Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Semua orang mengenal Hotel Indonesia Kempinski, hotel mewah bersejarah yang berdiri megah dan kini menjadi mini diantara menjulangnya pusat belanja Grand Indonesia. Hotel yang saat ini dimiliki oleh Grup Djarum melalui skema BOT dengan Hotel Indonesia Natour, tuan tanah Hotel Indonesia, dan dikelola oleh Kempinski Hotels, kini terdiri dari dua gedung utama dan satu gedung pendukung, yaitu Ramayana Terrace, dengan total kamar yang ditawarkan sebanyak 289 buah. Hotel Indonesia juga merupakan gedung tinggi kedua di Indonesia – andai kantor Bapindo juga disertakan dalam diskursus sejarah gedung pencakar langit Indonesia.

Hotel Indonesia
Panorama penuh Hotel Indonesia bersama Monumen Selamat Datang. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sejarah Hotel Indonesia: Indonesia perlu hotel bergengsi

Proyek Hotel Indonesia lahir oleh ide Presiden Soekarno yang menginginkan sebuah hotel berkelas internasional yang representatif di Jakarta, yang saat itu, sebagai ibukota Republik Indonesia merdeka, belum memiliki hotel yang memiliki gengsi tersebut. Saat itu hotel yang paling top di ibukota baru Hotel des Indes alias Hotel Duta Indonesia di Harmoni, yang akhirnya menjadi korban dari persaingan pasar hotel dalam negeri dan dibongkar untuk membangun Duta Merlin yang kontroversial.

Menurut Arifin Pasaribu, sebelum membangun Hotel Indonesia, Bung Karno memanggil Margono Djojohadikusumo, tokoh perhotelan nasional, untuk menentukan lokasi pembangunan hotel mewah tersebut. Lokasi saat ini dipilih karena dekat dengan Menteng dan Kebayoran Baru, dimana jalan penghubung kedua lokasi tersebut masih didominasi perkebunan. Sutikno Lukitodisastro, Dubes RI untuk Selandia Baru era Orde Baru, menangani pembebasan lahan tersebut.

Informasi mengenai Hotel Indonesia di kalangan media massa baru diketahui sejak 1956, paling awal laporan Merdeka pada Maret 1956 yang menyatakan bahwa Bank Industri Negara akan membangun hotel berlantai 8 di Jalan Thamrin, Jalan Biliton, Jalan Irian dan Jalan Gresik (Jalan Sutan Syahrir sekarang). Saat itu pemilihan lahannya baru disetujui oleh Dewan Perwakilan Kota Sementara. Java Bode, koran berbahasa Belanda, mencatat proyek HI sudah digodok paling awal November 1954 sebelum karyanya dipamerkan 18 bulan kemudian.

Sebulan kemudian, Bank Industri Negara baru memajang maket Hotel Indonesia rancangan Abel R. Sorensen bersama istrinya Wendy dan insinyur struktur Edgardo Contini, yang ditunjuk merancang gedung pencakar langit pertama di Jakarta dan Indonesia ini. Arsitek Denmark ber-KTP Amerika Serikat tersebut diundang oleh pihak PT PP, tim arsitek HI, sebagai perancang. Kondisi yang carut marut, ditambah dengan kondisi tanah berawa, menyebabkan proyek HI berjalan lambat hingga 1958, dimana “dana jatuh dari langit” berupa pinjaman dari Jepang akhirnya turun.

Pembangunan dilaksanakan dalam bentuk kerjasama antara PT PP dengan Taisei Corporation dengan masa konstruksi dimulai dari bulan Desember 1959 hingga selesai pembangunannya pada bulan Juli 1962 (catatan PT PP 2004), mengerahkan paling banyak 1.200 tenaga konstruksi baik terampil maupun non-terampil, sudah termasuk tenaga kerja asing dari Jepang untuk Taisei, non-stop. Di balik layar, pengelola Hotel Indonesia mempersiapkan karyawan-nya di Bandung, dan dibantu oleh tenaga ahli dari Intercontinental Hotels Corporation, anak usaha maskapai penerbangan Pan-American Airways, yang akan mengelola Hotel Indonesia hingga 12 tahun ke depan.

Pembangunan hotel yang biaya pembangunannya mencapai Rp. 4 milyar (uang lama), menurut Pasaribu, benar-benar dikontrol penuh Soekarno. Pemakaian AC di lantai 14 wing Ramayana, yang diuntukkan sebagai suite yang awalnya hanya menggunakan udara alami, penggunaan eksterior berwarna hijau dan fungsi kedua awal awal Bali Room sebagai pusat pengembangan kebudayaan dan kesenian yang bukan merupakan bagian dari kontrak antara HI dan InterContinental, adalah hasil campur tangan Presiden pertama Republik Indonesia dalam konstruksi hotel bersejarah itu.

Selain itu, muncul tantangan dari awak pembangunan, seperti yang terjadi pada bulan November 1961, saat polisi mengamankan 17 tenaga konstruksi terkait pencurian bahan-bahan konstruksi di Hotel Indonesia, hingga para direksi, seperti berhembus isu manipulasi uang pembangunan HI sebesar 200 juta rupiah (uang lama) yang dibantah oleh pemilik HI saat itu, Bank Industri Negara, di tahun 1960.


Iklan

Operasional awal (1962-1981)

Hotel Indonesia, 1968. Foto J.G. Ohler/Nationaal Museum van Wereldculturen
Eksterior HI pada tahun 1968. Foto oleh J.G. Ohler/Nationaal Museum van Wereldculturen via Collectie Nederland (TM-20018039), CC-BY-SA 4.0

Hotel Indonesia Inter-Continental, begitu nama awalnya, mulai beroperasi pada 16 Juli 1962 dengan menerima tamu pertama mereka, Robert Atwell (Nama yang naik di pemberitaan Merdeka terbitan 17 Juli 1962. Sejak 1987, penulisan nama marga Robert Atwell bergeser, dari Suara Pembaruan di tahun 1987 – “Robert Atwelt”, Media-media kontemporer Indonesia – “Robert Atwalt”, hingga Arifin Pasaribu – “Robert Atwet”), pegawai Yayasan Rockefeller, yang datang naik becak. Ketika dibuka, hotel tersebut baru memiliki 436 kamar, dua wing gedung, Pavilion Ramayana dan Bali Room.

Malamnya, jajaran pemerintahan beserta sanak keluarganya, total 120 orang, secara simbolis menginap di hotel yang kelak akan disiapkan untuk gelar Asian Games yang berlangsung Agustus nanti. Saat itu, penjatahan ruang hotel terpecah ke 10 persen untuk tamu dalam negeri, dan sisanya untuk tamu asing, sesuai dengan visi-misi Hotel Indonesia sebagai pencetak devisa negara yang saat itu bisa dikatakan ekonominya sedang morat-marit karena tidak memiliki sumber pendapatan utama.

Tepat pada tanggal 5 Agustus 1962, beberapa hari jelang 17 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan pembukaan Asian Games keempat 1962, Hotel Indonesia diresmikan oleh Presiden Soekarno. Selama Asian Games 1962, hotel kelas internasional pertama Jakarta tersebut menarik minat banyak wisatawan, termasuk menjadi kantor dan kediaman resmi pejabat Asian Games Federation selama perhelatan berlangsung.

Pasca-perhelatan, cukup banyak wartawan media asing dan pejabat-pejabat baik dalam maupun luar negeri yang berlangganan kamar Hotel Indonesia, atau Nirwana Supper Lounge, sebuah lounge mewah yang menjadi pilihan para jetset ibukota. Nirwana Lounge sendiri diperkirakan dibuka selepas Asian Games 1962. Tak hanya populer di kalangan jetset, HI menjadi tempat syuting dan berkarya beberapa seniman dan sineas terkemuka Tanah Air.

Kontrak manajerial Hotel Indonesia dengan InterContinental berlangsung 14 tahun, pertama selama 5 tahun sejak dibuka pada 1962 hingga diperpanjang 5 tahun lagi pada 1967 hingga 1972. Namun keberadaan InterContinental di HI belum sepenuhnya berakhir hingga 1974, dengan dibukanya Hotel Borobudur InterContinental di Lapangan Banteng. Indonesianisasi hotel berusia 12 tahun tersebut lengkap dengan digantinya D.N. Coleman (manajer HI 1972-74, Selandia Baru) dengan Peter J. Soehardjo.

Hotel Indonesia, setelah 1974
Hotel Indonesia dengan wing Bali, setelah 1974.
Foto: Hotel Indonesia untuk majalah Pola

Pada waktu bersamaan Hotel Indonesia memperluas hotel mereka untuk persiapan perhelatan Konferensi Pacific Asia Tourism Association 1974. Bertempat di bekas lapangan parkir dekat Bali Room, wing tersebut bernama Bali Wing, memiliki 8 lantai dan 230 kamar, pembangunannya kembali dilakukan PT Pembangunan Perumahan dari bulan April 1972 hingga bulan Maret 1974. Bersamaan dengan penambahan ruang tersebut, HI menambah dan merombak beberapa ruangan dan fasilitas, termasuk penambahan ruang pertemuan baik di lantai bawah dan lantai 14, relokasi ruang lobi ke Ganesha Wing dan pemanfaatan ruang rapat lantai 8 menjadi rumah makan khas Jepang Oriental Restarant.

Bali Wing diresmikan oleh Presiden Soeharto, bersamaan dengan peresmian Hotel Borobudur dan Hotel Sahid Jaya, pada 23 Maret 1974. Untuk menyukseskan program Konferensi PATA 74, HI menyiapkan 375 kamar untuk peserta Konferensi PATA dan 80 untuk peserta seminar.

Mulai 14 Maret 1977 hingga 31 Desember 1981, Hotel Indonesia membawa bendera Sheraton setelah kontrak waralaba antara jaringan hotel asal Amerika dengan Hotel Indonesia Natour diteken per 14 Maret 1977. Tidak seperti kontrak sebelumnya dengan InterContinental, kontrak tersebut hanya untuk pemasaran dan pemesanan kamar hotel oleh Sheraton untuk pasar global. Sekitar tahun 1981, catat HI kepada Majalah Konstruksi, dilakukan renovasi bertahap yang diawali dengan renovasi kamar di Wing Ramayana.


Iklan

Pengelolaan mandiri, masa surut hingga renovasi (1982-2009)

Pasca-selesainya kontrak HI-Sheraton, hotel legendaris tersebut masih melakukan renovasi secara bertahap. Per 1987, hotel yang kini berusia 25 tahun telah menyegarkan penampilannya, mulai dari perluasan lobi hotel dengan atap rangka ruang buatan Mero, renovasi kamar hingga perubahan susunan front office dan fasilitas rumah makan di lantai 1. Renovasi tersebut disebu menghabiskan 8 milyar rupiah (1987 atau setara Rp. 126 milyar nilai 2023). Di masa 1980an, pangsa pasar HI bergeser dari sekedar wisatawan dalam dan luar negeri, menjadi hotel pilihan wisatawan domestik, pejabat, penyelenggara pernikahan hingga kaum jetset; terutama Bali Room dan Restoran Ramayana.

Hotel Indonesia, 1988
Monumen Selamat Datang bersama dengan Hotel Indonesia setelah direnovasi, 1988.
Foto oleh Harry Suwandito/Majalah Sarinah.

Pada tahun 1993, Hotel Indonesia menjadi salah satu gedung arsitektur modern yang mendapat status cagar budaya dari Pemprov DKI Jakarta, yang cukup menarik mengingat usianya baru 31 tahun, dan status tersebut masih domain bangunan era pra-kemerdekaan. Tetapi, dengan kehadiran banyak hotel-hotel berbintang milik swasta lain di dekade Dilan, lamban laun HI kehilangan pesonanya, bahkan tercatat oleh salah satu penulis di harian KOMPAS, Pingkan Elita Dundu, mencatat renovasi tambal sulam hotel ikonik ibukota tersebut semakin memperberat kondisi fisik dan pelayanan. Bahkan, saat krisis moneter 1997-98, Hotel Indonesia dikabarkan melempar tarif hotel super murah.

Nasib suram HI tersebut sedikit tertolong oleh perbaikan kondisi keuangan di awal tahun 2000, tetapi Grup Djarum menjadi malaikat penyelamat HI yang makin kurang terurus. Pada bulan Februari 2004, salah satu anak usahanya menandatangani kesepakatan “build, operate & transfer” dengan Hotel Indonesia Natour, untuk mengembangkan Hotel Indonesia dengan Hotel Wisata di sebelahnya. Pihak Grup Djarum mengatakan bahwa keputusan BOT tersebut demi melestarikan keberadaan HI.

Hotel Indonesia tutup mulai 30 April 2004 dan dengan berat hati harus merumahkan 1.164 karyawannya di tengah penolakan PHK yang dilancarkan. Renovasinya dimulai Agustus 2004 (laporan Indonesia Design), dengan Duta Graha Indah dan Totalindo Eka Persada sebagai kontraktornya, hingga selesai keseluruhan sekitar 2008 dengan dibukanya Bali Room hasil direnovasi sejak September 2008, sementara hotelnya mulai dibuka kembali dibawah manajemen Kempinski (kedua di Jakarta) sejak 28 Februari 2009. Dalam renovasi tersebut, wing Bali HI dibongkar dan menjadi bagian dari mal Grand Indonesia.


Iklan

Komentar kritis

Hotel Indonesia sebagai bangunan tinggi sejati pertama di tanah air dan juga hotel standar internasional mendapat berbagai pendapat dari masyarakat, baik sisi positifnya, maupun negatifnya.

Sisi positif Hotel Indonesia dilihat dari sisi-sisi patriotisnya. Arifin Pasaribu mencatat alasan-alasan pembangunannya seperti mendongkrak nama Indonesia di mata dunia, cermin kepribadian bangsa dan menjadikannya sebuah etalase kebudayaan dengan penggunaan banyak karya-karya seni buatan dalam negeri.

Pengusaha nasional zaman Orde Lama, Koesmono, menyebut bahwa pembangunan hotel merupakan bagian dari mata rantai perekonomian nasional, yang pada akhirnya menguntungkan perekonomian dan posisi politik Indonesia. Nasionalisme dalam kehadiran HI inilah yang menyebabkan gedung ini menerima anomali sebagai cagar budaya, padahal bangunan ini dirancang dengan langgam modernisme yang umumnya sulit dijadikan cagar budaya di Indonesia.

Namun, sisi negatifnya malah sangat banyak. Hotel tersebut dibangun di saat seharusnya pemerintah membangun infrastruktur dasar, bukan dengan membangun proyek prestisius, sehingga muncul cibiran baik di dalam maupun di luar negeri.

Rudy Badil, dalam tulisannya di harian KOMPAS pada 1 Mei 2004 menyinggung krisis listrik yang terjadi di Jakarta di tahun 1960an, sementara Hotel Indonesia memiliki generator, sehingga muncul istilah Hotel Transistor. Arifin Pasaribu mencatat bahwa salah satu koran Metro Manila menyindir Indonesia yang seolah membangun sebuah hotel sejenis HI ibarat RMS Queen Mary di tengah lautan Atlantik.


Iklan

Profil hotel

Dengan informasi yang cukup mendalam dari Hotel Indonesia, mimin SGPC membaginya ke dalam dua bagian, yaitu arsitektur dan profil hotel.

Arsitektur dan struktur

Nuansa Masa Lalu
Eksterior bagian selatan. Foto oleh mimin SGPC
Eksterior bagian selatan Hotel Indonesia, 1971. Foto Boy Lawson/Nationaal Museum van Wereldculturen
Sisi selatan dari Hotel Kartika Plaza, 1971. Terlihat kubah Restoran Ramayana yang sekarang adalah Ramayana Terrace. Foto oleh Boy Lawson/Nationaal Museum van Wereldculturen via Collectie Nederland (TM-20027543)/CC-BY-SA 4.0

Hotel Indonesia Kempinski saat ini terdiri dari dua wing, yaitu Ramayana dan Ganesha, dan dua gedung tambahan, yaitu rumah makan Ramayana dan Bali Room. Antara 1974 hingga 2004, HI memiliki wing Bali yang kini digusur untuk selanjutnya dibangun mal Grand Indonesia. Wing Ramayana memiliki 14 lantai dan tinggi 52 meter atau 170 kaki (The New York Times), melintang dari arah barat ke timur membelakangi matahari, menyediakan pemandangan kota ke utara dan selatan (saat ini pemandangan ke selatan tertutup mal Grand Indonesia), sementara wing Ganesha dan wing Bali yang sama-sama memiliki 8 lantai memiliki posisi yang berbeda.

Wing Ganesha dibangun membujur utara ke selatan, secara langsung menghadap arah matahari terbit, demi menawarkan pemandangan kota ke barat dan timur. Wing Ganesha awalnya direncanakan hanya memiliki 4 lantai. Di selatan wing Ramayana adalah Restoran Ramayana yang menonjol berkat atap berbentuk daun dan relief wanita Bhinneka Tunggal Ika buatan Soedarsono dkk., dan di barat wing Ganesha adalah Bali Room berbentuk ellips berukuran 45 x 23 meter untuk konferensi dan acara kebudayaan.

Perancangan HI disesuaikan dengan kondisi tropis dan orientasi sinar matahari di Jakarta. Kamar-kamar di bagian selatan eksterior wing Ramayana memiliki balkon selebar 2 meter, yang diteduhkan oleh peneduh sinar berwarna krem dengan bingkai jendela dari aluminium. Jendela di eksterior utara wing Ramayana didominasi jendela dan ventilasi louvre.

Sejak Agustus 1987 hingga renovasinya di tahun 2004, HI menerima tampilan baru dengan perluasan lobi dengan kanopi berukuran jumbo, ditopang oleh rangka ruang Mero dari Jerman, disudut antara wing Ramayana dan Ganesha. Keberadaan lobi baru rancangan Atelier 6 tersebut lahir oleh tuntutan pasar pariwisata Indonesia, yang mengutamakan kapasitas dan kenyamanan yang tidak dimiliki oleh lobi lama saat dibuka di era Soekarno.

Renovasi Grand Indonesia membuat Hotel Indonesia Kempinski, nama HI sekarang, mendapatkan tampilan yang lebih segar dan ikut zaman, seperti pemakaian panel komposit dan lis stainless steel menggantikan material yang digunakan untuk mempoles gedung berusia 60 tahun di tahun 2022 ini sejak dibangun pada 1960an.


Iklan

Profil hotel

1974-2004

Dengan selesainya wing Bali dan beberapa renovasi kamar pada 1980an-90an, Hotel Indonesia memiliki 560 kamar yang terbagi ke dalam 3 kelas, yaitu kamar standar, executive dan suite presidensial. Fasilitas yang ditawarkan HI sejak 1974 tidak kalah legendarisnya seperti Nirwana Supper Club yang merupakan lounge mewah pilihan kaum jetset ibukota, Restoran Ramayana yang menyediakan masakan khas Indonesia dan kerap mengadakan acara-acara budaya, kedai kopi Java Coffee Shop, Restoran Oriental khas Tiongkok dan Yamazato Restaurant khas Jepang. Hotel legendaris tersebut juga menyediakan fasilitas kolam renang standar Olimpiade di selatan Restoran Ramayana, yang juga menyediakan kedai (Pool Terrace) dan tempat beristirahat. Tata kebun di fasilitas kolam tersebut ditanami pepohonan yang asri, diambil dari Kebun Raya Bogor.

HI memiliki cukup banyak ruangan untuk acara maupun konvensi saat itu. Seperti yang mimin SGPC bahas di bagian arsitektur, Bali Room adalah ruang sidang berbentuk ellips yang menampung maksimal 1.000 orang dalam pesta cocktail. Terdapat beberapa ruangan-ruangan sidang lain yang tersedia, seperti Madura Room, Reog Room, Barong Room, Pendet Room, Club Room dan Irian Room.

Pada tahun 1970an, HI sempat menyediakan ruang kantor dan shopping arcade. Menjelang masa penutupan, Kirana Bookstore, yang menyediakan buku-buku mengenai Indonesia, menempati salah satu lantai dasar hotel ini.

Sejak 2009

Foto Ronniecoln.

Sejak renovasi, Hotel Indonesia Kempinski memiliki 289 kamar yang terbagi ke dalam tiga jenis kamar, yaitu tipe deluxe (120 kamar), grand deluxe (68 kamar) dan executive grand deluxe (90 kamar), dan 3 tipe kamar suites (6 salon, 4 diplomatic dan 1 presidential), yang keseluruhannya dipoles dengan apik dan mewah. Beberapa fasilitas yang ada sudah disegarkan, dan terutama rumah makan, terjadi perubahan nama-nama seperti OKU khas Jepang dan Signature Restaurant dan tambahan kedai bir Paulaner Brauhaus dan Kempi Deli. Nama Nirwana dipertahankan untuk lobby lounge; dan Ganesha Executive Club Lounge disediakan untuk penghuni kamar suite.

Selain perubahan dalam lini gastronomi, fasilitas rapat dan konvensi juga berubah. Berbeda dengan tujuh ruang sidang sebelum renovasi, HI Kempinski memiliki 5 ruang rapat dan konvensi, yaitu Grand Ballroom, Bali Room, Heritage Room dan Ramayana Terrace. Ramayana Terrace merupakan konsep terbaru, memanfaatkan bekas Restoran Ramayana seluas 135 m2 sebagai penyelenggaraan acara. Grand Ballroom, fasilitas utamanya, justru berada di lantai teratas (sebelas) Mal Grand Indonesia. Hal yang sama bisa ditemukan di sasana kebugaran, spa dan kolam renang Hotel Indonesia Kempinski yang berada di atap GI.

Detail dari harian Suara Pembaruan ditambah ke artikel ini pada 1 Januari 2023


Iklan

Data dan fakta

AlamatJalan M.H. Thamrin Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta
Arsitek (desain 1959)Abel R. Sorensen & Wendy Sorensen (arsitektur)
Edgardo Contini (struktur)
Arsitek (renovasi 1987)Atelier 6
Arsitek (renovasi 2008)CallisonRTKL (arsitektur)
Anggara Architeam (architect of record)
Pemborong (J.O., 1959)Pembangunan Perumahan
Taisei Corporation
Pemborong (wing Bali dan renovasi 1987)Pembangunan Perumahan
Pemborong (J.O., renovasi 2008)Duta Graha Indah
Totalindo Eka Persada
Lama pembangunan (1959)Desember 1959 – Juli 1962
Lama pembangunan (wing Bali)April 1972 – Maret 1974
Dibongkar (wing Bali)2004
Direnovasi (1959)Agustus 2004 – September 2008
Diresmikan (1959)5 Agustus 1962
Diresmikan (wing Bali)23 Maret 1974
Dibuka (renovasi)28 Februari 2009
Jumlah lantai15 lantai (wing Ramayana)
8 lantai (wing Ganesha dan Bali)
Jumlah kamar289
Tinggi gedung (Arifin Pasaribu/The New York Times)52 meter
Biaya pembangunan~ Rp 4 milyar (1960)
SignifikasiSejarah (Diinisiasi oleh Soekarno)
Sospol (“National pride”, diinisiasi oleh Soekarno)
Arsitektur (Gedung tinggi modern pertama di Indonesia)
Struktur (Gedung tinggi modern pertama di Indonesia)
Pariwisata (Hotel mewah, ikon kota Jakarta)

Referensi

  1. “Djakarta Raya: Sebuah lagi Hotel besar untuk kota Djakarta.” Harian Merdeka, 6 Maret 1956, hal. 2
  2. “Hotel Indonesia.” Java Bode, 5 April 1956, hal. 1 (via Delpher Kranten)
  3. PIA (1961). “Indonesia Sanggup Selenggarakan Pesta Olahraga Besar2an.” Harian Merdeka, 21 Oktober 1961, hal. 3
  4. ANTARA (1962). “Komplotan “tikus” di Hotel Indonesia ditahan.” Kedaulatan Rakyat, 10 Maret 1962, hal. 2
  5. PIA (1961). “Ditahan, Beberapa Oknum Penghambat Pembangunan Hotel Indonesia.” Harian Merdeka, 13 November 1961, hal. 1
  6. PIA (1962). “Hotel Indonesia Sdh Terima Tamu.” Harian Merdeka, 17 Juli 1962, hal. 1 dan 3
  7. PIA (1962). “Hotel Indonesia Terus Penuh.” Harian Merdeka, 30 Agustus 1962, hal. 2
  8. Merdeka (1962). “Hotel Matarantai Perkemb. Ekonomi.” Harian Merdeka, 20 Juli 1962, hal. 1
  9. Iklan peresmian Hotel Indonesia, Harian Merdeka, 4 Agustus 1962, hal. 3 dan 4
  10. Arsip halaman resmi PT Pembangunan Perumahan:
    1. Hotel Indonesia, diarsip 15 April 2004
    2. Hotel-hotel lain, diarsip 13 Februari 2004
  11. “Grand Hotel Planned for Indonesia.” Progressive Architecture, November 1956, hal. 94
  12. “Hot-Climate Hotel.” Progressive Architecture, September 1957, hal. 136-137
  13. Arifin Pasaribu (2014). “Hotel Indonesia: Gagasan Bung Karno, Cagar Budaya Bangsa Dibangun Dengan Dana Pampasan Perang Jepang.” Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  14. Halaman resmi Hotel Indonesia Kempinski, diakses 29 Desember 2021 (arsip)
  15. Arsip halaman resmi Hotel Indonesia, diarsip 2 April 2004
  16. Scott Merrillees (2015). “Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980.” Jakarta: Equinox Publishing. Halaman 108-111
  17. “Hotel Indonesia Sheraton: Pelopor Perhotelan modern di Indonesia.” Majalah Pola No. 23, Oktober 1977, hal. 40-41, 90
  18. “Sistem rangka ruang Mero untuk Lobi Hotel Indonesia.” Majalah Konstruksi No. 112, Agustus 1987, hal. 30-37
  19. rb (1974). “Wakil Presiden Tinjau Hotel2 dan “Convention Hall” Selama 5 Jam.” KOMPAS, 16 Maret 1974, hal. 1, 8
  20. CallisonRTKL; Anggara Architeam (2006). “Exclusive Preview: Grand Indonesia Jakarta.” Majalah Indonesia Design vol. 3 No. 12, 2006, hal. 26-33
  21. naw; osa (2004). “Hotel Indonesia Ditutup, Ribuan Karyawan Di-PHK.” KOMPAS, 1 Mei 2004, hal. 18
  22. Pingkan Elita Dundu (2004). “Menanti Hotel Indonesia Yang Baru.” KOMPAS, 13 April 2004, hal. 19
  23. Rudy Badil (2004). “Hotel Indonesia, Ya nasib…….. ya nasib……” KOMPAS, 1 Mei 2004, hal. 19
  24. arn (2009). “Hotel Indonesia Kempinski: Sejarah Baru, Nama Baru, Tarif Baru.” KOMPAS, 22 Mei 2009, hal. 27
  25. R. Adhi Kusumaputra (2009). “Hotel Indonesia Kempinski Beroperasi Lagi.” KOMPAScom, 25 Februari 2009. Diakses 29 Desember 2021 (arsip)
  26. Bambang Priyo Jatmiko (2016). “Ini Alasan Grup Djarum Mau Kelola Kawasan Hotel Indonesia Dengan Skema BOT.” KOMPAScom, 14 Maret 2016. Diakses 29 Desember 2021 (arsip)
  27. ds (1977). “PT HII kerjasama dengan Sheraton.” KOMPAS, 15 Maret 1977, hal. 1
  28. jup (1982). “Nama “Sheraton” Ditanggalkan.” KOMPAS, 5 Januari 1982, hal. 8
  29. ANTARA; Merdeka (1960). “Tinggi “Hotel Indonesia” Tetap 14 Tingkat.” Harian Merdeka, 8 Agustus 1960, hal. 1, 2
  30. Albert Situmorang (1987). “‘Pesta Perak’ Hotel Indonesia: Tamu Pertama Datang Naik Becak.” Suara Pembaruan, 7 Agustus 1987, hal. 10

Lokasi

Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini dan eksklusif, dan bila anda perlu bahan dari koleksi pribadi SGPC, anda bisa mengunjungi TORSIP SGPC. Belum bisa bikin e-commerce sendiri sayangnya....


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *