Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Soal gedung 1950an yang mulai diidam-idamkan pecinta arsitektur lokal, SGPC menemukan bahwa diantara gedung yang ada, Gedung CTC adalah gedung yang jarang sekali dibahas dalam segi sejarahnya, tapi lebih dibahas nuansa mistisnya. Gedung CTC adalah gedung berlantai 5 yang berlokasi di Jalan Kramat Raya, Kwitang, Jakarta Pusat. Didapuk sebagai “pencakar langit” oleh wartawan Sin Po pada tahun 1958, gedung bergaya modern abad pertengahan ini diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Soekarno pada 1 Agustus 1958 dalam rangka 10 tahun Central Trading Company.

Gedung CTC
Gedung ini seram katanya, tapi ia juga sebuah pionir. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Tidak ada informasi kapan dibangun, namun per 5 Juli 1956 gedung ini mulai ditempati BNI. Seperti namanya, Gedung CTC menjadi kantor pusat dari perusahaan perdagangan milik negara, Central Trading Company yang selanjutnya berganti identitas menjadi PN Pantja Niaga dan melebur ke beberapa BUMN perdagangan lainnya sehingga membentuk PT Perusahaan Perdagangan Indonesia. Ketika awal dibangun, sebagian gedung CTC masih berlantai 4, ada kemungkinan penambahannya dilakukan sebelum 1968 (berdasarkan buku Djakarta Djaja, lihat referensi).

Saat ini gedung CTC, yang sebelumnya juga bernama Gedung Pantja Niaga, hanya diisi oleh Bank Mandiri dan PT PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) di lantai 1. Tenant lama yang tim SGPC ketahui terdiri dari Bank BNI (1956-1990), PN Pantja Niaga dan beberapa perusahaan komersil, terutama pada masa jayanya di era Orde Baru.

Tidak ada catatan mengenai siapa perancang dan pemborong di balik “pencakar langit” pertama di Indonesia ini. Menurut data PT PPI, Gedung CTC memiliki luas lantai 15 ribu meter persegi, dan berdiri di atas lahan seluas 5.485 meter persegi. PT PPI disebut berencana memanfaatkan gedung tersebut sebagai ruang ritel dan perkantoran, tetapi tidak ada informasi untuk pemanfaatan kembali bangunan berlantai 5 hingga saat ini.

Dengan kondisi yang cukup menyedihkan, lantai teratas Gedung CTC saat ini berubah menjadi tempat syuting film dan uji nyali para penjelajah urban. Sementara PT PPI sendiri berkantor pusat di bekas kantor Dharma Niaga di Gambir.


Iklan

Data dan fakta

AlamatJalan Kramat Raya No. 69-71 Senen, Jakarta Pusat, Jakarta
Selesai dibangunbertahap dari 1956 sampai 1968
Diresmikan1 Agustus 1958
Jumlah lantai5 lantai
SignifikasiPop culture (tempat uji nyali)
Merdeka 6/7/1956; Sin Po 29/7/1958, 1/8/1958

Referensi

  1. F. Bodmer; R. Mohamad Ali S.S. (1969). “Djakarta Djaja Sepandjang Masa”. Jakarta: Pemerintah DKI Jakarta
  2. “CTC Resmi 10 Tahun”. Harian Sin Po, 29 Juli 1958, hal. 1
  3. “CTC, Tetaplah Djadi Alat”. Harian Sin Po, 1 Agustus 1958, hal. 1
  4. Web resmi PT PPI, diakses 18 Juni 2020 (arsip)
  5. Contoh dominasi budaya pop Gedung CTC:
    1. Rivan Yuristiawan (2017). “Nicky Tirta Banyak Permisi Saat Syuting Petak Umpet Minako“. Fimela, 26 Juli 2017. Diakses 18 Juni 2020 (arsip)
    2. Video penjelajah urban di YouTube sebagai contoh. Catatan, penulis menemukan pembuat video yang membolak-balikkan gedung eks CC PKI dengan gedung CTC.
  6. Koresponden Merdeka Jakarta (1956). “Peletakan Batu Pertama Gedung BNI”. Merdeka, 6 Juli 1956, hal. 2
  7. NN (1984). “Visualisasi hasil pembangunan Orde Baru Pelita I, Pelita II, Pelita III” (Volume 2). Jakarta: Dumas Sari Warna. Advertorial PT Pantja Niaga.
  8. Arsip halaman resmi PT PPI, diarsip 8 Februari 2005

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *