Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Hotel Aryaduta Menteng, atau sebelumnya bernama Hotel Hyatt Aryaduta dan nama tentatifnya Ambassador Aryaduta, adalah hotel berbintang lima yang berlokasi di Jalan KKO Usman & Harun (eks Prapatan) di Menteng, Jakarta Pusat, dimiliki dan dioperasikan secara mandiri oleh Grup Lippo selaku pemilik merk Aryaduta. Hotel dengan 302 kamar ini dibangun dalam dua tahap mulai tahun 1970 hingga selesai keseluruhan pada akhir tahun 1987.

Selama sejarahnya, Hotel Aryaduta Menteng dikelola dan dimiliki oleh keluarga B.M. Diah yang merupakan pemilik dan pengelola harian Merdeka, Indonesia Observer dan majalah Keluarga hingga di tahun 1997 berhasil diakuisisi oleh Grup Lippo dan menjadi awal dari merk hotel Aryaduta.

Hotel Aryaduta Jakarta
Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sejarah Hotel Aryaduta Menteng: Proyek properti tokoh kemerdekaan Indonesia

Lahan Hotel Aryaduta Jakarta saat ini sebelumnya merupakan rumah orang tua Herawati Diah, istri dari wartawan pemilik harian Indonesia Observer dan Merdeka, pengusaha dan tokoh kemerdekaan Indonesia, B.M. Diah. Rumah orang tua Herawati sudah dibongkar untuk membangun hotel berlantai 17 tersebut yang akhirnya mulai dipancang pada tanggal 12 Agustus 1970. Dimotivasi oleh kebijakan liberalisasi ekonomi oleh Presiden Soeharto dan keinginan Ali Sadikin memodernisasi Jakarta, keluarga Diah bisa mewujudkan pemanfaatan bekas rumah orang tua Herawati Diah untuk membangun hotel yang saat rencana awal bernama Ambassador.

Pembangunan tahap pertama Hotel Aryaduta Jakarta dilaksanakan oleh Waskita Karya mulai Agustus 1970 hingga hotel ini selesai dibangun pada tahun 1974; pada 12 Juni 1974, dua bulan pasca-konferensi PATA, Hotel Ambassador Aryaduta baru dibuka untuk umum. Wing asli hotel bintang lima tersebut dirancang oleh arsitek Thailand, Wirachai Wongpanit, yang merancang beberapa hotel-hotel di Thailand, dan juga teman dekat anak Herawati Diah. Strukturnya ditangani oleh RBW Engineers yang juga merancang Menara TVRI. 3,5 milyar rupiah (1974) dihabiskan untuk membangun hotel mewah ini.

Dua tahun awal operasional Hotel Ambassador Aryaduta dimanajeri oleh maskapai penerbangan Perancis UTA melalui Hotels UHA. Namun, kerjasama UTA dengan Hotel Prapatan hanya bertahan sebentar karena tidak memberi keuntungan yang berarti baik dalam bentuk kontrak manajemen maupun dalam bentuk waralaba. Wawancara Herawati Diah dengan Majalah Eksekutif pada akhir tahun 1980 memberi indikasi bahwa faktor kurangnya pemahaman pada pasar Asia, masalah bahasa (UTA masih kekeuh memakai Bahasa Perancis sebagai bahasa komunikasi resminya sementara pasar Asia lebih paham dengan bahasa Inggris) dan pemasaran menjadi pendorong diakhirinya kerjasama UTA-Hotel Aryaduta.

Pada tanggal 18 Desember 1975, kesepakatan kontrak manajemen antara Hotel Prapatan dan Hyatt International, diteken, sehingga pengelolaan hotel berpindah ke Hyatt mulai 1 Januari 1976 dan berganti nama menjadi Hotel Aryaduta Hyatt. Wawancara Herawati dengan Majalah Eksekutif menyebut bahwa Hyatt menawarkan kontrak manajemen kepada pihak Hotel Prapatan sebagai hotel kedua jaringan hotel Amerika tersebut di Indonesia setelah di Sanur. Kontrak tersebut tetap berjalan sampai 31 Oktober 2008.

Saat pertama dibuka pada 1974, Hotel Aryaduta memiliki 270 kamar, kedai kopi Arafura, rumah makan Andrawina, dan beberapa balai rapat dan sidang. Seorang wartawan KOMPAS memuji interior hotel yang dianggapnya telah berhasil memanfaatkan bahan dalam negeri. Suasana interiornya didukung oleh rancangan apik dari Herawati Diah dan seorang perancang interior Thailand lainnya.

hotel aryaduta menteng jakarta 1970an
Hotel Aryaduta sebelum renovasi
Foto: tidak diketahui, disadur dari Welcome to Jakarta terbitan Editions Delroisse Montreal

Merenovasi dan memperluas Aryaduta Hyatt (1982-1987)

Sejak tahun 1982, pengelola memulai penyegaran pada kamar-kamar di Aryaduta Jakarta dan bersamaan dengan itu merencanakan pembangunan perluasan gedung hotel di lahan yang saat itu dimiliki oleh Korps Wanita Angkatan Laut atau Kowal, dengan rancangan arsitektur oleh Chhada Siembieda & Associates dengan Atelier 6. Tukar guling antara Hotel Prapatan dan Kowal berlangsung mulus; namun rencana tersebut agaknya tidak berjalan sesuai rencana. Renovasi tetap berjalan lancar, per 1982 jumlah kamar yang tersedia susut jadi 221 buah.

Puas dengan kinerja Aryaduta Hyatt, pada tahun 1985, kontrak manajemen Hyatt dan Hotel Prapatan untuk mengelola Aryaduta Jakarta diperpanjang lagi. Dalam waktu yang sangat bersamaan, hotel berlantai 17 dengan ketinggian 64 meter ini baru diperluas pada bulan Agustus 1985. Tidak lagi dirancang orang Thailand dan dibangun orang Indonesia, perancangan ekspansi dan renovasi Aryaduta dilakukan oleh konsorsium bernama SWACCON – Shimizu Corporation, Wiratman & Associates dan Chhada Siembieda & Associates, dan dibangun oleh konsorsium Shimizu Dextam dan Itochu.

Perluasan Hotel Aryaduta Hyatt, bernama Ambassador Wing, dengan biaya pembangunan mencapai 33 milyar rupiah (1987, 20 juta USD 1987) ini menambah luas lantai kotor menjadi 35 ribu meter persegi, serta jumlah kamar dari 221 menjadi 341 buah. Penampilan perluasan yang terlihat terpisah dan dihubung jembatan berlapis kaca, tersebut memiliki pertimbangan struktur, terutama pertimbangan keselamatan mengenai penurunan tanah gedung dan faktor gempa, menurut penuturan Wiratman di Majalah Konstruksi ed. November 1987.

Perluasan tersebut, selain memberi tambahan 108 kamar, juga menambah ruang untuk tenis, sasana kebugaran, rumah makan dan kolam renang.

Pembangunan memakan waktu 22 bulan, selesai dibangun per Juni 1987 dan sudah operasional sejak Oktober 1987. Perluasan dan renovasi Aryaduta Hyatt ini diresmikan ibu negara Tien Soeharto, bersama dengan Menparpostel Achmad Tahir dan Herawati Diah pada 7 Desember 1987. Dua tahun kemudian, dua hari menjelang gegap gempita tahun Dilan (30 Desember 1989), Hotel Aryaduta Hyatt resmi mendapat klasifikasi hotel bintang lima dari Depparpostel. Per awal 1991, Aryaduta Hyatt adalah rival sengit Hilton Jakarta milik keluarga Sutowo.


Iklan

Hotel Hyatt tanpa embel-embel Hyatt…… dan kejadian terakhir

Dengan dibukanya Grand Hyatt di atas Plaza Indonesia pada 5 April 1991, maka ada dua hotel di bawah pengelolaan Hyatt International di Jakarta. Manajemen di Thamrin meminta Hotel Prapatan membuang nama Hyatt di materi promo dan hotel mereka karena dianggap merusak strategi pasar hotel yang gedungnya dirancang Hellmuth, Obata & Kassabaum itu.

Walau Hyatt International tidaklah berkeberatan, saat renovasi, Hyatt membuat klausa perjanjian dengan Hotel Prapatan yang akan memberitahukan pihak Hotel Prapatan bila Hyatt berkehendak menurunkan nama Hyatt dari hotel tersebut. Hal inilah yang menyebabkan Hotel Prapatan memutuskan hanya menurunkan nama Hyatt dari gedung hotelnya sejak awal September 1991. Di belakang layar, manajemen Hyatt International dipertahankan dengan alasan pemasaran dan pemangkasan biaya manajemen yang harus disetor ke Hyatt.

Hotel Aryaduta Jakarta
Foto oleh mimin SGPC

Pada tahun 1997, Hotel Prapatan dan merk Aryaduta diambil alih Grup Lippo; tahun yang sama, hotel berlantai 17 tersebut selesai menjalani renovasi dengan penampilan akses publik yang lebih segar, dan dengan 325 kamar yang sudah direnovasi, terbagi ke dalam enam tipe kamar. Sekitar 2004-05 Lippo merenovasi kembali Hotel Aryaduta Menteng sebagai bagian dari pemenuhan perpanjangan kontrak manajemen dengan Hyatt. Ditenggat kontrak berakhir pada 2015, pada 31 Oktober 2008, Hyatt dan Lippo pecah kongsi, melahirkan panji merk hotel independen Aryaduta.

Informasi hotel

Hotel berlantai 17 saat ini memiliki 302 kamar yang terbagi ke dalam 9 kategori kamar. Secara eksterior, sebelum renovasi Hotel Aryaduta memiliki aksen cokelat mirip dengan hotel berlanggam brutalist dan sedikit elemen pola, kontras dengan hotel karya Wirachai Wongpanit lainnya, Hotel Royal Cliff di Pattaya, Thailand. Penampilan hotel pasca-renovasi pada 1987 dan saat ini hampir bisa dikatakan hampir sama (sebelumnya sempat dicat pastel), dengan podium lobi sudah direnovasi untuk memenuhi tuntutan pelayanan hotel yang lebih baik.

Di era Lippo, ciri khas internasional semakin menonjol di rumah makan. Rumah makan di Hotel Aryaduta (Agoda/Booking) terdiri dari JP Bistro (lokal dan internasional), Ambiente (Italia), Shima (Jepang), Pool Cafe dan Lounge. Sementara untuk ruang rapat, Hotel Aryaduta memiliki 21 buah yang terbagi ke dalam 10 jenis: Grand Ballroom, Mezzanine Ballroom, Monas I-VI, Ambassador Lounge dan Boardroom. Untuk fasilitas lainnya, terdapat kolam renang, sasana kebugaran dan spa.

Di masa pengelolaan B.M. Diah, salah satu ruangan diberi nama Latip untuk mengenang peran ayah Herawati Diah yang merupakan dokter pribumi di masa kolonial Belanda, dan lukisan karya Basuki Abdullah di lobi yang menggambarkan peran media massa dalam pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia.


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaHotel Ambassador Aryaduta
Hotel Aryaduta Hyatt
Nama lainHotel Aryaduta Jakarta
AlamatJalan KKO Usman-Harun No. 44-48 Gambir, Jakarta Pusat, Jakarta
Arsitek (gedung utama)Wirachai Wongpanit (arsitektur)
RBW Engineers Consultant (struktur)
Arsitek (Ambassador Wing – konsorsium SWACCON)Shimizu Corporation
Wiratman & Associates
Chhada Siembieda & Associates
Pemborong (gedung utama)Waskita Karya
Pemborong (Ambassador Wing, J.O.)Shimizu Dextam
Itochu
Lama pembangunan (gedung utama)Agustus 1970 – awal 1974
Lama pembangunan (Ambassador Wing)Agustus 1985 – Juni 1987
Dibuka (gedung utama)12 Juni 1974
Dibuka (Ambassador Wing)Desember 1987
Jumlah lantai17 lantai
Tinggi gedung64,4 meter
Jumlah kamar302
Biaya pembangunan (gedung utama)Rp 3,5 milyar (1974)
Rp 242,6 milyar (inflasi 2023)
Biaya pembangunan (Ambassador Wing)Rp. 33 milyar (1987)
Rp. 529,2 milyar (inflasi 2023)
Referensi: Merdeka 13/8/1970; KOMPAS 12/8/1970; KOMPAS 13/6/1974; Majalah Konstruksi #115 November 1987; ANTARA 7/12/1987

Referensi

  1. Laman resmi Hotel Aryaduta Menteng, diakses 5 November 2020 (arsip)
  2. pam (1970). “Hotel ‘The Ambasador’ Mulai Digarap”. KOMPAS, 12 Agustus 1970, hal. 2
  3. “Satu Hotel Baru Akan Berdiri”. Merdeka, 12 Agustus 1970, hal. 1
  4. “Sebuah Hotel Akan Didirikan”. Merdeka, 13 Agustus 1970, hal. 2
  5. Thn (1974). “Hotel Ambasador Mulai Beroperasi”. KOMPAS, 13 Juni 1974, hal. 2
  6. “Manajemen Hotel Aryaduta Oleh Hyatt”. Merdeka, 20 Desember 1975, hal. 2
  7. Urip Yustono (1987). “Perluasan Hotel Hyatt Aryaduta: Konsep jembatan menghubungkan bangunan lama dan baru”. Majalah Konstruksi No. 115, November 1987, hal. 32-37
  8. “Ibu Tien Peresmian Hotel Aryaduta Hyatt DKI”. ANTARA, 7 Desember 1987. Diakses via Soeharto.co (arsip)
  9. Rosita Yahya (1990). “Apa, Siapa?: Hyatt.” KOMPAS, 7 Januari 1990, hal. 11
  10. “Nama dan Logo Baru Aryaduta”. Warta Ekonomi, 9 September 1991, hal. 57
  11. “Satu Kota Satu Hyatt”. Tempo, 21 September 1991
  12. Teguh P. & Irma Nurhayati (1992). “Masih Diperingkat Ketiga.” Majalah Prospek, 18 April 1992, hal. 79-80
  13. Annual Report Lippo Karawaci Tbk.: 2005, 2008 (arsip: 2005, 2008)
  14. Lippo Merambah Pelbagai Lini“. GATRA, 15 Agustus 2012.
  15. Imelda Akmal (2012). “Wiratman: Momentum & Innovation 1960-2010”. Jakarta: Imajibooks.
  16. “New look for Hyatt Aryaduta” (Penampilan baru Hyatt Aryaduta). Travel Indonesia Vol. 4 No. 10, Oktober 1982, hal. 17-18
  17. Jasso Winarto (1980). “Bisnis Perhotelan: Sebuah “Boom”?” Majalah Eksekutif No. 18, Desember 1980, hal. 59-68
  18. Debra Yatim (1981). “Herawati Diah: Suka melihat sesuatu tumbuh.” Majalah Eksekutif No. 19, Januari 1981, hal. 8-21
  19. Karol Gess (1974). “A Study of French Travel Habits and Patterns” (Studi Kebiasaan dan Pola Berwisata Masyarakat Perancis). Washington DC: U.S. Travel Service, Office of Research & Analysis. Hal. 27
  20. “Fase akhir renovasi Aryaduta.” Media Indonesia, 3 Juni 1997 hal. 16

Lokasi

Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini dan eksklusif, dan bila anda perlu bahan dari koleksi pribadi SGPC, anda bisa mengunjungi TORSIP SGPC. Belum bisa bikin e-commerce sendiri sayangnya....


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *