Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Kawasan Manggala Wanabakti adalah sebuah kompleks perkantoran pemerintah dan swasta yang berlokasi tepat di utara Kawasan MPR/DPR, dan merupakan bagian dari pembangunan kawasan penunjang MPR/DPR berdasarkan Peraturan Presiden No. 43 Tahun 1974, yang memandatkan Dirjen Perhutanan Departemen Pertanian untuk membangun Gedung Pusat Kehutanan dan Taman Hutan.

Kawasan seluas 12,1 hektar ini adalah rancangan tim arsitek Gubah Laras pimpinan Soejoedi Wirjoatmodjo; sementara pembangunan kawasan ini dimulai pada tanggal 25 Maret 1976 oleh Menteri Pertanian Thoyib Hadiwijoyo, dan selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tanggal 24 Agustus 1983. Pembangunan kawasan Manggala dilakukan oleh PT Tri Darma Utama, konsorsium dari PT New Sahid Builders, PT Pembangunan Jaya dan PT Nugraha Kencana Jaya. 50 milyar rupiah, konon dari uluran tangan pengusaha hak pengguna lahan, dihabiskan untuk membangun kawasan ini (setara Rp. 1 triliun nilai 2020).

Kawasan ini awalnya dikelola oleh sebuah yayasan bernama Sarana Wana Jaya berdasarkan Perpres No. 6 tahun 1983; Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono melalui Perpres No. 7 tahun 2012, menyatakan bahwa Manggala Wanabakti milik negara dan Perpres No. 6/1983 dinyatakan tidak berlaku.


Iklan

Deskripsi gedung

Umum

Manggala Wanabhakti
Blok 1 dan 7. Foto oleh mimin SGPC

Manggala Wanabakti memiliki 7 gedung, dimulai dari blok 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, serta blok 7 yang baru dibangun pada tahun 1992 sebagai kantor sekretariat Gerakan Non Blok. Rencana tersebut tidak terwujud, sebagai pengganti Kementerian Kehutanan & Lingkungan Hidup dan Perhutani sekarang menempati gedung terbaru kawasan legendaris ini.

Blok 1, blok 4 dan blok 7 adalah yang paling menonjol dari kawasan ini. Gedung Blok 1 memiliki 16 lantai dan luas lantai gedung 22 ribu meter persegi, berbentuk persegi panjang dan berfungsi sebagai kantor Kementerian Kehutanan & Lingkungan Hidup, dan Gedung Blok 4 memiliki 11 lantai dan floorplate total 27 ribu meter persegi sebagai kantor komersial.

Blok 7, seperti yang disinggung sebelumnya, dibangun sangat terlambat, baru dibangun pada tahun 1992 sebagai bagian dari KTT Gerakan Nonblok 1992 di Jakarta. Memiliki 15.587 meter persegi, gedung ini tidak masuk dalam rencana desain gedung Manggala Wanabakti, tetapi tetap dirancang oleh Gubah Laras. Dibangun oleh PT Pembangunan Perumahan, gedung berlantai 14 ini diselesaikan selama hanya 6 bulan. Pengalaman ini diulang saat PT PP merenovasi blok tower Hotel Grand Bali Beach yang hangus setahun kemudian. Versi Gubah Laras, pembangunan dilaksanakan dari 1991 sampai awal 1993.

Blok 2, 3, 4, 5 dan 6 merupakan blok kecil. Blok 2 dimanfaatkan sebagai pusat kebugaran dan ruang pertemuan, blok 3 merupakan auditorium, blok 5 untuk keperluan mekanik dan listrik, dan blok 6 merupakan perpustakaan, arboretum dan museum Kehutanan.

Blok 4. Foto oleh David Mulyawan

Arsitektural dan struktur

Baik eksterior, interior dan lanskap Manggala Wanabakti dirancang oleh Gubah Laras pimpinan Soejoedi Wirjoatmodjo, Nurpontjo dan Surasa. Bergaya internasional, Manggala Wanabakti dikenal karena pengolahan eksterior dan lanskapnya yang cukup asri, berirama dengan desain gedungnya yang tidak mengotak. Lanskap asri tersebut tercipta karena banyaknya pohon yang ditanam di kawasan ini oleh peserta Kongres Kehutanan Sedunia 1978 yang berlangsung di Jakarta.

Melihat desain arsitekturnya, Manggala Wanabakti dirancang tak cuma menyesuaikan dengan lanskap yang asri, tetapi untuk menyelaraskan diri dengan kompleks DPR-MPR RI, juga rancangan Soejoedi bersama dengan beberapa arsitek lain. Pemakaian kaca curtain wall dan elemen jendela horizontalnya memberi suasana ringan dan tropis pada kawasan seluas 12,1 hektar ini.

Disamping lanskap asri tersebut terdapat sebuah waduk dimana keduanya berfungsi sebagai miniatur ekosistem Indonesia, sebagai kantung hujan kota Jakarta dan rekreasi.

Arsitek Andra Martin, kepada Nicholas Saputra sebagai narator serial web Maestro Indonesia, mengatakan bahwa Manggala Wanabakti “seolah-olah semacam sebuah sculpture di tengah taman, bahkan tidak memiliki tampak belakang” dan “sangat indah dipandang”. Dalam wawancara yang sama, gedung berlapis keramik putih dan kaca hitam inilah inspirasi Andra dalam merancang hotel The Katamama di Seminyak.

Seluruh kawasan gedung ini menggunakan struktur beton bertulang kecuali atap blok 2 dan 3 yang memanfaatkan struktur baja dan atap pelat tembaga.


Iklan

Data dan fakta

AlamatJalan Gatot Subroto Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jakarta
Arsitek (blok 1 dan 4)Soejoedi Wirjoatmodjo (Gubah Laras)
Arsitek (blok 7)Gubah Laras
Pemborong (blok 1 dan 4, konsorsium
Tri Darma Utama)
New Sahid Builders
Pembangunan Jaya
Nugraha Kencana Jaya
Pemborong (blok 7)Pembangunan Perumahan
Lama pembangunan (blok 1 dan 4) April 1976 – Agustus 1983
Lama pembangunan (blok 7)1992 (Versi PT PP. Versi Gubah Laras menyebutkan konstruksi dimulai 1991 sampai 1993)
Diresmikan24 Agustus 1983
Jumlah lantai (blok 1)16 lantai
Jumlah lantai (blok 4)11 lantai
Jumlah lantai (blok 7)14 lantai
Biaya pembangunanRp. 50 milyar (1983)
Rp 1 triliun (inflasi 2023)
SignifikasiArsitektur
(karya Soejoedi Wirjoatmodjo)
Referensi: KOMPAS/Sinar Harapan 22/8/1983 & 24/8/1983, Majalah Konstruksi #187 November 1993, Ikatan Arsitek Indonesia 1993

Referensi

  1. ra (1983). “Gedung Pusat Kehutanan Diresmikan”. KOMPAS, 24 Agustus 1983, diakses via Soeharto.co pada tanggal 16 Januari 2020 (arsip)
  2. pom/dar (1983). “Gedung Manggala Wanabakti akan Diresmikan Presiden”. KOMPAS, 22 Agustus 1983.
  3. F-2 (1983). “Presiden Akan Resmikan Gedung Pusat Kehutanan”. Sinar Harapan, 22 Agustus 1983.
  4. B-3 (1983). “Manggala Wana Bhakti Diresmikan, Presiden Bubuhkan Tandatangan Pada Fosil Berumur 10.000 Tahun”. Sinar Harapan, 24 Agustus 1983.
  5. Web resmi Manggala Wanabakti
  6. PT Pembangunan Jaya (2016). “Maestro Indonesia – Soejoedi Wirjoatmodjo“, via YouTube.
  7. Yudho Winarto (2012). “Manggala Wanabhakti kembali ke negara“. Kontan, 2 Februari 2012. Diakses 17 Januari 2020. (arsip)
  8. Dwi Ratih; Saptiwi Djati Retnowati (1993). ” Pembangunan Kembali Hotel Bali Beach, Grand Bali Beach, Hanya dalam waktu 6 1/2 bulan”. Majalah Konstruksi No. 187, November 1993. Halaman 65: “…. proyek yang pernah ditangani PP antara lain proyek Sekretariat KTT Non-Blok di kompleks Manggala Wanabhakti, Jakarta. Gedung setinggi 14 lantai …… konstruksinya diselesaikan dalam 6 bulan.”
  9. “Gedung Pusat Kehutanan”. Progress No. 92, April 1976.
  10. Ikatan Arsitek Indonesia (1983). “Buku Ke-1 Karya Arsitektur Arsitek Indonesia.” Jakarta: Ikatan Arsitek Indonesia. Halaman 73-74.
  11. Arsip web Gubah Laras, diarsip 7 Januari 2007

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *