Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Grand Indonesia yang berdiri megah, mengelilingi Hotel Indonesia yang legendaris, merupakan salah satu superblok mewah yang dibangun di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, tepat di tengah demam superblok tahun 2000an. Mungkin pembaca SGPC familiar dengan superblok kawasan multiguna (mixed-use) ini, tetapi mimin angkat kembali sejarah dan profil kawasan yang dikelola melalui BOT (bangun, kelola dan pindah kepemilikan) oleh kelompok bisnis Djarum di atas tanah yang dimiliki oleh Hotel Indonesia Group ini.

Grand Indonesia
Foto oleh Shanti Norita

Iklan

Proyek GI bermula dari kondisi Hotel Indonesia, yang dikelola BUMN perhotelan Hotel Indonesia Natour, membutuhkan pembenahan total setelah mengalami masa surut menahun. Pengembang Grand Indonesia, PT Cipta Karya Bumi Indah, menyepakatai perjanjian BOT dengan pemilik Hotel Indonesia, PT Hotel Indonesia Natour pada 13 Februari 2004. Dalam perjanjian tersebut, pengembang GI menginvestasikan 1,3 triliun rupiah mereka untuk membangun mall dan merenovasi hotel rancangan Abel R. Sorensen dan istrinya Wendy Sorensen tersebut, tetapi dalam prosesnya, mall Grand Indonesia menggusur Hotel Wisata Internasional dan Wing Bali.

Catatan Indonesia Design menyebut konstruksi sudah dimulai sejak Agustus 2004, bersamaan dengan renovasi Hotel Indonesia yang legendaris. Dengan pembangunan sedang berlangsung, GI berhasil mengajak beberapa penghuni terpandang seperti Seibu Department Store dari Thailand, Central Department Store dari Thailand hingga merk-merk apparel kelas dunia semacam Cartier, Gucci, Burbery, Bottega Venetta, Bally, Time Palace dan Prada.

Saat pembangunan pusat belanja Grand Indonesia menyentuh titik akhir, Mitra Adiperkasa, terkenal sebagai pengelola toko-toko kelas elit, mengumumkan Harvey Nichols di Grand Indonesia akan dibuka pada 2008. Department Store elit negeri asal Dennis & Gnasher tersebut resmi dibuka pada 23 Oktober 2008; namun hanya bertahan dua tahun dan gulung tikar pada 31 Oktober 2010 karena sasaran pasarnya masih lebih enak belanja di luar negeri dan merugi – bahkan diakui pihak Mitra Adiperkasa, untuk mengelola dan membangun Harvey Nichols saja harus mendapat belas kasihan dari pengembang.

Pusat belanja Grand Indonesia dibuka secara bertahap mulai tahun 2007, dengan bagian barat dibuka terlebih dahulu pada bulan April, dan bagian timur, yang mengelilingi wing awal Hotel Indonesia, menyusul empat bulan kemudian (Agustus 2007), bersama dengan penutupan atap Menara BCA dan Kempinski Private Residence pada 1 Agustus 2007. Council for Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) menyebut Menara BCA dan Kempinski Residence selesai dibangun pada tahun 2008; Bank Central Asia, bank milik kongsi Djarum, menghuni gedung ini mulai 1 September 2008. Grand Indonesia diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Mei 2009. Total biaya investasi diperkirakan mencapai 2,3 triliun rupiah nilai 2007 dari modal perusahaan dan pinjaman dari bank.

Pada tahun 2016, penyelidikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan terdapat pelanggaran kesepakatan BOT Grand Indonesia dengan Hotel Indonesia Natour yaitu masa kontrak yang diperpanjang dari awal 30 tahun menjadi 50 tahun, kompensasi yang kecil dan bangunannya dijaminkan untuk pinjaman. Pihak Grand Indonesia, memperlihatkan kecacatan pemahaman BPK pada sistem BOT yang lebih fleksibel bagi investor. Artikel Rumah.com mengenai Hak Guna Bangunan dan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia mengenai BOT membuat “pelanggaran kesepakatan” yang dilakukan GI tidaklah melanggar aturan dan norma.


Iklan

Profil dan arsitektur

Grand Indonesia berdiri di lahan seluas 8,3 hektar di bagian barat daya Bundaran Hotel Indonesia, terdiri dari Hotel Indonesia, Menara BCA, Kempinski Private Residence dan Grand Indonesia Shopping Town alias GIST, keseluruhan memiliki luas lantai 640 ribu meter persegi dan dirancang keroyokan antara CallisonRTKL (penerus RTKL) dan Anggara Architeam. HI Kempinski mimin sudah bahas sebagai gedung terpisah, maka tulisan ini khusus membahas Grand Indonesia sejak 2008.

Grand Indonesia Shopping Town

Sistem lantai di pusat perbelanjaan memakai notasi G, UG, LG yang berbeda jauh dengan bahasa lantai secara struktur. Lantai versi pusat belanja dicetak miring.

Grand Indonesia
Foto oleh Arfan Zakky Faisal

GIST, nama Jakselan pusat belanja Grand Indonesia, adalah pusat belanja kelas atas seluas 263 ribu meter persegi (kasar) dengan 140 ribu m2 disewakan. Mal berlapis tiga belas tersebut terbagi ke dalam tiga bagian gedung, yaitu bagian barat dan timur yang dihubungkan oleh jembatan penyeberangan berlantai 5 (lantai 3-7, bahasa mal 1, 2, 3, 3A dan 5) yang melintasi Jalan Teluk Betung.

Secara konsep desain, GIST membagi tema interior ke dalam tiga tema yaitu “futuristik” yang melambangkan optimisme masa depan dan rasa percaya diri, dengan warna yang terang di lantai 7 dan 8 (5 dan 8), “classic” yang sesuai bingkisannya bertema klasik dan diisi oleh toko-toko merk eksklusif, dari lantai 1 sampai 3 (G, UG dan 1), dan “modern” yang membawa tema gaya hidup kasual, menempati lantai 4 sampai 6 (2, 3, dan 3A). Dekorasinya dirancang menyesuaikan dengan tema-tema yang ada. Lima lantai teratas, 15 lantai di sisi barat bagian barat gedung, dan lantai basemen 2 dan 3 (lantai basement 1 adalah lantai LG) adalah ruang parkir berkapasitas 7 ribu kendaraan bermotor, dan Kempinski Grand Ballroom.

Menara BCA
Menara BCA dengan Monumen Selamat Datang. Foto oleh mimin SGPC

Eksteriornya dirancang mengacu desain dari Hotel Indonesia lama sebagai bentuk penyesuaian diri, dan mengembangkan Hotel Indonesia sebagai bagian dari sebuah kawasan multi-guna (mixed-use) dengan batasan-batasan yang ada berdasarkan UU Cagar Budaya.

Secara kepenghunian, toko-toko besar yang menggelar dagangannya di Grand Indonesia Shopping Town terdiri dari Seibu Department Store (menguasai bagian barat dengan 4 lantai (1, 2, 3, 4/G, UG, 1, 2)), Central Department Store (menguasai bagian timur dengan 4 lantai (1, 2, 3, 4/G, UG, 1, 2)), Ranch Market dan The Foodhall (masing-masing menempati basement 1/LG sisi timur dan barat), Uniqlo (LG), toko buku Gramedia, toko olahraga Planet Sports dan Alun-Alun Indonesia (5/3), Zara (3, 4/1, 2), Social House (4/2), H&M (1/G), bioskop CGV di bagian barat lantai 8 (struktur dan mal), dan pusat makanan serba ada (pujasera) bernama Foodprint di lantai 7/5 bagian barat, menggantikan pujasera Food Louver di lantai 5/3 jembatan. Di lantai atap (14) terdapat kolam renang Fitness First Platinum, yang juga digunakan sebagai kolam renang Hotel Indonesia Kempinski.

Menara BCA

Apartemen Kempinski
Apartemen Kempinski. Foto oleh mimin SGPC

Menara BCA adalah pencakar langit berlantai 56 dan berketinggian 230 meter yang berdiri dengan sangat megah di selatan Hotel Indonesia.

Gedung dengan luas lantai kasar sektar 82 ribu meter persegi ini dirancang dengan mengikuti tampilan modern HI namun dengan kearifan masa kini tahun 2000an (tentu saja dengan elemen bulatan di atap, dan sirip di bagian selatan eksterior gedung), dan memiliki beberapa teknologi keamanan, keselamatan dan fasilitas yang mumpuni. Menara BCA dilengkapi dengan 18 lift berkecepatan tinggi yang mengantar pengunjung dan pegawai hingga maksimal 56 lantai. Di lantai paling tinggi tersebut, terdapat rumah makan Skye yang menawarkan pemandangan ibukota Jakarta.

Sesuai namanya, tenant utama dari gedung ini adalah Bank Central Asia sebagai kantor pusat mereka menggantikan kantor lamanya di Sudirman, juga perusahaan afiliasi kelompok usaha milik Hartono bersaudara itu. Tenant kelas dunia lainnya seperti DELL dan Mitsui.

Kempinski Private Residence

Di sisi barat Hotel Indonesia, berdiri Kempinski Private Residence, yang berdiri megah dengan tinggi 215 meter, 57 lantai dan luas lantai kasar mencapai 60.142 m2. Apartemen mewah tersebut memiliki 260 unit yang terbagi ke dalam tiga jenis unit, yaitu 2 kamar tidur seluas 162 m2, 3 kamar tidur seluas 261 m2, apartemen servis 2 kamar tidur sebanyak 30 unit dan griya tawang masing-masing seluas 690 m2 dan 750 m2.

Secara eksterior Kempinski Private Residence melanjutkan skema besar dari Grand Indonesia, yaitu mengikuti tampilan modern HI dengan kearifan masa kini. Berbeda dengan Menara BCA, keberadaan balkon sebagai tabir surya jauh lebih terlihat di apartemen mewah yang didominasi kaca ini. Interior mengusung ciri khas keindonesiaan seperti penggunaan motif batik dan pola bunga, dan elemen warna-warni di reling kaca lobi. Lobi tersebut hanya bisa diakses penghuni dengan fasilitas lengkap.

Koreksi untuk kolam renang pada 8 April 2022


Iklan

Data dan fakta

AlamatJalan M.H. Thamrin No. 1 Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta
ArsitekCallisonRTKL (arsitektur)
Anggara Architeam (architect of record)
Minktan Architects Singapura (interior)
Rematha Daksa Optima (struktur)
Pemborong (J.O.)Duta Graha Indah
Totalindo Eka Persada
Lama pembangunanAgustus 2004 – Agustus 2008
Diresmikan20 Mei 2009
Jumlah lantai (Menara BCA)56 lantai
3 basement
Jumlah lantai (Kempinski P.R.)57 lantai
3 basement
Jumlah lantai (GIST)14 lantai
3 basement
Tinggi gedung (Menara BCA, CTBUH)230 meter
Tinggi gedung (Kempinski P.R., CTBUH)215 meter
Jumlah unit (Kempinski P.R.)260
Biaya pembangunanRp. 2,3 triliun (2007)
Rp. 4,45 triliun (inflasi 2021)
SignifikasiArsitektur (tetenger kota Jakarta pendamping Hotel Indonesia)

Referensi

  1. Arifin Pasaribu (2014). “Hotel Indonesia: Gagasan Bung Karno, Cagar Budaya Bangsa Dibangun Dengan Dana Pampasan Perang Jepang.” Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
    1. anv (2004). Grup Djarum Kelola Hotel Indonesia.” KOMPAS, 14 Februari 2004, hal. 25. Dikutip di buku Arifin Pasaribu di halaman 169-170
    2. “Redeveloped Hotel Indonesia Complex to Open Next Year.” The Jakarta Post, April 2006. Dikutip di buku Arifin Pasaribu di halaman 171-172
  2. jan (2005). “Kilas Ekonomi: 60 Persen Grand Indonesia Disewa Asing.” KOMPAS, 28 Oktober 2005, hal. 22. Dipost via Skycrapercity 28 Oktober 2005.
  3. Tantri Yuliandri (2005). “Grand Indonesia offers new shopping experience”. The Jakarta Post, ~ 27 Oktober 2005. Dipost via Skyscrapercity 28 Oktober 2005.
  4. Linda T. Silitonga (2006). “Department store Seibu masuk Indonesia”. Bisnis Indonesia, ~ Januari 2006. Dipost via Skyscrapercity 25 Januari 2006.
  5. ir (2006). “Mal Seibu Gebrak Lagi Jakarta.” Detikcom Finance, 24 Januari 2006. Diakses 14 Januari 2022 (arsip)
  6. Irsad (2006). “Investasi Grand Indonesia capai Rp2,3 triliun.” Bisnis Indonesia, 27 April 2006 Dipost via Skyscrapercity 28 April 2006.
  7. c95 (2007). “Mitra Adi Perkasa Ekspansi Rp 72 Miliar.” Investor Daily, 10 Mei 2007. Dipost via Skyscrapercity 11 Mei 2007.
  8. Iklan topping-off Grand Indonesia. KOMPAS, 14 Agustus 2007, hal. 9. Dipost via Skyscrapercity 16 Agustus 2007.
  9. Iklan pembukaan Harvey Nichols. KOMPAS, 23 Oktober 2008, hal. 25
  10. Iklan pindah Bank BCA ke Menara BCA. KOMPAS, 1 September 2008 hal. 14
  11. Halaman resmi Grand Indonesia, diakses 12 Januari 2022
    1. Kempinski Private Residence (arsip)
    2. Menara BCA (arsip)
    3. Tentang Grand Indonesia (arsip)
    4. Directory (arsip)
  12. as (2007). “Mal Grand Indonesia.” KOMPAS, 7 September 2007, hal. 55
  13. CallisonRTKL; Anggara Architeam (2006). “Exclusive Preview: Grand Indonesia Jakarta.” Majalah Indonesia Design vol. 3 No. 12, 2006, hal. 26-33
  14. Halaman CTBUH, diakses 12 Januari 2022
    1. Menara BCA
    2. Kempinski Private Residence
  15. Bambang Priyo Jatmiko (2016). “Ini Alasan Grup Djarum Mau Kelola Kawasan Hotel Indonesia Dengan Skema BOT.” KOMPAScom, 14 Maret 2016. Diakses 29 Desember 2021 (arsip)
  16. Bambang Priyo Jatmiko (2016). “Kerja Sama dengan Grand Indonesia, BUMN ini [Hotel Indonesia Natour] Berpotensi Rugi Rp. 1,2 Triliun.” KOMPAScom, 14 Maret 2016. Diakses 12 Januari 2022 (arsip)
  17. Bambang Priyo Jatmiko (2016). “Grand Indonesia: Kami Tak Menyalahi Ketentuan Perjanjian BOT dengan Hotel Indonesia Natour.” KOMPAScom, 14 Maret 2016. Diakses 12 Januari 2022 (arsip)
  18. Kun Wahyu Winasis (2010). “Merugi, MAPI tutup gerai Harvey Nichols.” KONTAN, 2 November 2010. Diakses 12 Januari 2022 (arsip)
  19. Adisti Dini Indreswari, Albertus M. Prestianta (2012). “Central Dep. Store bakal mejeng di Grand Indonesia.” KONTAN, 27 Juli 2012. Diakses 12 Januari 2022 (arsip)
  20. Indonesia Design (2009). “Kempinski Private Residence: A Five-Star Luxury.” KOMPAScom, 24 Agustus 2009. diakses 12 Januari 2022 (arsip)
  21. Iklan peresmian Grand Indonesia. KOMPAS, 22 Mei 2009, hal. 7
  22. Silvita Agmasari (2018). “Jalan-Jalan ke Grand Indonesia, Ini Pilihan Tempat Makannya.” KOMPAScom, 27 Januari 2018. Diakses 14 Januari 2022 (arsip)

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *