Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Di pusat kota Surakarta, tepatnya di Jalan Gajah Mada barat Istana Mangkunegaran, berdiri sebuah hotel berlantai 12 dengan 138 kamar bernama Hotel Sahid Jaya Solo, bagian dari grup hotel Sahid milik keluarga Sahid Gitosardjono. Walaupun tidak begitu tinggi untuk standar masa kini, tetapi hotel ini sebenarnya kaya nilai sejarah, terutama bagi keluarga Sahid sebagai pemilik karena memulai usahanya di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang sangat sulit. Hotel Sahid Jaya di Solo yang berdiri saat ini adalah buah karya Suwarmo Soepeno dari Parama Loka Consultant dan dibangun oleh perusahaan bernama PT Mataram Maju pada kurun 1992-1995.

Ternyata, sejarah keberadaan Hotel Sahid Jaya Solo cukup lengkap dan detail, hanya saja belum ada yang mau menyarikannya ke dalam jus segar bernama artikel. Nah, daripada membusuk, SGPC yang mau tidak mau olah beberapa ramuan berupa otobiografi Sukamdani Sahid dan buku profil Sahid Group, plus koran-koran seperti Kedaulatan Rakyat (XR), Bernas dan majalah Konstruksi.


Iklan

Berdiri di masa sulit (1960-1991)

Hotel Sahid Jaya Solo
Gedung lama ada di kiri. Foto oleh mimin SGPC

Sukamdani Sahid Gitosardjono, seorang mantan PNS Kementerian Dalam Negeri dan pemilik usaha percetakan dan penerbitan, membentuk usaha yang diberi nama “PT Sahid & Co.” dengan harapan mendirikan sebuah hotel yang dicita-citakannya. Usaha tersebut berdiri sejak tahun 1960. Angan tersebut muncul dari pengalamannya lalu-lalang menginap di hotel-hotel di Tanah Air maupun di luar negeri semasa Sahid menjadi anggota dari serikat pengusaha percetakan dan ormas-ormas lainnya, dan mengetahui peluang kota Surakarta sebagai obyek wisata mengingat kuatnya unsur kebudayaan Jawa di kotanya Presiden Joko Widodo itu.

Angan-angan tersebut sepertinya ia coba wujudkan ditengah kondisi perekonomian Indonesia yang memprihatinkan, karena Pemerintahan Soekarno saat itu lebih suka panjat sosial di panggung geopolitik dunia dan mengabaikan perekonomian. Bahkan Sahid mengatakan bahwa di dalam konsep Berdikari ala Soekarno yang mendorong kemandirian ekonomi nasional melalui peran swasta, ekonomi tidak pernah dijadikan prioritas dan bahkan tidak ada kebijakan-kebijakan yang mendukung iklim ekonomi nasional. Tapi optimisme dan prinsip jangka panjanglah yang membuat proyeknya bisa jalan. Pada tahun 1963, ia sudah membeli tanah milik Meester Wongsonegoro di Jalan Gajah Mada No. 104 Surakarta dan sudah memberi tugas perancangan pada seorang arsitek yang sayang Sahid tak beberkan namanya.

Peletakan batu pertama Sahid Sala, nama pertama hotel itu, dimulai pada tanggal 17 Desember 1963, dan konstruksinya membutuhkan waktu sekitar 18,5 bulan karena masalah pada ketersediaan bahan bangunan yang serba dijatah. Hotel tersebut hanya berlantai 3 serta dua paviliun dan menyediakan 28 kamar (26 kamar plus 2 paviliun/cottage) yang saat itu sudah dianggap sangat megah untuk ukuran Jawa Tengah. Hotel tersebut selesai dibangun di pertengahan 1965, dan diresmikan operasionalnya oleh istri dari Gubernur Jawa Tengah R. Mochtar bersama dengan pejabat teras pemerintahan, ormas Badan Musyawarah Pengusaha Nasional Swasta (Bamunas) dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX (dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pariwisata Indonesia) pada 8 Juli 1965. Sahid & Co. selaku pelaksana konstruksi menghabiskan biaya Rp. 3 milyar uang lama (1965, setara Rp. 31,6 milyar uang baru 2023) yang bersumber dari keuntungan bersih usaha penerbitan serta penjualan alat-alat cetak miliknya.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, awal-awal Sahid Sala memang sulit. Masyarakat masih enggan berwisata karena ekonomi yang sangat sulit, bahkan semen saja, kata Sahid, dijatah. Tiga bulan usai peresmian, Gerakan 30 September berulah dan Surakarta menjadi pangkalan ABRI dalam membersihkan sisa-sisa G30S (kader Partai Komunis Indonesia dan tangan panjangnya), dan di Maret 1966 Surakarta direndam banjir dan membuat pekarangan Sahid menjadi semacam posko pengungsian. Baru sejak Mayjen. Soeharto naik menjadi Presiden Republik Indonesia sejak 1967, kebijakan liberalisasi ekonomi dikeluarkan dan berimbas pada ramainya kunjungan wisatawan ke Hotel Sahid Sala.

Tahap kedua Sahid Sala terjadi pada tahun 1976 (atau 1974 di beberapa sumber, seperti BERNAS 8 Juli 1995 dan Majalah Konstruksi No. 215, November 1995), 11 tahun setelah peresmian, dengan menambah 12 cottage sehingga jumlah kamar yang tersedia menjadi 40 kamar (26 hotel dan 14 cottage). Tetapi, kelompok Sahid, bermodal sukses membangun hotel induk alias flagship di Jakarta, sepertinya lebih mengincar meremajakan sebuah bekas kediaman Pangeran Surakarta Pakubuwono X menjadi sebuah hotel modern dengan kearifan lokal, karena Sahid Sala dibangun ditengah kesulitan perekonomian nasional dan bisa dikatakan sulit untuk berkembang menjadi hotel yang modern.


Iklan

Tumbuh ke atas, tidak ke samping dan ikut menyandang nama Jaya (1991-sekarang)

Hotel Sahid Jaya Solo
Salah satu gedung tinggi terawal yang dibangun di Kota Batik. Foto oleh mimin SGPC

Sepertinya, kondisi perekonomian dan pariwisata tanah air yang membaik dimasa Orde Baru memacu setiap pengusaha hotel untuk mengembangkan asetnya, termasuk Sahid. Akhir November 1991 Sahid membeberkan informasi kepada media massa bahwa pihaknya berencana akan membangun gedung perluasan yang berlantai 10, yang akan menambah kamar hotel Sahid Sala yang awalnya hanya 40 menjadi 153 kamar, melebihi rencana jangka panjang awal yaitu 100 kamar per 1965.

Rencana tersebut sebenarnya sudah berjalan mulus karena seluruh perizinan, material pemasaran serta cetak biru konstruksi sudah seratus persen siap. Namun, entah kenapa Sahid menahan diri hingga konstruksinya baru kick-off pada 22 Desember 1992 melalui upacara pengeboran tiang pondasi pertama, di hari Selasa Kliwon yang dipercaya adalah hari baik dan juga perayaan Hari Ibu. Namun, dalam progres pembangunan ini, cottage mau tidak mau harus dikorbankan dan eksterior hotel Sahid Sala lama dirombak.

Konstruksi yang ditugaskan kepada perusahaan konstruksi PT Mataram Maju tersebut berlangsung relatif lancar, dari Desember 1992 hingga rampung pada bulan Juli 1995. Awalnya akan dibangun 10 lantai, sukses di uji operasional membuat jumlah lantai bertambah menjadi 11. Setelah menjalani uji operasional (kemungkinan Januari 1995, namun bisa tertunda), perluasan hotel 140 kamar (rancangan final) (Buku Grup Sahid 2013 menyebut 160 kamar) akhirnya diresmikan sebagai Hotel Sahid Raya Solo oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Joop Ave pada tanggal 8 Juli 1995, 30 tahun HUT peresmian Hotel Sahid Sala. Pembangunan perluasan ke atas ini menghabiskan biaya Rp. 45 milyar (1995, setara Rp. 373,5 milyar nilai 2023).

Dengan perkembangan waktu, Hotel Sahid Raya berganti nama menjadi Hotel Sahid Jaya Solo, serta renovasi yang membuat jumlah kamar menyusut dari 140 kamar menjadi 138 kamar.


Iklan

Mempertahankan nuansa Jawa

Sangat disayangkan bahwa, seperti yang SGPC singgung di bagian awal, Sahid tidak membeberkan siapa arsitek tahap pertama dari Hotel Sahid Jaya Solo. Namun, yang anda lihat kali ini merupakan buah karya dari Suwarmo Soepeno dari Parama Loka Consultant (PLC), biro arsitek nasional. Rancangannya merupakan ciri khas dari arsitektur tradisional Jawa yang kuat dibanding desain lamanya yang cenderung mengarah ke gaya modern.

Ciri khas tersebut, menurut pihak PLC kepada awak media majalah Konstruksi, dilihat dengan penggunaan atap joglo di setiap atap gedung hotel ini. Namun, untuk beberapa bagian, pihak perancang harus mengakalinya karena faktor struktur gedung yang harus dipertahankan. Sementara interiornya yang dibesut oleh Grahacipta Hadiprana juga ikut membebek eksteriornya. Hotel ini secara luas lantai total mencapai 21.578 m2.

Sayangnya, informasi tersebut memang agak singkat. Secara profil hotel, Hotel Sahid Jaya Solo menyediakan 138 kamar yang terbagi ke dalam dua tipe kamar (Superior dan Deluxe) dan dua tipe suite (Executive dan President), khusus kamar Superior dibagi lagi ke dalam tipe tempat tidurnya. Hotel ini juga menyediakan fasilitas untuk konvensi seperti ballroom Pedan berkapasitas maksimal 450 orang dan tiga ruang rapat (Sukoharjo, Sidomukti dan Sidodrajat). Ketika direnovasi pada tahun 1995, Sahid Jaya Solo hanya memiliki dua ballroom tetapi kapasitasnya tergolong besar (2.000 dan 450 orang). Fasilitas yang disediakan di hotel ini, selain kolam renang dan sasana kebugaran, adalah tiga restoran (Ratu Ratih, Sekar Jagat Steak & Lounge dan Imperium).


Iklan

Data dan fakta

AlamatJalan Gajah Mada No. 82 Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah

Gedung lama (1965-1992)

Nama lamaHotel Sahid Sala
PemborongSahid & Co.
Lama pembangunanDesember 1963 – Juli 1965
Diresmikan8 Juli 1965
Dibongkar~1993 (renovasi)
Jumlah lantai3 lantai
Jumlah kamar40
Biaya pembangunanRp. 3 milyar (1965, uang lama)
Rp. 31,6 milyar (inflasi 2023)
Sumber: Sukamdani Sahid 1993; XR 15/7/1965

Gedung ekstensi dan renovasi gedung lama

Nama lamaHotel Sahid Raya Solo
ArsitekIr. Suwarmo Soepeno (Parama Loka Consultant, arsitektur)
Grahacipta Hadiparna (interior)
Limaef (struktur)
PemborongMataram Maju
Lama pembangunanDesember 1992 – Juli 1995
Diresmikan8 Juli 1995
Jumlah lantai11 lantai
2 basement
Jumlah kamar138
Biaya pembangunanRp. 45 milyar (1995)
Rp. 373,5 milyar (inflasi 2023)

Referensi

  1. Sukamdani Sahid Gitosardjono (1993). “Sukamdani Sahid Gitosardjono: Wirausaha Mengabdi Pembangunan.” Jakarta: CV. Masagung. Halaman 99-106, 229
  2. Musa Hubeis; Budiarto Subroto; Ahmad Djauhar et. al. (2013). “60 Tahun Sahid Group, Mengabdi Untuk Negeri.” Jakarta; Pustaka Bisnis Indonesia. Halaman 77-79, 122-123
  3. Kemal Effendi Gani; Suwardi (1988). “Di Balik 1.800 Kamar Sahid.” Majalah SWAsembada No. 6/IV, September 1988, hal. 38-41
  4. Kor (1965). “Hotel “Sahid” Sala diresmikan.” Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 1965, hal. 2 (via Perpusnas)
  5. lex (1991). “Sahid Group Perluas Hotel Bertingkat 10.” Harian Berita Nasional (Bernas), 29 November 1991, hal. 5 (via Monumen Pers Nasional)
  6. jsy (1992). “Untuk Industri Perhotelan Solo, Walikota Beri Angin Segar.” Harian Berita Nasional (Bernas), 9 Mei 1992, hal. 5 (via Monumen Pers Nasional)
  7. lex (1992). “Solo Jadi Sasaran Bisnis Perhotelan.” Harian Berita Nasional (Bernas), 20 Januari 1992, hal. 5 (via Monumen Pers Nasional)
  8. lex (1994). “Sahid Sala Hotel Lakukan Soft Opening Januari 1995.” Harian Berita Nasional (Bernas), 11 Mei 1994, hal. 5
  9. dhi (1995). “Hotel Sahid Raya Solo Gelar Grand Opening Sabtu Malam Ini.” Harian Berita Nasional (Bernas), 8 Juli 1995, hal. 5
  10. lex (1995). “Hotel Sahid Raya Kembangkan Wisata Konvensi.” Harian Berita Nasional (Bernas), 17 Juli 1995, hal. 5
  11. Saptiwi Djati Retnowati (1995). “Hotel Sahid Raya Solo, Berkarakter arsitektur tradisional Jawa-Solo.” Majalah Konstruksi No. 215, November 1995, hal. 52-56
  12. Halaman resmi Sahid Jaya Solo, diakses 30 Desember 2022 (arsip)

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Atau, bila anda berminat dengan artikel majalah yang dikutip oleh blog ini, sekaligus butuh referensi, belilah di TORSIP SGPC!


Bagaimana pendapat anda......

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights