Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Setelah lama tidak membahas resort-resort besar di Nusa Dua, sekarang SGPC kembali membahasnya, dan giliran Hotel Melia Bali, alias dulunya Melia Sol atau Hotel Sol Bali (yang ada nama Sol di Bali sudah pindah ke Benoa dan nambah satu di Kuta). Secara historis, hotel resort empat lantai dengan luas tanah sepuluh hektar ini merupakan yang ketiga setelah hotel-hotel milik Pemerintah, (dahulu) Nusa Dua Beach dan Hotel Putri Bali/Merusaka Nusa Dua, sekaligus proyek murni swasta pertama di kawasan ITDC Nusa Dua.

Gedung kamar hotel

Iklan

Hotel Sol Bali, iya itu nama awalnya saat berdiri, merupakan hotel perdana Suryalaya Anindita Internasional yang dimiliki oleh konglomerasi Surya Internusa, sekaligus hotel pertama Grupo Melia Sol milik Gabriel Escarrer Julia, juragan hotel dari Spanyol, di Indonesia atau bahkan Asia Tenggara. Resort berbintang lima dengan 494 kamar (versi Surya Internusa) ini dirancang oleh Emilio Nadal de Olives, arsitek asal Spanyol dan merupakan karya pertamanya di Indonesia.

Jalan masuk ke lobi

Rencana pembangunan hotel ini sudah disinggung sejak Januari 1983 saat harian ABRI, Berita Yudha, mewartakan pembangunan kawasan ITDC Nusa Dua. Lima bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1983, melalui sebuah konferensi pers, Kepala Dirjen Pariwisata Departemen Perhubungan Joop Ave menyatakan bahwa pembangunan Hotel Sol bisa dilakukan setelah izin dari Presiden dikeluarkan. Izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal sudah dikeluarkan terlebih dahulu.

Ludwig Berger bisa dibilang merupakan otak di balik keputusan Escarrer Julia masuk Indonesia. Joop Ave mengatakan kepada Berita Yudha bahwa sekitar Oktober 1982, Berger mengisahkan keadaan di Nusa Dua kepada jajaran eksekutif Grupo Sol dan kisah tersebut menjadi alasan Escarrer Julia datang ke kawasan wisata rancangan pemerintah tersebut. Karena berminat, ia mulai menjajaki kerjasama dengan pengusaha-penguasha wisata Tanah Air.

Pembangunannya dilakukan oleh Nusa Raya Cipta dan Jamin Jaya (grup Bouraq Airlines) mulai sekitar 1983 bila perizinan dari Presiden lancar hingga selesai dibangun di tahun 1985. Operasional Bali Sol, bersamaan dengan Hotel Putri Bali, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 2 Desember 1985, menghabiskan biaya investasi Rp. 25 milyar (1985). Di awal-awal operasionalnya, hotel ini tersangkut masalah dengan wisatawan Jerman yang mengamuk gegara masalah tidak mendapatkan kamar yang mereka pesan.

Desain yang diusung oleh Emilio Nadal – yang juga menukangi hotel Melia lain di Jakarta – taklah jauh dari yang namanya arsitektur Bali. Mengutip halaman resminya yang hanya ditulis dalam Bahasa Spanyol sehingga hasil terjemahannya jadi tidak wajar, konsepnya menonjolkan sisi-sisi alam Bali seperti pemakaian batu padas, kolom-kolom gedung yang terilhami oleh nyiur pohon kelapa, dan suasana asri alam Bali. Penempatan gedungnya berpatokan pada “modul 4 x 4 m2” sehingga menghasilkan struktur yang mengotak, dan adanya ruang tambahan yang bisa dijadikan atrium. Namun, dari atas, bentuknya macam T yang dibuat patah.

Seperti yang disinggung di paragraf dua, Hotel Melia Bali memiliki 494 kamar yang dibagi kedalam dua tipe kamar (Melia dan Premium), empat tipe suite (Family, Junior, Romance, Presidential) dan vila, dengan pembagian berdasarkan fasilitas dan tawaran pemandangan taman atau kolam renang. Secara fasilitas, ia memiliki 2 restoran (Sorrento Mediterranean dan El Patio), lounge di lobby, fasilitas olahraga dan 11 ruang rapat.


Iklan

Semua foto di artikel ini adalah public domain/domain publik.

Data dan fakta

Nama lamaBali Sol
Melia Sol Bali
AlamatLot North 1 Kawasan BTDC Nusa Dua, Kab. Badung, Bali
ArsitekEmilio Nadal de Olives
Pemborong (J.O.)Nusa Raya Cipta
Jamin Jaya
Lama pembangunan1983 – 1985
Diresmikan2 Desember 1985
Jumlah lantai4 lantai
Jumlah kamar494 kamar
Biaya pembangunanRp. 25 milyar (1985)
Rp. 456 milyar (inflasi 2023)

Referensi

  1. “Sebuah Hotel Baru Mulai Dibangun di Nusa Dua.” Berita Yudha, 17 Mei 1983, hal. 6 dan 10
  2. hk (1983). “Sebuah hotel lagi untuk Nusa Dua.” KOMPAS, 17 Mei 1983, hal. 2
  3. Deetje Budhiati (1983). “Nusa Dua, salah satu komponen pembangunan pariwisata di Bali.” Berita Yudha, 25 Januari 1983, hal. 9
  4. A.J.F. Makiwawu (1983). “Nusa Dua, untuk wisatawan yang ‘tahan resesi’.” Berita Yudha, 4 Juni 1983, hal. 6
  5. sel/pur (1985). “Presiden mengajak, bahu-membahu tingkatkan kegiatan kepariwisataan.” KOMPAS, 3 Desember 1985, hal. 1
  6. sari (1986). “Daerah Sekilas: Denpasar.” KOMPAS, 25 Februari 1986, hal. 9
  7. Halaman resmi Surya Internusa, diakses 6 Maret 2023 (arsip)
  8. Halaman resmi Hotel Melia Bali, diakses 6 Maret 2023 (arsip)
  9. Halaman resmi Nadal Arquitectos, diakses 6 Maret 2023, dalam bahasa Spanyol (arsip)

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *