Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Kantor Pusat Waskita Karya, atau bisa kita sebut sebagai Gedung Waskita Heritage, bisa dibilang adalah gedung tinggi ketiga (setelah Wisma Hayam Wuruk, Kementerian ESDM, mendahului BI Semarang yang saat itu sedang dalam tahap konstruksi) yang membawa panji arsitektur brutalist di Indonesia, walau pada paruh terakhir 1980an dan awal 1990an, bangunan baru sejenisnya sudah beralih ke panel aluminium yang lebih ringan dan modern dibanding beton dan keramik lantai.

Kantor Pusat Waskita (Gedung Waskita Heritage)
Brutalist dari zaman Dilan. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Gedung bernuansa brutalist ini dirancang oleh tim arsitek Atelier 6 sejak 1984-1985 dan dibangun secara mandiri oleh Waskita Karya mulai 1988 – menurut penuturan Maryadi Darmokumoro, mantan Dirut Waskita Karya pada 2015 – dan selesai dibangun awal 1991, konon dengan dana hasil pemasukan yang didapat Waskita selama membangun Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Ide dari pembangunan kantor pusat Waskita yang berdiri sekarang adalah soal klasik: kantor pusat sebelumnya, di Kebayoran Baru, tak mungkin diperluas, dan lahan parkirnya tak fleksibel karena milik Pemprov DKI. Lahan yang dipilih tidaklah jauh-jauh dari kompleks BUMN konstruksi di Cawang – dekat dengan Indra Karya, Hutama Karya, Yodya Karya dan Wijaya Karya.

Gedung yang perancangannya dimulai di medio 1984 ini memiliki kesan brutalist karena kulit luar, struktur dan dalamnya menggunakan grid pencetak beton yang Waskita beli sendiri untuk proyek Halim Perdanakusuma, sayangnya, cetakan itu tidak jadi digunakan dan akhirnya disimpan Waskita sewaktu-waktu dibutuhkan kembali. Grid inilah yang memberi keluwesan dalam mengatur ruang dan bisa dikembangkan ke dalam modul-modul komponen eksterior maupun interior bangunan termasuk penempatan lampu dan jendela, bahkan grid lantai menjadi bagian struktur utama bangunan. Tak ayal, hal ini membuat nuansa beton terekspos ini cukup terasa. Inilah alasan Waskita tidak mengikuti saran Atelier 6 untuk menggunakan aluminium jendela warna kontras dengan lapis betonnya, agar suasana brutalisnya lebih mantap.

Waskita Building (Gedung Waskita Heritage)
Foto oleh Ikhlasul Amal, CC-BY-NC 2.0

Gedung Waskita, dirancang tahan gempa dengan standar gempa 1983, menggunakan pondasi tiang bor yang pemborong miliki sendiri. Struktur atas tidak menggunakan pratekan. Gedung setinggi 46 meter diatas permukaan laut ini memiliki ruang pertemuan berkapasitas 300 orang pada lantai 11, dengan atap seng, dan luas lantai total 11.830 meter persegi. Biaya yang dikeluarkan Waskita dalam membangun gedung baru ini sebanyak Rp. 9,5 milyar nilai 1991, di luar sewa perlengkapan dan gaji buruh. Gedung Waskita diresmikan oleh Menteri PU Radinal Moochtar pada 5 Juli 1991.

Waskita Karya kini mengubah total desain gedung, menghilangkan konteks brutalist bangunan ini, mulai semester kedua tahun 2019. Selain renovasi tersebut, nama gedungnya berubah menjadi Gedung Waskita Heritage.

Selengkapnya mengenai garis besar gedung era 1990an dapat anda baca di artikel ini


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaKantor Pusat Waskita Karya
AlamatJalan M.T. Haryono Kav. 10 Jatinegara, Jakarta Timur, Jakarta
ArsitekIr. Wiedarni Soeroso IAI (Atelier 6)
PemborongWaskita Karya
Lama pembangunan1988 – 1991
Jumlah lantai11 lantai
2 basement
Tinggi gedung46 meter
Biaya pembangunanRp 9,5 milyar (1991)
Rp 110 milyar (inflasi 2020)
Referensi: Majalah Konstruksi #156 April 1991

Referensi

  1. Trisnawati, Vera (1991). “Gedung Kantor Pusat PT Waskita Karya: Gunakan grid dan beton ekspos, menunjang fleksibilitas”. Majalah Konstruksi No. 156, April 1991.
  2. Eko Sutrisno H.P. (2015). “Sejarah Gedung Waskita”. Walker and Goweser Jogja, 15 Februari 2015. (arsip)
  3. Prasasti peresmian via Google Maps

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *