Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Hotel Hyatt Regency Bali di Sanur adalah salah satu hotel bintang lima legendaris yang berdiri di Jalan Danau Tamblingan. Hotel yang dimiliki oleh PT Jakarta Setiabudi Internasional ini menempati lahan seluas 8,4 hektar (sebelumnya 19 hektar di tahun 1970an, mungkin lahannya dipakai Andaz Bali yang juga satu frekuensi, punya JSI dan dioperasikan Hyatt) yang menampung 363 kamar dengan konsep resort tropis yang sarat akan kebun. Sangat banyak orang yang terlibat dalam karya cipta arsitektur Indonesia yang tak banyak diketahui ini sehingga SGPC bahas di bagian lain.

Hyatt Regency Bali di Sanur layak dikatakan legendaris karena sejarahnya yang tidak lepas dari booming pariwisata di Pulau Dewata semenjak pagelaran PATA 1974. Pembangunan yang dilaksanakan oleh kontraktor swasta Decorient tersebut berlangsung mulai bulan Juni 1972 hingga selesai dibangun Oktober 1973, menghabiskan biaya 8 juta dolar AS atau 3,3 milyar rupiah nilai 1973 (1 USD = Rp. 415 harga tetap). Dalam artikel Majalah Konstruksi edisi Mei 1995, hotel ini bersama dengan Hotel Sanur Beach adalah proyek bangunan awal perusahaan blasteran Indonesia-Belanda (sekarang asli Indonesia) tersebut.

Operasional terbatas dengan nama Bali Hyatt dimulai pada 5 Oktober 1973. Hotel bertingkat tiga ini dimiliki saat itu oleh Wynncor Bali, yang kini 60 persen sahamnya menjadi bagian dari Jakarta Setiabudi Internasional setelah sebelumnya berganti kepemilikan, apalagi di kurun 1973-1978, sudah dua kali berganti dari investor Amerika ke investor Hongkong.

Bali Hyatt akhirnya dipelaspas secara Hindu dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 14 November 1973. Hotel ini sudah tiga kali mengalami renovasi. Renovasi pertamanya dilakukan secara total ke seluruh 385 kamar (saat itu) sejak akhir tahun 1983 hingga rampung awal 1985, menyegarkan penampilan kamar saat itu. 10 tahun kemudian, ketika Editions Didier Millet melempar buku “Great Hotel & Resorts of Indonesia” ke toko-toko buku pada tahun 1994, Bali Hyatt sudah menjalani renovasi kedua senilai 12 juta dolar AS, alias 26 milyar rupiah nilai saat itu.

Renovasi ketiga terjadi pada November 2013, HUT ke-40, saat hotel tersebut tersebut ditutup untuk renovasi besar-besaran yang ternyata berlangsung hingga enam tahun. Dalam renovasi yang dilakukan oleh Tunas Jaya Sanur dan Nusa Raya Cipta, hotel ini menerima perombakan di fasilitas umum, kamar-kamar, restoran hingga MICE (alias balai sidang). Hotel ini juga menerima tambahan bangunan baru. Selain itu, renovasi juga merestorasi taman rimbun dan karya-karya seni yang menjadi ciri khas dari hotel ini. Renovasi Bali Hyatt selesai pada tahun 2019 dan dibuka dengan nama baru Hyatt Regency Bali mulai Tahun Baru (1 Januari) 2019.


Iklan

Sira ngaryanang Hyatt Regency Sanur?

Hotel Hyatt Regency Sanur
Salah satu blok hotel. Foto oleh mimin SGPC

Hyatt Regency Bali di Sanur dirancang oleh legiun arsitektur Australia di Bali, mulai dari Kerry Hill (yang saat itu magang di Palmer & Turner) untuk arsitekturnya dan Michael White alias Made Wijaya untuk tata kebunnya. Sementara Dale Keller merias isi kamar hotel. Beberapa versi menyebut sesepuh arsitektur modern Sri Lanka Geoffrey Bawa, atau legiun arsitektur negeri kangguru di Pulau Dewata lainnya, Peter Muller, sebagai perancangnya. Namun, setelah bolak balik cari referensi dari literatur terkait Geoffrey Bawa, dan ketiadaan bukti Muller merancang Hyatt Regency Sanur versi awal, maka amanlah SGPC untuk menganggap Kerry Hill arsitek hotel ini.

Banyak catatan sejarah arsitektur hotel di Bali yang sayangnya ditulis dalam bahasa Inggris yang berarti sejarah arsitek kita masih terkesan tidak merakyat.

Laporan KOMPAS mengenai hotel ini menyebut desain eksterior hotelnya berbentuk seperti benteng, yang kemungkinan merujuk pada tiga gedung berbentuk kotak yang berjejeran bila dilihat dari udara; sementara majalah Travel Indonesia menyebutnya sebagai sebuah revolusi karena memadukan karya seni tradisional dengan desain modern dan futuristik ala Barat.

Interior awal dari rancangan Dale Keller jauh lebih banyak nuansa Bali-nya yaitu pemakaian kelapa, bambu hingga ilalang yang bisa dipetik di Indonesia sendiri dalam materialnya, dipadu dengan eksterior beton kasar alias brutalist. Setiap kamar di gedung kotak berjejeran dan ditumbuhi tanaman rambat ini berteras alias punya balkon. Dahulu, hotel ini punya sawah sendiri, namun entah kenapa elemen lanskap ini dihilangkan.

Sementara renovasinya dilakukan oleh tim arsitek dari Jepang, yaitu Studio SPIN pimpinan Yasuhiro Koichi bersama dengan biro dari Thailand, Tierra Design dan tim arsitek lokal dari SHL Asia, sementara orang Rimba Bali Garden mendapat jatah menata kembali pekarangan sarat pohon ciptaan Michael White alias Made Wijaya.

Dalam catatan beberapa media seperti Destinasian dan majalah Marketeers, dilaporkan bahwa perubahannya lebih didominasi nuansa modern Bali yang dicampur-campur dengan nuansa Jepang. Dari pihak SHL Asia disebutkan bahwa renovasi ini tidak mengubah karya seni awal zaman Dale Keller dulu. Namun, dalam berita Marketeers, sebenarnya karya seninya pindah. Seperti batik cap di kamar-kamar yang akhirnya dipajang di lounge Regency Club. Ukiran juga pindah ke lobi.

Hyatt Regency Sanur, per tahun 2022, menyediakan 363 kamar yang terbagi ke dalam tiga tipe suite dan dua tipe kamar (king dan twin), bedanya hanya di fasilitas dan tawaran yang didapat. Ia menyediakan juga restoran Italia Pizzaria, Omang-Omang khas Indonesia dan lounge, lima wantilan buat acara-acara dengan kapasitas maksimal 140 orang (Wantilan 1) serta fasilitas ala resort semacam kolam renang dan spa.


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaBali Hyatt
AlamatJalan Danau Tamblingan No. 89, Sanur, Denpasar, Bali
Arsitek (1973)Kerry Hill (Palmer & Turner, arsitektur)
Michael White alias Made Wijaya (tata kebun)
Arsitek (renovasi)Studio SPIN Tokyo (arsitektur)
Tierra Design (arsitektur, interior)
SHL Asia (arsitektur, interior)
Rimba Bali Garden (tata kebun)
Pemborong (1973)Decorient Indonesia
Pemborong (renovasi 2014, J.O.)Nusa Raya Cipta
Tunas Jaya Sanur
Lama pembangunanJuni 1972 – November 1973
Lama renovasi (renovasi 2014)Oktober 2013 – Desember 2018
Jumlah lantai4 lantai
Jumlah kamar363
Biaya pembangunan (1973)Rp. 3,3 milyar (1973)
Rp. 316 milyar (inflasi 2022)
Biaya pembangunan (renovasi 1994)Rp. 26 milyar (1994)
Rp. 208 milyar (inflasi 2022)

Referensi

  1. Sari (1973). “Hotel Serba Bambu.” KOMPAS, 26 Oktober 1973, hal. 10
  2. KNI (1973). “Dibuka Resmi 14 Nopember yad.” KOMPAS, 15 Oktober 1973, hal. 6
  3. pw (1973). “Presiden resmikan “Bali Hyatt Hotel”.” KOMPAS, 15 November 1973, hal. 1
  4. Paul Blair (1994). Great Hotels & Resorts of Indonesia. Singapura: Archipelago Press. Halaman 131-133
  5. Gianni Francione (2000). Bali Modern: The Art of Tropical Living.” Singapura: Periplus Editions. Halaman 13
  6. Annual Report dan halaman resmi Jakarta Setiabudi Internasional:
    1. Annual Report 2013, hal 44, diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
    2. Annual Report 2019, hal. 154, 158, diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
    3. Profil PT Wynncor Bali, diarsip 14 April 2006
  7. Bali Hyatt Bersiap Kembali Remaja.” Majalah Dewi, 15 Agustus 2013. Diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  8. Renovasi Masif Bali Hyatt.” DestinAsian, 23 Oktober 2013. Diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  9. Rilis pers (2019). “Preserving Bali Hospitality: The Restoration of Hyatt Regency Bali” (Restorasi Hyatt Regency Bali, merawat keramahan ala Bali). Halaman resmi SHL Asia, 6 April 2019, diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  10. Annisa Bella Syana S. (2019). “Warna Baru Hyatt Regency Bali Usai Lima Tahun Renovasi.” Marketeers, 7 Januari 2019. Diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  11. Bali Hyatt Kembali Beroperasi.” DestinAsian, 23 Oktober 2018. Diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  12. Aulia R. Sungkar (2021). “How Yasuhiro Koichi Creates Sense of Place at Andaz Bali” (Cara Yasuhiro Koichi hadirkan suasana Bali di Andaz Bali). Indonesia Design, 30 Juli 2021. Diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  13. Australian architect Kerry Hills dies” (Arsitek Australia, Kerry Hills, wafat). Alternative Voice via Bali Advertiser, September 2019. Diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  14. Halaman resmi Hyatt Regency Bali, diakses 21 Oktober 2022 (arsip)
  15. “The hand crafted Bali Hyatt: A blend of Western technology and native art” (Bali Hyatt: Perpaduan teknologi Barat dan seni tradisional). Travel Indonesia Vol. 2 No. 8, Agustus 1980, hal. 13-14
  16. “Bali Hyatt launches major renovation of guestrooms” (Bali Hyatt adakan renovasi kamar hotel besar-besaran). Travel Indonesia Vol. 5 No. 11, November 1983, hal. 13
  17. “Bali Hyatt completes room renovations” (Bali Hyatt rampungkan renovasi kamar). Travel Indonesia Vol. 7 No. 3, Maret 1985, hal. 27
  18. Aria (1995). “Seperempat Abad PT Decorient Indonesia: Selalu mengutamakan keselamatan dan kualitas.” Majalah Konstruksi No. 205, Mei 1995, hal. 59-62

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Atau, bila anda berminat dengan artikel majalah yang dikutip oleh blog ini, sekaligus butuh referensi, belilah di TORSIP SGPC!


Bagaimana pendapat anda......

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights