Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan menara perkantoran kembar yang berdiri di dalam kawasan Sudirman Central Business District/Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD/KNTS), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Gedung yang masing-masing memiliki ketinggian 140 meter dan 32 lantai dengan luas lantai total 205 ribu meter persegi dirancang oleh Brennan Beer Gorman (sekarang BBGM) bersama dengan konsorsia konsultan lokal dari Arkonin, Atelier 6 dan Encona Engineering.

Gedung ini merupakan tiga gedung tinggi pertama yang dibangun di kawasan Sudirman Central Business District, bersama dengan Gedung Artha Graha dan Apartemen Kusuma Chandra (awalnya Casabella), tepatnya di lot 2. Gedung BEI sering tampil di media massa bersama dengan kantor Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan karena penghuni utamanya, Bursa Efek Indonesia, memerankan peran krusial dalam ekonomi Indonesia.

Gedung Bursa Efek Indonesia menara 1. Gedung berlapiskan kaca biru di Jakarta.
Menara kembar yang agung dan berperan penting dalam ekonomi Indonesia. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sebelum 1995, Bursa Efek Jakarta (BEJ) berkantor di Jalan Medan Merdeka Selatan. Pada tanggal 15 Juni 1992, BEJ menandatangani kesepakatan dengan Danareksa Jakarta Internasional, sebuah patungan Danareksa dan Jakarta International Hotel & Development, yang akan membangun Gedung BEJ. Peletakan batu pertama pun terjadi tiga hari kemudian, dihadiri beberapa pejabat penting.

Brennan Beer Gorman terpilih untuk merancang Gedung BEJ setelah mengalahkan tim arsitek dari Australia, Hong Kong dan Jepang dalam sebuah sayembara rancang bangun Gedung BEJ.

Baru pada awal Januari 1993, pembangunan tahap pertama Gedung BEJ dimulai, terdiri dari sebuah gedung berlantai 32 (140 m) dan podium 4 lantai yang berfungsi sebagai lantai bursa, dibangun oleh Duta Graha Indah. Pembangunan kantor BEJ tahap pertama tutup atap pada bulan Agustus 1994, dan Gedung BEJ tahap pertama sudah jadi pada sekitar 1995.

Bursa Efek Jakarta resmi pindah ke gedung baru ini sejak 22 Mei 1995, yang juga mengakhiri era perdagangan saham manual. BEJ mulai memanfaatkan sistem perdagangan saham tak berwujud bernama JATS (Jakarta Automated Trading System) dari gedung ini. Setelah operasional selama 5 bulan, penggunaan Gedung BEJ diresmikan Presiden Soeharto pada 3 Oktober 1995, dan di penghujung tahun 1997, kembarannya, dibangun oleh Ssangyong Engineering & Construction, telah selesai dibangun.

Bom Gedung BEJ, September 2000

Gedung Bursa Efek Indonesia menjadi sasaran bom mobil saat Indonesia dilanda gelombang tindak pidana terorisme pada tahun 1998-2002. Pada siang tanggal 13 September 2000, sebuah mobil Toyota Corona Mark II yang menyimpan bom TNT dan RDX meledak di lantai basement 2 gedung yang digunakan sebagai parkir mobil, menewaskan 10 orang dan melukai 34 lainnya. Motifnya dilandasi oleh keserakahan mengambil untung di balik labilnya pasar keuangan Indonesia saat itu.

Kerusakan pada bangunan tergolong ringan; lantai P2 dan P1 alias basement parkir rusak berat. Tetapi efek psikologis dari peristiwa ini sangat berat; saat itu, IHSG anjlok 9 poin lebih dari 451 ke 442, kantor-kantor di gedung BEJ tutup dan perdagangan saham dihentikan hingga 18 September 2000. Selama 15 sampai 17 September 2000, lantai basement parkir diperbaiki

Dalang dan perakit bom, yang terdiri dari pemilik bengkel eks kombatan GAM hingga desertir TNI-AD dan Kopassus, diringkus polisi beberapa minggu berselang. Pemilik bengkel bebas; sementara kedua desertir TNI-AD dihukum penjara seumur hidup.


Iklan

Gedung Bursa Efek Indonesia tower 2
Tower 2 yang mezaninnya rontok pada 2018. Foto oleh mimin SGPC

Runtuhnya Mezanin BEI II, 15 Januari 2018

Gedung Bursa Efek Indonesia kembali menjadi sorotan media saat mezanin lantai 2 gedung BEI II yang dipasang sejak tahun 2009, tiba-tiba rontok pada siang 15 Januari 2018. Kejadian tersebut menyebabkan 77 korban terluka, mayoritas patah tulang.

Kementerian PUPR menemukan bahwa sumber penyebab dari rontoknya mezanin alias selasar lantai dua Gedung BEI II adalah gagalnya sambungan pengait tembok prategang (prestressed concrete strand) yang difungsikan sebagai penggantung, yang diakibatkan dari ketidakoptimalan perilaku penguncian sambungan jangkar (wedge pada barrel). Ketidakoptimalan itu dipicu kecilnya beban konstruksi pada pengait/strand, dan pada akibatnya muncul fluktuasi tegangan.

Selain kegagalan struktur, Kementerian PUPR juga menyebut bahwa pengait PC strand dengan sambungan jangkar wedge dan barrel tidak tepat digunakan untuk sistem penggantung. Kesimpulan singkatnya, kejadian rontoknya mezanin BEI II dipicu kesalahan prosedur dalam penerapan struktur.


Iklan

Arsitektur dan profil menarik Gedung Bursa Efek Indonesia

Gedung Bursa Efek Indonesia tower 1
Tower 1 BEI yang dibangun pemborong lokal. Foto oleh mimin SGPC

Gedung rancangan Brennan Beer Gorman ini diklaim oleh pemilik gedung “siap untuk menyongsong globalisasi abad ke-21,” dengan konsep sebagai gedung dengan sentuhan profesional pribadi dan menjadi tetenger Jalan Sudirman. Berlokasi dekat dengan Jembatan Semanggi, Gedung BEI bisa diakses dari Jalan Gatot Subroto, Jenderal Sudirman maupun Senopati.

Gedung Bursa Efek Indonesia dilapisi polesan kaca perak abu-abu, aluminium berwarna abu arang, dan granit impor Kanada dan Spanyol memberi kesan megah, apik, tenang berwibawa. Indonesia Design (saat masih berbahasa nasional) mengklaim bahwa Brennan Beer Gorman merancang Gedung BEI dengan memadukan arsitektur modern dengan ciri khas Indonesia, dimana ciri Indonesia, Indonesia Design berspekulasi, terilhami dari keagungan Candi Prambanan.

Setiap tower Gedung BEI memiliki bentuk segi lima yang terbentuk dari tiga segitiga yang bisa menjebak pemandangan orang kita-kita, menciptakan penampilan multidimensi yang luwes. Majalah Indonesia Design menyebutnya “ibarat permainan segitiga berlian.” Sistem inilah yang juga menyediakan efisiensi ruangan tiada tara.

Citra gedung dengan luas lantai 205 ribu meter persegi tersebut semakin terdongkrak oleh layanan internet berpita lebar dan serat optik, yang membuktikan bahwa gedung BEI merupakan bangunan yang siap abad 21.

Secara interior publik, gedung Bursa Efek Indonesia dirancang sangat apik bila dibanding kantor lamanya di Medan Merdeka Selatan. Dirancang oleh tim arsitek dari Space/Management Programs dari Chicago AS, lantai bursa dilapisi kayu dengan lapisan vinyl, berpendingin dan berundak untuk memaksimalkan kenyamanan pialang saham yang bekerja di lantai bursa. Hal ini mengingat perhitungan akan semakin besarnya jumlah pedagang saham di Indonesia.

Sayangnya, usia lantai bursa tersebut berlangsung singkat, dari Mei 1995 hingga 31 Agustus 2010, setelah Bursa Efek Indonesia sepenuhnya meyelenggarakan perdagangan sahamnya secara elektronik. Kini, lantai bursa beralih fungsi menjadi museum dan pusat penerangan investasi.

SGPC menambahkan kata “Gedung” untuk memecah keambiguan antara tenant utama Bursa Efek Indonesia dengan bangunan yang menjadi kantor pusat mereka.


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaGedung BEJ
Gedung Bursa Efek Jakarta
AlamatJalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jakarta
Jumlah menara2
ArsitekBrennan Beer Gorman (arsitek utama)
Encona Engineering (konsorsia, architect of record)
Atelier 6 (konsorsia, architect of record)
Arkonin (konsorsia, architect of record)
Pemborong (menara 1)Duta Graha Indah
Pemborong (menara 2)Ssangyong Engineering & Construction
Lama pembangunan (menara 1)Januari 1993 – Mei 1995
Lama pembangunan (menara 2)Januari 1996 – September 1997
Jumlah lantai (kedua menara)32 lantai
2 basement
Tinggi gedung (kedua menara)141 meter
Biaya pembangunan (menara 2)Rp 197 milyar (1996)
Rp 1,5 triliun (inflasi 2020)
Referensi: Atelier 6; Arkonin; Real Estate Weekly 6/1/1993; Ssangyong C&E 2004; Indonesia Design Vol. 4 #18

Referensi

Umum (Arsitektur dan sejarah pembangunan)

  1. Garinsia Muslim; Puji Irwanto (1992). “Menanti Gedung Yang Modern”. Warta Ekonomi, 22 Juni 1992, hal. 77
  2. Construction Commences on Jakarta Stock Exchange“. Real Estate Weekly via The Free Library, 6 Januari 1993 (arsip)
  3. Herman Syahara (1994). “Cor Akhir Jakarta Stock Exchange”. Majalah Properti Indonesia No. 8, September 1994, hal. 11
  4. NA (1995). “Perdagangan Secara Manual di BEJ Berakhir”. Merdeka, 20 Mei 1995
  5. gun (1995). “Dibiayai Masyarakat, Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, Jakarta”. KOMPAS, 2 Oktober 1995.
  6. Website resmi Gedung BEI (pdf), diakses 20 Maret 2020. (arsip 2020, arsip 2004)
  7. Presentasi Resmi Kementerian PUPR, 15 Januari 2018, diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  8. ADVERTORIAL (2000). “Gedung Bursa Efek Jakarta: Perkantoran Abad Ke-21 di Pusat Bisnis Jakarta”. KOMPAS, 30 Agustus 2000, hal. 30
  9. Hadi Prasojo (1997). “Sewa Masih Ada Harapan”. Majalah Properti Indonesia No. 47, Desember 1997. Hal. 22-23. Kutipan: “Sampai akhir tahun ini (1997, red) saja….. Dua diantaranya adalah Gedung Bursa Efek Jakarta II di Sudirman CBD dan Menara Sentral Senayan I.”
  10. Arsip web Atelier 6, diarsip 2 Maret 2009
  11. Arsip web Arkonin, diarsip 26 Februari 2005
  12. Dian Ihsan Siregar (2018). “Tower II BEI Dibangun Kontraktor Dari Korsel“. Medcom, 16 Januari 2018. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  13. Arsip web Ssangyong Construction & Engineering, diarsip 28 Juni 2004
  14. Akhmad Supriyatna; Garinsia Muslim (1992). “Agar Kesehatan Pialang Terjaga”. Warta Ekonomi, 5 Oktober 1992, hal 34-35
  15. Rheza Andhika Pamungkas (2010). “BEI: Trading Floor Dihapus Hari Ini!” Okezone, 31 Agustus 2010. Diakses 19 September 2020. (arsip)
  16. Foto lantai perdagangan saham oleh ANTARA, 31 Agustus 2010. Diakses 19 September 2020. (arsip)
  17. ros (2007). “Menjaga Citra Perkantoran Terbaik: Jakarta Stock Exchange Building”. Indonesia Design No. 18, Vol. 4, 2007. Hal. 52-55
  18. Kementerian PUPR (2019). “Advis Teknis Balitbang PUPR 2015-2019, Vol. 1.” Jakarta: Kementerian PUPR. Hal 120-121

Peristiwa 13 September 2000 (Liputan 6 SCTV)

  1. Nina Waskito (2000). “Bursa Efek Jakarta luluh lantak dibom“. Liputan 6 SCTV, 13 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  2. Moro Sudiharjo & Zakaria (2000). “Perkantoran di Gedung BEJ Diliburkan“. Liputan 6 SCTV, 14 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  3. Olivia Rosalia & Dwi Nindyas (2000). “Gedung BEJ Mulai Diperbaiki“. Liputan 6 SCTV, 15 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  4. Tris Wijayanto & Amar Sudjarwadi (2000). “Gedung BEJ Sudah Diperbaiki“. Liputan 6 SCTV, 17 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  5. Chadijah Mastura & Julianus (2000). “Karyawan BEJ Masih Trauma Bom“. Liputan 6 SCTV, 19 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  6. Olivia Rosalia & Effendi (2000). “Doa untuk Korban Bom BEJ“. Liputan 6 SCTV, 22 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  7. Nina Waskito & Budi Sukma (2000). “Polisi Sudah Menangkap 27 Pelaku Pengeboman“. Liputan 6 SCTV, 26 September 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  8. Liputan 6 SCTV (2000). “Dipastikan, Anggota Kopassus dan Kostrad Terlibat Pengeboman BEJ“. Liputan 6 SCTV, 4 November 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  9. Nina Waskito dan Dwi Guntoro (2000). “Tergiur Lima Juta Rupiah, BEJ Diledakkan“. Liputan 6 SCTV, 9 November 2000. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)
  10. Nafiysul Qodar (2019). “Tragedi Bom BEJ dan Keterlibatan Oknum Prajurit Pasukan Elite 19 Tahun Lalu“. Liputan 6 SCTV, 13 September 2019. Diakses 8 Juli 2020. (arsip)

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *