Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Di tubuh kawasan Jalan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat, yang merupakan salah satu tanah suci bagi kaum fanatik bangunan antik, menjulang dua menara apartemen dan hotel kembar lengkap dengan pusat belanja di lantai podium gedung tersebut yang diberi nama Braga City Walk. Gedung yang dikembangkan dan dikelola Agung Podomoro Group tersebut merupakan inisiatif pengembang untuk merevitalisasi kawasan dagang Jalan Braga yang sempat layu di tahun 2000an awal.

Ketika diperkenalkan pada tanggal 10 April 2004 di Hotel Hyatt Regency Bandung, pihak pengembang mengatakan bahwa kompleks ini akan berkonsep “heritage development” yang bertujuan menciptakan suasana baru kepada Jalan Braga dengan menyediakan jalan setapak sehingga memberi suasana nostalgia masa lalu. Proyek ini memang berbeda jauh dengan proyek Pemkot Bandung yang merevitalisasi Braga secara keseluruhan melalui tata ruang kota.

Braga City Walk
Dilihat dari Hotel Gino Feruci. Foto oleh mimin SGPC

Konstruksi proyek ini dimulai melalui sebuah peletakan batu pertama pada 27 Agustus 2004 oleh Walikota Bandung Dada Rosada. Proyek yang konstruksinya dilaksanakan oleh BUMN kontraktor Waskita Karya itu berlangsung dari Agustus 2004 hingga awal 2006, dengan Hotel Aston membuka operasionalnya di kompleks multiguna ini mulai Januari 2006; baik apartemen dan mallnya dibuka belakangan hari.

Setelah 15 tahun operasional, hotel di salah satu menara apartemen BCW berganti manajemen dan bersalin baju menjadi Grand Dafam, dibawah manajemen Dafam Hotel Management. Namun, Aston masih bercokol di BCW melalui favehotel di lantai terbawah mall tersebut, menyediakan 150 kamar sejak Oktober 2012.

Sementara mallnya sempat mengalami pasang surut. Saat awal dibuka, BCW sempat ditempati oleh Carrefour dan beberapa tenant lain yang akhirnya tutup. Sejak 2019, kata pengembang, mall ini direvitalisasi dengan memadukan fasilitas restoran, hiburan, relaksasi dan bisnis menjadi satu tempat.


Iklan

Fans bangunan kuno pun sempat dibuat keringat dingin dengan nasib Gedung Permorin/Fuchs & Rens

Proyek menara kembar ini memang kontroversial, terutama di mata para fanatik bangunan era Hindia Belanda. Mayoritas meletakkan kekhawatirannya pada nasib gedung Permorin (atau kerennya dibilang Fuchs & Rens, dilanowcy memang obsesif dengan kolonial Belanda) dan efek sosial di sekitar Gang Affandi.

Saat direncanakan, masyarakat menyambut positif keberadaan BCW, karena dianggap setidaknya mampu menyelesaikan masalah perparkiran akut di Jalan Braga dan diharapkan memberi dampak positif terhadap perdagangan di jalan bersejarah itu walau mereka sedikit mengritik adanya posisi tembok besar di dekat Gang Affandi.

Di sisi lain, yang gemeteran dengan BCW adalah fanatik bangunan antik. Keberadaan pusat belanja ini sempat dikhawatirkan bakal membuat pengembang lain mengikuti langkah Agung Podomoro dan BCW mempermak atau membongkar “cagar budaya” era Belanda untuk proyek-proyek yang lebih modern.

Secara retrospektif, kompleks ini menerima cap “mengganggu keadaan” kawasan cagar budaya Braga entah apa alasannya, apakah karena dianggap merusak ritme “semua gedung harus era kolonial” atau karena tinggi gedungnya. Fanatik bangunan antik memang sangat keras dalam melanggengkan atmosfir perkotaan era Hindia Belanda.

Untungnya, atmosfir Jalan Braga masih baik-baik saja, mungkin sikap antipati banyak fanatik bangunan antik terhadap pembangunan real estate Indonesia, dan pandangannya yang jauh lebih agresif pada arsitektur modern, adalah penyebab di balik kemunculan komentar miring pada proyek ini.


Iklan

Ingin membaur dengan bangunan tua Braga

Perancangan Braga City Walk dipercayakan kepada PTI Architects alias Peddle Thorp Indonesia, alias Prada Tata Internasional. Seperti yang SGPC singgung di paragraf awal artikel ini, konsep desain BCW adalah “heritage development” yang memberikan suasana baru kepada Jalan Braga, dengan menyediakan jalan setapak sehingga memberi suasana nostalgia masa lalu, dalam gaya hidup kontemporer (mimin tambah dari Indonesia Design zaman patriot).

Untuk mewujudkannya, pihak PTI Architects menerapkan gaya arsitektur gabungan art deco dan indisch di sebagian besar eksteriornya, dan tata ruang mallnya berkonsep “shopping street” (jalan pasar). Konon, menurut Indonesia Design, akan meriah dengan tata ruang berlapis dan sentuhan-sentuhan interior yang menarik.

Seperti yang SGPC bahas sebelumnya, kaum bangunan antik tidak pernah menanggapi positif keberadaan “sesuatu yang lebih baru” dari tahun tiga puluhan. Selain itu, BCW juga mempertahankan sebagian bekas gedung Permorin sebagai bagian dari perancangan ini. Awalnya dirancang terbuka, saat ini jalan pasar Braga City Walk sudah diberi atap.

Detail properti

Braga City Walk menjadi kontroversial karena berada di kawasan cagar budaya. Namun, gedung ini berkeinginan menjadi sebuah gedung yang menarik gaya indisch. Selengkapnya ada disini.
Tower apartemen dari Jalan Suniaraja. Foto oleh mimin SGPC

Soal info properti, Braga City Walk memiliki dua gedung pencakar langit yang tingginya sekitar 65 meter (hitung-hitungan versi SGPC dari penggaris, dan mengukur foto potongan samping di majalah Indonesia Design) yang difungsikan untuk hotel dan apartemen dengan luas lantai total mencapai 44.266 m2. Sementara 3 lantai terbawah, plus 1 basement, dengan luas lantai 16 ribu m2 difungsikan sebagai pusat belanja. Sangat sedikit tenant yang layak disebut di blog ini yang menempati ruang ritel BCW, yaitu bioskop XXI, Alfa Express dan Wendy’s yang menempati bekas gedung Permorin. Banyak ruang ritel yang menjadi Favehotel sejak 2012.

Di BCW sendiri terdapat dua hotel yang beroperasi di dalam kawasan ini yaitu Grand Dafam Hotel dan Favehotel. Grand Dafam sendiri menempati menara utara, menyediakan 112 unit kamar yang terbagi ke dalam 67 kamar hotel dan 45 kondotel; terbagi ke dalam kelas deluxe, business, executive dan suite 1, 2 dan 3 kamar tidur.

Sebelum renovasi, sebagai Hotel Aston Braga ia menyediakan 161 unit kamar yang terbagi ke dalam 40 kamar hotel (superior, deluxe, executive dan suite) dan sisanya (121 unit) adalah apartemen 1, 2 dan 3 kamar tidur. Sementara Favehotel menempati lantai yang lebih rendah, mungkin bekas supermarket, menyediakan 150 kamar (68 Faveroom, 48 Faveroom plus, 22 funroom, 6 funroom family dan 6 freshroom).

Sementara apartemennya yang menempati menara selatan minim informasi. Apartemen ini menyediakan 154 unit yang terbagi ke dalam tiga jenis unit, yaitu studio 1 kamar tidur (28 m2), 2 kamar tidur (56 m2) dan 3 kamar tidur (84 m2). Ia memiliki fasilitas kolam renang dan parkir yang berlokasi di tiga lantai basement, yang menampung 700 kendaraan roda empat.


Iklan

Data dan fakta

Jumlah menara2
AlamatJalan Braga No. 99 Sumur Bandung, Bandung, Jawa Barat
ArsitekIr. Doddy A. Tjahjadi (PTI Architects, arsitektur)
Rekamatra (struktur)
PemborongWaskita Karya
Lama pembangunanAgustus 2004 – 2006
Tinggi gedung (estimasi SGPC, kedua menara)65 meter
Jumlah lantai (kedua menara)17 lantai
4 basement
Jumlah unit (apartemen)154 (apartemen menara selatan)
45 (Grand Dafam)
Jumlah kamar67 (Grand Dafam, kamar hotel)
150 (Favehotel)

Referensi

  1. Advertorial (2004). “Braga City Walk: Proyek Prestisius di Lokasi Bersejarah.” Majalah Bisnis Properti (Panganian) No. 12, Agustus 2004, hal. 56-57
  2. “Braga City Walk.” Majalah Indonesia Design Vol. I No. 4, September-Oktober 2004, hal. 18-23
  3. “Ground Breaking Braga CityWalk.” Majalah Bisnis Properti (Panangian) No. 13, September 2004, hal. 126
  4. Iklan Braga City Walk. Pikiran Rakyat, 10 April 2004
  5. “Revitalisasi Braga yang Nyaris “Mati.” Pikiran Rakyat, 11 April 2004
  6. “Braga City Walk Bukan Konsep Pemkot.” Pikiran Rakyat, 13 April 2004
  7. “BCW Jangan Ubah Citra Braga.” Pikiran Rakyat, 14 April 2004
  8. “Kompensasi Mesti Jelas Jika BCW Jadi Dibangun.” Pikiran Rakyat, 17 April 2004
  9. Iklan Peletakan Batu Pertama Braga City Walk. Pikiran Rakyat, 28 Agustus 2004, hal. 17
  10. Arsip/Halaman resmi Braga City Walk:
    1. Diarsip Februari 2005
    2. Diarsip Februari-April 2012
    3. Diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  11. Arsip halaman resmi Waskita Karya, diarsip 21 Juli 2011
  12. Arsip halaman resmi Aston Bandung, diarsip 11 Maret 2006
  13. Halaman resmi Agung Podomoro Group, diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  14. Halaman resmi Hotel Grand Dafam Bandung, diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  15. Halaman resmi Favehotel Bandung Braga, diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  16. Rahmat Santosa Basarah (2020). “Aston Braga & Residence Bandung Berbagi Kebahagiaan.” Republika, 11 Februari 2020. Diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  17. Harry Purnama (2021). “DHM Resmikan Grand Dafam Braga Bandung.” Venuemagz, 1 Februari 2021. Diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  18. Amalia Nur Fitri (2021). “Aston Braga berganti nama menjadi Grand Dafam Braga Bandung.” KONTAN, 2 Februari 2021. Diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  19. ANTARA (2012). “Aston Buka Favehotel Braga, Bandung.” Investor Daily, 9 Oktober 2012. Diakses 19 Oktober 2022 (arsip)
  20. Gedung Permorin:
    1. Sugiri Kustedja. Pemberdayaan Jalan Braga Sebagai Kawasan Arsitektur Kolonial Tropis Bandung. Via Neliti (arsip)
    2. Hevi Fauzan (2020). “Braga, kawasan cagar budaya Kota Bandung yang terus terganggu.” Komunitas Aleut, 9 Agustus 2020. Diakses 19 Oktober 2022 (arsip)

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *