan lima, tetapi kebutuhan unit tersebut sangat tinggi, terutama di kalangan ekspatrat luar negeri. Maka, di tahun 1979 Hotel Borobudur Inter-Continental melaksanakan kajian kelayakan untuk pengembangan sebuah apartemen servis.

Pada tahun 1983, sayap Garden Wing Hotel Borobudur, berlantai 7 dengan 3 blok, dibangun tak hanya sebagai kamar hotel tetapi juga sebagai apartemen dengan 140 unit. Pembangunan Garden Wing dilakukan oleh Decorient Indonesia, mulai pertengahan 1983 hingga selesai secara bertahap pada bulan Mei hingga Juni 1986.

Artinya ada 1006 kamar di Hotel Borobudur secara keseluruhan saat itu, dan untuk pertama kalinya perluasan Hotel Borobudur dilakukan oleh perancang dan pemborong Indonesia, sekaligus mewarnai blantika sejarah apartemen di Jakarta di paro kedua 1980an (bersama dengan Apartemen Calindra, Park Royale, Apartemen Senopati dan Apartemen Sultan). Bersamaan dengan pembangunan Garden Wing, gedung utama hotel rancangan Damery, Vetter & Weil berikut fasilitasnya mulai menjalani renovasi secara bertahap.

Di dasawarsa 1980an, Hotel Borobudur juga berencana membangun pertokoan dan menara perkantoran kembar berlantai maksimal 18, 3 lantai pertokoan dan 15 kantor. Alasannya, menurut manajer umum Borobudur Inter-Continental kala itu Rene Protto kepada majalah Southeast Asia Building (September 1986), “karena hotel ini dekat dengan pusat pemerintahan, dan perkantoran terkait menjadikan pilihan tanah yang pas [untuk pengembangan]….. Konsep kami adalah menyediakan kantor berfasilitas lengkap dan berlokasi strategis untuk perusahaan.”

Proyek tersebut bernama Borobudur Plaza, yang memiliki potensi besar mentransformasikan Borobudur Inter-Continental menjadi superblok keempat setelah Gajah Mada Plaza, Ratu Plaza dan Jayakarta Plaza sekaligus mengulang konsep Bung Karno Centre 20 tahun sebelumnya. Sayangnya, rencana Borobudur Plaza hanya sebatas angan karena ruang perkantoran di Jakarta terlalu melimpah saat proyek tersebut dicanangkan.

Dalam tahap renovasi. Foto: Sumardi/Properti Indonesia

Pada bulan September 1995, Hotel Borobudur Inter-Continental mengumumkan renovasi kedua yang berlangsung besar-besaran, yang membuat sebagian hotel tersebut rehat operasional sementara; renovasi dimulai Oktober 1995. Garden Wing tidak mengalami renovasi. Renovasi tersebut selesai dilaksanakan pada tahun 1997; Presiden Soeharto meresmikan kembali Hotel Borobudur pada 11 November 1997.

Sejak April 1999 Hotel Borobudur dimiliki oleh Tomy Winata dan Grup Artha Graha (sosok ini dikenal sangat kontroversial di Bali). Belum ada catatan kapan manajemen InterContinental Hotel Group purnatugas dari Hotel Borobudur dan pindah pengelolaan ke Midplaza, sekaligus menjadikan hotel besar ini bagian dari Discovery Hotels & Resorts.


Iklan

Sekilas arsitektur dan profil Hotel Borobudur: Gedung rancangan arsitek Perancis mirip rumah lamin

Hotel Borobudur
Dirancang oleh Silaban? Anda salah besar…….! Foto oleh mimin SGPC

Berlokasi di selatan Lapangan Banteng, hotel besar dan megah berlantai 18 ini dirancang oleh tim arsitek dari Perancis Damery, Vetter et Weil dan strukturnya dirancang oleh Coyne et Bellier, menggantikan rancangan Frederich Silaban (Bank Indonesia Gambir, Gedoeng BNI) yang tidak dipakai oleh PT Perhotelan Banteng Baru dan Cicofrance saat proyek kembali dilanjutkan. Sedang Garden Wingnya yang hanya berlantai 7 dan memiliki 3 blok dirancang oleh Raysoeli Moeloek dari Jasa Ferrie Partners, dan strukturnya oleh Wiratman & Associates.

Saat ini (November 2023), SGPC belum mengetahui makna desain yang diusung Damery, Vetter et Weil, tetapi pewarta majalah ekonomi bulanan Progress, pada tahun 1974, menyebutkan bahwa Hotel Borobudur memiliki arsitektur mirip dengan lamin alias rumah panjang ala orang Kalimantan. Hotel dengan 695 kamar tersebut juga merupakan contoh arsitektur Indonesia di dekade 1970an.

Sementara Garden Wing rancangan Jasa Ferry Partners secara arsitektur mengusung sentuhan arsitektur tradisional Indonesia dengan bentuk yang abstrak, dimiringkan agar pemandangan kolam renang terlihat. Karena kontras dengan desain modern usungan Damery, Vetter et Weil, maka perancang apartemen tersebut mengakalinya dengan membangun koridor yang difungsikan sebagai penghubung antara lobi hotel dengn apartemen.

Di gedung utama karya Damery, Vetter et Weil inilah terdapat 10 jenis kamar dari kamar terkecil (Superior, 32 m persegi) hingga suite terbesar (Presidential Suite 225 m persegi), sementara di Garden Wing hanya ada 3 jenis kamar yang dibedakan berdasarkan jumlah kasur yang ada. Tidak ada informasi pembagian jumlah kamar.

Saat dibuka, Hotel Borobudur (Agoda/Booking) tercatat, dalam iklannya yang menghabiskan 4 halaman di harian Sinar Harapan terbitan 3 April 1974, memiliki rumah makan Restoran Indonesia Mataram, Toba Rotisserie yang menyajikan masakan Eropa, rumah makan Jepang Keio, rumah makan kebun Bogor Brasseries dan kedai minum Pendopo Bar. Walau secara garis besar hanya berubah nama (Keio sekarang bernama Miyama, Bogor Brasseries sekarang menjadi Bogor Cafe dengan fokus makanan lokal, menggantikan Restoran Indonesia Mataram, atau Toba Rotisserie yang menjadi kedai Italia Bruschetta), terdapat beberapa rumah makan dan bar baru seperti Churchill Wine & Cigar Bar dan Teratai Chinese Restaurant.

Hotel Borobudur saat ini memiliki 12 ruang rapat dan Flores Ballroom yang diklaim bisa menampung maksimal 3000 orang.


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaHotel Banteng
Hotel Borobudur Inter-Continental
AlamatJalan Lapangan Banteng Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jakarta
Arsitek (gedung utama)Damery, Vetter et Weil (arsitektur)
Coyne et Bellier (struktur)
Arsitek (Garden Wing)Raysoeli Moeloek (Jasa Ferrie Partners, arsitektur)
Wiratman & Associates (struktur)
Pemborong (gedung utama)Adhi Karya (1963-1960an)
Cicofrance (1969-1974)
Pemborong (Garden Wing)Decorient Indonesia
Lama pembangunan (gedung utama)Mei 1963 – Maret 1974
Lama pembangunan (Garden Wing)pertengahan 1983 – Juni 1986
Jumlah lantai (gedung utama)18 lantai
Jumlah lantai (Garden Wing, 3 blok)7 lantai
Jumlah kamar695
Biaya pembangunan (gedung utama)USD 28 juta (modal tertanam pada 1973)
Rp 11,4 milyar (kurs 1973)
Rp 1,11 triliun (inflasi 2023)
Biaya pembangunan (Garden Wing)USD 27 juta (1986)
Rp 30,1 milyar (kurs 1986, per Berita Yuda 30/7/1986)
Rp 535 milyar (inflasi 2023)
Referensi: Gilbert Weil; KOMPAS; Sinar Harapan 3/4/1974; Majalah Konstruksi Mei 1986

Referensi

  1. ANTARA/KOMPAS (1965). “Bung Karno Centre”. KOMPAS, 9 Juli 1965, hal. 1
  2. “Inilah Collosseum di Djakarta”. KOMPAS, 7 Januari 1967, hal. 1
  3. ANTARA (1969). “Pembangunan Kembali Hotel Banteng Dimulai Hari Ini”. KOMPAS, 1 April 1969, hal. 2
  4. thn (1970). “Pembangunan Kembali Hotel Banteng: Hotel Terbesar di Indonesia Selesai Achir Djuni 1971.” KOMPAS, 30 Januari 1970, hal. 1 dan 7
  5. rb (1973). “”Hotel Banteng” Dirubah Jadi “Hotel Borobudur Inter-continental”.” KOMPAS, 7 Maret 1973, hal. 12
  6. Mk (1973). “Pembangunan Hotel Borobudur Dilanjutkan”. KOMPAS, 20 Maret 1973, hal. 2
  7. Mk (1973). “Hotel Borobudur Harus Selesai Februari 1974.” KOMPAS, 4 Mei 1973, hal. 1
  8. Mk (1974). “Borobudur Inter-Continental Diresmikan 1 Maret.” KOMPAS, 9 Januari 1974, hal. 2
  9. psc (1974). “Hotel ‘Borobudur’ Akan Diresmikan”. KOMPAS, 11 Maret 1974, Hal. 3
  10. Advertorial (1974). “Hotel Inter-Continental Terbesar di Asia Dibuka di Jakarta”. Sinar Harapan, 3 April 1974, hal. 5-8
  11. Wlh/A-5 (1995). “Hotel Borobudur Inter-Continental Akan Punya Wajah Baru”. Suara Pembaruan, 22 September 1995
  12. “Apa Siapa: Pengoperasian Kembali”. KOMPAS, 16 November 1997, hal. 11
  13. GUN (1999). “Kilasan Ekonomi: Hotel Borobudur Dimiliki Tomy Winata”. KOMPAS, 1 Mei 1999, hal. 2
  14. Mac (1995). “HUT Borobudur”. Media Indonesia, 21 Maret 1995
  15. Arsitektur Indonesia (arsip)
  16. “Garden Wing Hotel Borobudur: Berstandar internasional dengan citra Indonesia.” Majalah Konstruksi, Mei 1986, hal. 21-28
  17. “Borobudur Memburu Ketenaran”. Progres No. 61, Desember 1974, hal. 36-38
  18. Website arsitek Gilbert Weil (arsip)
  19. “In Praise of One of the Wonders of the World”. Building Materials & Equipment Southeast Asia, Oktober 1974. Diakses via web Gilbert Weil (arsip). Hanya ada dua halaman. Bila anda memiliki isi lengkapnya, mohon kirimkan scan majalahnya melalui kolom komentar.
  20. Website resmi Hotel Borobudur
  21. Harian Merdeka (1962). “Hotel “Banteng.” Merdeka, 21 Agustus 1962, hal. 2
  22. ANTARA (1963). “Tiang Pertama Projek Hotel Banteng Dipantjangkan.” Merdeka, 21 Mei 1963, hal. 2
  23. “The Garden Wing, a Garden Home in the heart of Jakarta” (Garden Wing, istana taman di jantung Kota Jakarta). Southeast Asia Building, September 1986, hal. 14-23
  24. “The Borobudur Inter-Continental, Blending the Ancient with the Modern” (Borobudur Inter-Continental, memadukan kesenian tradisional dengan modernisme). Southeast Asia Building, September 1986, hal. 24-39
  25. “Jakarta’s Highrise Extension” (Gedung tinggi perluasan di Jakarta). Southeast Asia Building, Desember 1985, hal. 65-67

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *