Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Buat orang awam yang sering berdarmawisata ke Pulau Dewata, pulau asal blog “Setiap Gedung Punya Cerita”, seharusnya tahu dengan hotel ini. Bali Beach Hotel, a Heritage Collection adalah hotel pencakar langit dan sedikit dari beberapa bangunan di Bali yang jumlah lantainya melebihi 5 lantai dan tinggi 15 meter – namun presisinya tidak ada informasi.

Hotel ikonik dengan 273 kamar ini awalnya dirancang oleh tim arsitek dari PT Pembangunan Perumahan dan dibangun oleh PT PP bersama dengan Taisei. Namun, renovasinya dilaksanakan oleh tim arsitek yang berbeda. Kami sarankan baca subbagian arsitektur untuk detilnya.

Hotel Grand Bali Beach, tampilan pra-renovasi, 2019
Dilihat dari kolam renang. Foto oleh mimin SGPC.

Iklan

Sejarah Bali Beach Hotel

Mengingat panjangnya sejarah hotel ini sejak pertama diperkenalkan pada tahun 1958 hingga renovasi keduanya pada 2022, SGPC memecah bagian artikel ini menjadi tiga subbagian.

1958 – 19 Januari 1993: Hotel demi mendongkrak citra Indonesia

Sebelum terbakar, 1985an. Foto: Handout Hotel Indonesia, Kaleidoscope: Indonesia, 1985

Sejarah pembangunan hotel ini erat dengan visi Orde Lama untuk membentuk citra Indonesia di mata internasional melalui pariwisata. Setahun menjelang Dekrit 4 Juli 1959, pada 1958 pemerintah Soekarno berhasil melobi pemerintah Jepang ihwal dana pampasan perang dengan mengeluarkan kesepakatan untuk membayar ke pemerintah Indonesia sebanyak 223 juta dolar AS selama 12 tahun, menghapus utang perdagangan Indonesia dan bantuan ekonomi 400 juta dolar AS. Dana inilah yang salah satunya digunakan untuk membangun proyek pariwisata, seperti Hotel Indonesia, Hotel Ambarrukmo Palace, Samudra Beach dan Bali Beach.

Pemilihan Sanur sebagai lokasi hotel tidaklah sembarangan, karena Soekarno melihat potensi wisata yang besar di Pantai Sanur yang hingga sekarang masih merupakan pantai yang vital untuk pecaruan. Pada tanggal 21 November 1961 di Istana Merdeka Jakarta, ia menyetujui rencana pembangunan Hotel Bali Beach yang disodorkan oleh para perancang dari PT PP.

Konon, tim perancang sempat didamprat oleh Presiden gegara desainnya yang dirasa terlalu modern. Di otobiografinya yang berbahasa Belanda, Kwee Hin Goan mengklaim bahwa desain Hotel Bali Beach saat itu, yang bergaya internasional modern, membuat marah Presiden Soekarno yang menganggap bahwa desain tersebut membuat Bali kehilangan karakteristik, sama dengan Costa de Sol di Spanyol atau di Oahu di Hawaii, AS. Namun nasi sudah jadi bubur, keputusan tersebut keburu final pada tanggal yang dimaksud (21 November 1961).

Dalam sebuah tur media yang diadakan Nitour (sekarang Hotel Indonesia Group) dibocorkan bahwa Hotel Sanur, nama pra-konstruksi hotel ini, direncanakan akan memiliki 350 kamar di atas lahan seluas 31 hektar. Mengutip halaman resmi PT PP tahun 2004, pembangunan Hotel Bali Beach dimulai sejak 1962.

Peresmian hotel dilakukan oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 1 November 1966, mengundang sekitar 100 undangan asing, termasuk 40 wartawan asing, dalam pembukaan hotel tersebut. Dalam peresmiannya, Sultan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mengatakan bahwa hotel ini merupakan sebuah kebanggaan daerah dan nasional yang memperkaya pariwisata Indonesia dan menjadi fasilitas terakhir yang harus tersedia bagi wisatawan internasional.

Ketika dibuka, Hotel Bali Beach dikelola oleh InterContinental. Wartawan harian Angkatan Bersenjata, Soedirman K, saat itu mencatat bahwa dari 307 kamar yang disediakan, baru 124 kamar atau 40 persen yang siap.

Bali Beach Hotel 1990 Bali tempo dulu
Hotel Bali Beach pada 1990. Foto: Agung Dwikoranto/Majalah Prospek, 23 Februari 1991

Tetapi hotel Grand Bali Beach dilanda masalah kurangnya jumlah tamu dan kerugian keuangan di tahun-tahun awalnya. Diproyeksikan akan mendatangkan devisa negara sebesar 2,5 juta dolar per tahun, di bulan Mei 1967 harian KOMPAS mewartakan kerugian harian Hotel Bali Beach mencapai sekitar 5000-7500 rupiah per harinya (1,9-2,7 juta rupiah/tahun estimasi), sementara pada Desember 1967 rerata okupansi kamar baru mencapai 25 persen dari 307 kamar (k/l 76 kamar/hari, jauh dari ekspetasi 140 kamar/hari atau 46 persen). Hal tersebut wajar terjadi akibat dari kurangnya sarana transportasi ke Pulau Dewata saat itu, terutama pembangunan Bandara Ngurah Rai yang belum rampung. Belum diketahui kapan tepatnya Hotel Grand Bali Beach balik modal.

Pada tahun 1974, jumlah kamar Hotel Bali Beach bertambah menjadi 515 kamar dengan dibangunnya empat blok hunian perluasan berlantai dua dengan 208 kamar di sebelah selatan gedung utama dalam rangka persiapan rapat PATA 1974. Lima tahun kemudian, sekitar 1979, Hotel Bali Beach melebur dengan Bali Seaside Cottage, sebuah penginapan berkonsep cottage milik Hotel Indonesia Internasional, yang berada di sebelah selatan gedung perluasan.

Di tahun yang sama, Hotel Bali Beach mulai dikelola secara mandiri, dengan InterContinental hanya mengadakan jasa reservasi kamar, pemasaran dan pengelolaan sumber daya manusia untuk BUMN perhotelan Hotel Indonesia Internasional selama lima tahun ke depan.


Iklan

20 Januari 1993-2018: Kebakaran hebat dan phoenix dari Pulau Dewata

Bali Post, 22 Januari 1993

Pada 20 Januari 1993, hotel Grand Bali Beach terbakar hebat sejak jam 12.45 siang, dimulai dari kantor maskapai penerbangan Qantas yang berada di lobi hotel. Kebakaran merembet hingga ke keseluruhan hotel berlantai 10 pada jam 1 siang.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kebakaran yang diklaim terhebat dalam sejarah Bali dan di Indonesia pasca kebakaran hebat di Sarinah pada November 1984, sementara kerugian ditaksir mencapai 60 milyar rupiah (lebih dari setengah trilyun rupiah dengan uang 2018). Sumber kebakaran berasal dari arus pendek statis yang ditimbulkan oleh karpet dan stopkontak di kantor Qantas.

Pasca kebakaran, hotel, terutama gedung berlantai 10, ditutup untuk umum. Hampir seluruh kamar hotel rusak, kecuali kamar 327 yang disebut-sebut memiliki kekuatan mistis. 300 kamar tersisa, yaitu yang berada di wing selatan dan cottage, selamat.

Akibat kebakaran tersebut, Hotel Indonesia Group, diwartakan KOMPAS akan menuntut Qantas ke pengadilan pada 7 Juni 1993. Belum diketahui putusan dari kasus HI melawan Qantas terkait kebakaran Hotel Bali Beach. Di sisi lain, kebakaran menyebabkan HII kehilangan potensi omzet Rp. 28 milyar (1992, setara Rp. 302 milyar nilai 2023) pemasukan dari kedatangan tamu, kunjungan restoran dan lain sebagainya.

Hebatnya, hotel tersebut secara struktural tidak mengalami masalah yang sangat serius, setelah dilakukan pengecekan oleh Departemen PU, PT PP, Davy Sukamta & Rekan dan Taisei Corporation (pemborong yang membangun hotel ini pada 1962-66), dan pada 4 Oktober 1993 Inna Grand Bali Beach dibuka kembali setelah direnovasi oleh PT Pembangunan Perumahan, pemborong negara yang membangun gedung tersebut pada 1962-66, mulai Maret 1993 dan selesai Agustus 1993, lebih cepat dari jadwal September 1993.

Biaya yang dihabiskan dalam renovasi mencapai 82 milyar rupiah (Rp 840 milyar dengan uang 2018) dan memperkerjakan 1500 tenaga kerja. Dana renovasi mayoritas diongkosi PT PP melalui obligasi, dan asuransi dari kebakaran gedung, dan desain gedung ini mulai mendapat sentuhan ciri khas Bali dengan batu padas merahnya. Tidak ada pengaruh apa-apa terhadap larangan gedung lebih tinggi dari 15 meter karena Hotel Grand Bali Beach memang diberi pengecualian khusus.

2018-sekarang: Kebakaran kedua 1 Maret 2020 dan renovasi kedua

Bali Beach Hotel dalam tahap renovasi, 2022. Foto oleh mimin SGPC

Beberapa tahun pasca renovasi, Hotel Indonesia Group mencanangkan revitalisasi besar-besaran di hotel seluas 42 hektar ini pada 29 Juni 2018. Renovasi besar-besaran tersebut sudah berjalan per Juni 2022 untuk mempersiapkan re-branding hotel-hotel dibawah Hotel Indonesia Group.

Pada sore tanggal 1 Maret 2020, Hotel Grand Bali Beach kembali terbakar. Berbeda dengan kebakaran pada tahun 1993 yang membuat keseluruhan gedung ludes, kebakaran ini tergolong kecil, hanya membakar lantai 10 dan ruang laundromat gedung utama hotel ini. Kebakaran saat ini masih dalam tahap penyelidikan, dan gedung utama Hotel Grand Bali Beach dibuka kembali keesokan harinya. Belum sebulan kemudian, pada 29 Maret 2020, lantai 10 Hotel Grand Bali Beach terbakar kembali.

Dalam rangka pengembangan kawasan ekonomi khusus kesehatan Sanur dengan menambah rumah sakit berkelas internasional di lahan eks lapangan golf, mulai 1 Agustus 2022 Hotel Grand Bali Beach ditutup untuk renovasi, sehingga harus merumahkan lebih dari 380 karyawan.

Renovasi gedung utama Hotel Grand Bali Beach secara keseluruhan rampung pada awal 2024, dengan Hotel Bali Beach the Heritage Collection, Hotel Meru Sanur yang lebih elit dan balai sidang Bali Beach Convention Centre telah menggelar kegiatannya terlebih dahulu. Renovasi kedua ini dibangun oleh Nindya Karya.


Iklan

Di Grand Bali Beach, terdapat balkon yang susut dan relief yang tidak selesai

Balkon Bali Beach Hotel sebelum renovasi, 2019. Foto oleh mimin SGPC

Sebelumnya, berdasarkan catatan populer di majalah Konstruksi yang didukung pemberitaan Merdeka (22 November 1961), Rusdi Hatamarrasjid (selanjutnya jadi perancang di PRW Architects) merupakan arsitek utama dari Hotel Bali Beach. Namun, di sisi lain, karena terhadang penggunaan bahasa Belanda, klaim Kwee Hin Goan bahwa Ir. Hatmadi – arsitek Hotel Ambarrukmo Yogyakarta – adalah arsitek Hotel Bali Beach terlewatkan.

Walau dibangun di Bali, sentuhan Jawa kuno terhadap hotel yang sejatinya bergaya internasional ini, sebagai ikon Indonesia modern, cukup kuat. Unsur Jawa yang diadaptasi oleh hotel ini adalah bunga teratai (padma) untuk tata arsitektur eksterior dan interiornya.

Interior Hotel Grand Bali Beach. Foto oleh mimin SGPC

Majalah Konstruksi memberi penjelasan lain, akibat dari renovasi. Atrium empat lantai, yang merupakan struktur baru dan dirancang oleh biro interior Atelier 6, mengambil inspirasi dari Bali masa sebelum masuknya Agama Hindu, dan tangganya dari Pura Segara di Sanur Kaja. Interior atrium versi lamanya tidak ada yang spesial.

Ketika dibangun, catatan media milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, menyertakan beberapa detail mengenai isi Hotel Inna Grand Bali Beach ketika dibuka resmi. Wartawan Berita Yudha Bieb Kartaatmadja mencatat bahwa sebagian polesan interior hotel ini cukuplah mewakili ciri khas kebudayaan Bali, mulai dari tirai yang disusun dari kerang yang ditempelkan di bambu, hingga keberadaan relief mempercantik hotel berbentuk Y ini.

Wartawan harian Angkatan Bersenjata Soedirman K. mengatakan bahwa hotel ini “berdiri megah dan seakan menantang setiap deburan ombak lautan Indonesia dan angin laut yang silir sumilir” dan soal arsitekturnya “memiliki dandanan yang harmonis” dan “baju tipe barat, tapi jantungnya berciri Bali,” mengutip polesan interior dan eksteriornya. Ia juga melaporkan bahwa beberapa wisatawan, termasuk pengusaha hotel dari Selandia Baru, menyukai desain Hotel Bali Beach yang harmonis dan baik.

Sebuah ukiran dibuat di tembok hotel, ide dari Presiden Soekarno sendiri, divisualkan oleh pemahat G. Sidharta Soegijo dan pelukis Lee Man Fong. Ukiran ini tidak selesai, dan beberapa ukiran hanya menyisakan sketsa yang tergambar. Relief tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat Bali.


Iklan

Renovasi Hotel Grand Bali Beach sejak 1993 mengadaptasi nuansa tradisional Bali dan standar hotel bintang 5 abad 21 yang menuntut luas kamar yang lebih lapang. Akibatnya, lebar balkon yang awalnya mencapai 2,5 meter, menyusut 75 cm.

Dalam sebuah presentasi desain antara Team 4 dengan Kadirjen Pariwisata Joop Ave, Joop berujar kalau pada tahun 1960an Hotel Bali Beach adalah contoh untuk hotel lain, jadikanlah pelopor lagi untuk tahun 2000an, menggambarkan citra baru pada hotel Grand Bali Beach.

Renovasi ketiga sepertinya semakin dekat ke spirit era 1960an dan seakan “menjauh” dari pakem tradisionalis yang diterapkan Team 4. Dirancang oleh Gregorius Supie Yolodi dan Maria Rosantina dari Yolodi+Maria, konsep yang dibawa adalah “mengemban signifikasi kebudayaan dan historis sebagai refleksi terhadap visi dan harapan dari bapak bangsa Soekarno,” yang dilaksanakan dengan mengembalikan desainnya ke setidaknya tampilan sebelum kebakaran hebat 20 Januari 1993.

Hotel ini sebenarnya bukan satu-satunya hotel tertinggi di Bali walau larangan pembangunan gedung lebih tinggi dari 15 meter diberlakukan sejak November 1971. Pada 1995, Hotel Nikko Nusa Dua berdiri setinggi 15 lantai, dari posisi terendah dan menempel pada tebing, memanfaatkan celah regulasi yang ada.

Bagian barat Bali Beach Hotel sebelum renovasi kedua, 2019. Foto oleh mimin SGPC

Fasilitas yang tersedia cukup banyak

Ketika dibuka pada tahun 1966, Hotel Bali Beach memiliki 307 kamar yang terbagi ke beberapa kategori termasuk suite dan presidential suite yang sayangnya tidak disebutkan secara terperinci oleh baik Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Seluruh kamar memiliki fasilitas ciri khas hotel-hotel Barat dengan fasilitas modern, dan khusus suite disediakan dapur sendiri-sendiri.

Hotel ini menyediakan rumah makan Baruna Pavilion yang menghadap ke laut, Raja Room di lantai dua, klub malam Bali Hai dan Nusantara Terrace di lantai 10, kedai kopi, bahkan klinik Dr. Castillo lantai 2 dan apotik (terkait dengan betapa payahnya infrastruktur kesehatan Indonesia saat itu). Hotel ini juga menyediakan ruang serbaguna yang maksimal menampung 700 orang.

Waktu berganti dan kejadian kebakaran menyebabkan Hotel Bali Beach pun berubah. Pasca-kebakaran dan pembukaan kembali pada bulan Oktober 1993, jumlah kamar sudah menjadi 312 khusus untuk menaranya saja, dan dilakukan juga perluasan ruang serbaguna menjadi maksimal 900 orang dan fasilitas kantor operasional hotel alias back of the house.

Karena renovasi dan perubahan fasilitas yang tidak tercatat oleh baik media dan blog SGPC ini, per Juni 2022 jumlah kamar yang tersedia di menara Hotel Inna Grand Bali Beach adalah 246 kamar dengan lima kategori kamar, dengan fasilitas rata-rata resort dan ruang serbaguna Agung Room. Beberapa nama restoran dan klub seperti Baruna dan Bali Hai masih dipertahankan.

Pasca-renovasi kedua, jumlah kamar yang tersedia terdiri dari 273 kamar (2 kamar dan 6 suite) di menara Bali Beach Hotel dan 184 kamar tipe suite (5 tipe) di The Meru Sanur berlantai tiga (bekas perluasan yang dibangun 1974) serta menyediakan balai konvensi berkapasitas 4.700 orang.

Selengkapnya mengenai garis besar gedung era 1950an hingga 1970an dapat anda baca di artikel ini

Data dan fakta

Nama lamaHotel Bali Beach
Hotel Inna Grand Bali Beach
AlamatJalan Hang Tuah Sanur, Kota Denpasar, Bali
Arsitek (1966)Ir. Rusdi Hatamarrasjid (klaim PRW Architects/Majalah Konstruksi/Merdeka)
Ir. Hatmadi (klaim Kwee Hin Goan)
Arsitek (1993)Team 4 Architects
Arsitek (2024)Yolodi + Maria Architects
Pemborong (1966, J.O.)Pembangunan Perumahan
Taisei Corporation
Pemborong (1993)Pembangunan Perumahan
Pemborong (2024)Nindya Karya
Lama pembangunanNovember 1962 – November 1966
Lama renovasiMaret 1993 – Agustus 1993
Agustus 2022 – kuartal III 2024
Diresmikan1 November 1966 (awal)
4 Oktober 1993 (renovasi)
Jumlah lantai10 lantai
Jumlah kamar246
Biaya pembangunanUSD 10 juta (1966)
USD 79 juta/Rp 1,09 triliun (inflasi 2019) 
SignifikasiSejarah (dibangun dan dicanangkan oleh Presiden Soekarno)
Arsitektural (dibangun sebelum gedung tinggi diatas 15 meter dilarang di Bali)
Pariwisata (landmark Bali) 
Referensi: Silvia Galikano/Saraswati 2017, PT PP 2004, Majalah Konstruksi #107, Majalah Konstruksi #187

Referensi

  1. Silvia Galikano (2017). “Hotel Bali Beach, Karunia Bung Karno Untuk Sanur”. Sarasvati, 6 September 2017. (arsip)
  2. Portfolio PT PP tertanggal 2004
  3. Halaman resmi Inna Hotel Group:
    1. Revitalisasi Hotel Bali Beach (arsip)
    2. Profil (arsip)
    3. Halaman resmi Hotel Bali Beach, diakses 2 Juli 2022 (arsip)
  4. Web “Architecture Heritage” (arsip)
  5. NN (1966). “Laporan Pembukaan Resmi “Bali Beach” Hotel: Dibangunan Utk Mengembangkan Kepariwisataan: Biaja Pembangunannja $ 10 Djuta”. KOMPAS, 7 November 1966
  6. ANTARA (1967). “Bali Beach Hotel Rugi Rp 7.500 Tiap harinja”. KOMPAS, 18 Mei 1967.
  7. BW (1967). “Hotel Bali Beach masih terus defisit: Kekurangan biaja baru tertutup sekedarnja kalau kamar2 jang terisi 45%”. KOMPAS, 13 Desember 1967.
  8. NN (1987). “PRW Architects PT: Tidak mau terlalu ekspansif”. Majalah Konstruksi No. 107, Februari 1987.
  9. “HBB Ludes Terbakar – Kerugian lebih dari Rp 60 milyar”. Bali Post, 21 Januari 1993.
  10. “HBB Segera Dibangun Kembali”. Bali Post, 22 Januari 1993.
  11. “Nomor 327, Kamar Yang Misterius”. Bali Post, 22 Januari 1993.
  12. “HBB Mulai Terima Tamu”. Bali Post, 26 Januari 1993.
  13. ABA (1993). “Pembangunan kembali Hotel Bali Beach yg terbakar 20 Januari lalu, tdk terkena Perda no 6/1989 ttg RUTR daerah Bali”. KOMPAS, 4 Maret 1993.
  14. ABA (1993). “Biaya Pembangunan Kembali Hotel Bali Beach Rp. 75 Milyar”. KOMPAS, 18 Maret 1993.
  15. DRK (1993). “Bali Beach, Oktober Beroperasi Penuh”. Media Indonesia, 9 Mei 1993.
  16. Sari (1993). “Ekor kebakaran Hotel Bali Beach, PT HII tuntut Qantas”. KOMPAS, 9 Juni 1993.
  17. ABA (1993). “Hotel Bali Beach siap dipakai Kongres [UN]WTO”. KOMPAS, 24 September 1993.
  18. PT PP (1993). Iklan Reopening Hotel Bali Beach. Bali Post, 4 Oktober 1993.
  19. Dwi Ratih; Saptiwi Djati Retnowati (1993). ” Pembangunan Kembali Hotel Bali Beach, Grand Bali Beach, Hanya dalam waktu 6 1/2 bulan”. Majalah Konstruksi No. 187, November 1993.
  20. k17, pol (2020). “Sehari Pasca Terbakar, Hotel Inna Grand Bali Beach Beroperasi Kembali”. NusaBali, 3 Maret 2020, hal. 1 dan 15.
  21. pol (2020). “Hotel Inna Grand Bali Beach Terbakar, Tamu Dievakuasi”. NusaBali, 2 Maret 2020, hal. 1 dan 15.
  22. nv (2020). “Hotel Inna Grand Bali Beach Kembali Terbakar“. NusaBali Online, 30 Maret 2020. Diakses 30 Maret 2020 (arsip)
  23. PIA (1961). “Presiden Setudjui Rentjana Pembangunan Hotel Sanur.” Harian Merdeka, 22 November 1961, hal. 1
  24. PIA (1961). “Hotel-Hotel Jang Akan Didirikan di Bali.” Harian Merdeka, 28 November 1961, hal. 2
  25. Bieb Kartaatmadja (1966). “Hotel Bali nan megah di Pantai Sanur.” Berita Yudha, 8 November 1966, hal. 2
  26. Bieb Kartaatmadja (1966). “BBH dihias dengan relief2 spesfik Bali.” Berita Yudha, 9 November 1966, hal. 2
  27. Bieb Kartaatmadja (1966). “Wisatawan inginkan lebih bersuasana Bali.” Berita Yudha, 10 November 1966, hal. 2
  28. Soedirman K. (1966). “Bali Beach Hotel Paduan Harmonis Arsitektur Barat dan Kepribadian Indonesia.” Angkatan Bersenjata, 16 November 1966, hal. 3
  29. Soedirman K. (1966). “Maintenance & Efisiensi tantangan berat bagi Bali Beach Hotel.” Angkatan Bersenjata, 17 November 1966, hal. 3
  30. Soedirman K. (1966). “Mentalitas Orba mutlak untuk management jang sehat.” Angkatan Bersenjata, 18 November 1966, hal. 3
  31. Soedirman K. (1966). “Turis L.N. orang2 biasa jang radjin menabung untuk berpariwisata.” Angkatan Bersenjata, 19 November 1966, hal. 3
  32. Mimi Hudoyo (2022). “HIG consolidates, creates new branding for Indonesian hotels by state-owned companies.” (HIG sinergikan dan ciptakan merk baru untuk hotel-hotel BUMN). TTG Asia, 10 Juni 2022. Diakses 2 Juli 2022 (arsip)
  33. Henry (2022). “Hotel Inna Grand Bali Beach Ditutup, Bakal Dibangun Ulang Untuk Wisata Kesehatan.” Liputan 6 SCTV, 2 Agustus 2022. Diakses 18 Agustus 2022 (arsip)
  34. Annasa Rizki Kamalina (2022). “Hotel Grand Inna Bali Beach Tutup, 245 Karyawan Pilih PHK.” Bisniscom, 2 Agustus 2022. Diakses 18 Agustus 2022 (arsip)
  35. “Tahun depan HBB dan BSSC dikelola sendiri.” Bali Post, 29 September 1978, hal. 1
  36. “Akibat terbakarnya HBB, HII alami ‘lost opportunity’ Rp. 28 milyar.” Harian Ekonomi “Neraca”, 11 Juni 1993, hal. 9
  37. Kwee Hin Goan (2004). Bloeiende Bron: Een architectenleven (Mekar di Musim Semi: Kisah seorang arsitek). Rotterdam, Belanda: penerbit tidak diketahui. Hal. 123-124
  38. Press release (2024). “Diresmikan menteri BUMN, Convention Centre terbesar di Indonesia garapan Nindya Karya.” KONTAN, 31 Januari 2024. Diakses 26 Juni 2024 (arsip)
  39. Mimi Hudoyo (2024). “Bali’s first international hotel site transforms into all-purpose destination” (Hotel internasional pertama di Bali beralih wujud menjadi destinasi serbabisa). TTG Asia, 25 Juni 2024. Diakses 26 Juni 2024 (arsip)
  40. Halaman Instagram Yolodi+Maria Architects, 24 Juni 2024, diakses 26 Juni 2024
  41. “Indonesia’s biggest hotel chain to rehabilitate, renovate properties” (Jaringan hotel terbesar Indonesia rencana rehabilitasi dan renovasi propertinya). Travel Indonesia Vol. 1 No. 2, Agustus 1979, hal. 6-7
  42. “Hotel Bali Beach Inter-Continental, a world of recreational facilities” (Hotel Bali Beach Inter-Continental, penuh dengan fasilitas rekreasi). Travel Indonesia Vol. 3 No. 6, Juni 1981, hal. 22-23

Lokasi

Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini dan eksklusif, dan bila anda perlu bahan dari koleksi pribadi SGPC, anda bisa mengunjungi TORSIP SGPC. Belum bisa bikin e-commerce sendiri sayangnya....


Bagaimana pendapat anda......

    1. Untuk updatenya, tinggal menunggu grand opening saja. Kalau ternyata sudah buka, itu artinya mimin edit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *