Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Nah, The City Tower, akhirnya masuk Setiap Gedung Punya Cerita.

The City Tower adalah gedung perkantoran berlantai 33 yang mengisi petak berbentuk segitiga di Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan M.H. Thamrin, Jalan Blora dan Jalan Purworejo. Gedung yang berdiri di bekas sebuah bangunan tua berbentuk bundar itu dikembangkan secara campuran oleh perusahaan bernama PT Kencana Graha Mandiri, anak usaha dari KG Global Developments.

Gedung yang anda saat ini merupakan rancangan dari DP Architects bersama dengan Arkonin, dan dibangun bertahap oleh Total Bangun Persada mulai April 2007 hingga selesai keseluruhan sekitar akhir Agustus 2008 berdasarkan informasi yang didapatkan di Skyscrapercity, memanfaatkan pondasi yang dipancang sejak 1993.

The City Tower
The City Tower. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sejarah The City Tower: Mangkrak selama 12 tahun

The City Tower sebenarnya bukan gedung perkantoran yang direncanakan di tahun 2000an. Mulai tanggal 27 Mei 1993, Probosutedjo (Mercu Buana Group, pemilik Le Meridien Jakarta) bersama dengan Robby Tjahjadi (Grup Kanindo) meluncurkan pemasaran gedung berlantai 33, yang menyediakan ruangan perkantoran seluas 37.000 m2 bersih dan berhak milik (gelar strata/hak milik).

Dilaporkan oleh majalah Properti Indonesia (Februari 1994), peluncuran pembangunan proyek ini dihadiri oleh artis film Hongkong, Lin Ching Shia, untuk menarik pembeli. Ini adalah gedung perkantoran kedua yang dikembangkan murni oleh Grup Kanindo setelah Menara Global dalam waktu yang sangat singkat dan berani.

Saat itu, perencanaan gedung yang dijuluk “Gedung Kipas” karena bentuknya dari udara diserahkan pada Architects Pacific bersama dengan tim dari Arkipuri Intra Nasional, dengan struktur ditangani oleh Robert Bird & Partners bersama dengan Perkasa Carista Estetika.

Pemancangan dan konstruksi besmen berjalan seperti biasanya di paruh kedua 1993. Namun, awal 1994, Grup Kanindo memutuskan mundur dari kerasnya jagat properti Indonesia, dan menjual aset-asetnya termasuk The City Tower. Bersamaan dengan keputusan tersebut, dilapangan, proyek yang diperkirakan akan rampung akhir 1995 itu praktis terhenti aktivitasnya.

Proyek The City Tower mati suri selama 12 tahun, hingga pada sekitar tahun 2006, PT Kencana Graha Mandiri membeli keseluruhan proyek ini dari pemilik lamanya sekaligus melanjutkan proyek tersebut dan mengonsep ulang keseluruhan gedung tersebut. Perubahan konsep bisa dilihat dari segi arsitektur yang kini ditangani DP Architects dan Arkonin, penyediaan ruang perkantoran hak milik dan sewa yang lebih seimbang dan penggunaan teknologi yang semakin canggih.

Hingga Desember 2007 pengembang berhasil mengisi enam dari 13 lantai sewa The City Tower, sementara 11 dari 15 lantai yang dijual laris terbeli. Konstruksi gedung berlapis kaca biru ini dimulai sejak April 2007 hingga selesai keseluruhan sejak Agustus 2008; Colliers mencatat di triwulan IV 2008 gedung ini secara keseluruhan telah menyumbang suplai perkantoran Ibukota. Proyek ini, bila mengabaikan kenaikan di saat pembangunan, diperkirakan menghabiskan biaya investasi Rp. 650 milyar (2007).

Arsitektur The City Tower menggugah insinyur struktur untuk berpikir kreatif

Seperti yang disinggung di awal tulisan ini dan juga di bagian sejarah, The City Tower Jakarta dirancang oleh tim arsitek dari DP Architects asal Singapura bersama dengan tim arsitek Arkonin; dengan strukturnya dirancang oleh Davy Sukamta & Partners. Secara penampilan luar, gedung berlantai 33 dengan 5 besmen tersebut dilapisi sepenuhnya dengan lapisan kaca.

Namun, ada yang berbeda. Davy Sukamta – yang menulis artikel khusus mengenai The City Tower di majalah Indonesia Design – mengatakan bahwa pengolahan sudut pada gedung ini tidak ada yang sama; sudut Jalan Blora/Thamrin lancip, sudut Jalan Purworejo/Thamrin melengkung, sisanya dipancung. Komposisinya yang tak simetris dan dinamis dipadu dengan mahkota yang melengkapi aspek kelangsingan The City Tower.

Namun ketidaksimetrisan itu ada masalahnya. Karena core alias inti gedung dalam rancangan ditempatkan di sudut Jalan Blora/Purworejo, maka lahir masalah berupa bentang yang cukup panjang sekaligus batasan dari daya dukung pondasi yang ditinggalkan sejak 1994. Solusi Davy Sukamta & Partners cemerlang, dan merupakan yang perdana di Indonesia: core wall tabung untuk penahan gerak horisontal serta pemakaian balok baja truss yang tersambung ke kolom indukan (super kolom) berujud baja komposit impor Tiongkok, yang dilapiskan oleh lapisan lantai beton.

Ada bagusnya penerapan struktur tersebut. Davy Sukamta di majalah yang sama mengatakan bahwa solusinya lebih ringan dari konstruksi beton dengan rentang proporsional dan juga mampu mempertahankan tinggi antarlantai menjadi 3,9 meter. Tak hanya ringan dan memiliki spesifikasi antar lantai yang sama, struktur baja truss memudahkan pemasangan pipa pemadam kebakaran (sprinkler), pipa air, AC dan listrik.

The City Tower memiliki luas lantai total 72.400 m2, terbagi ke 49.800 m2 ruang perkantoran dan 22.600 m2 ruang bawah tanah, mayoritas diperuntukan bagi 630 kendaraan roda empat. Karena faktor lahan dan kebutuhan ruangan parkir, genset ditempatkan di atap gedung.


Iklan

Data dan fakta

AlamatJalan M.H. Thamrin No. 81 Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta
ArsitekDP Architects (arsitektur)
Arkonin (architect of record)
Davy Sukamta & Partners (struktur)
PemborongTotal Bangun Persada
Lama pembangunan1994 (pondasi)
April 2007 – triwulan IV 2008
Jumlah lantai33 lantai
5 basement
Tinggi (Davy Sukamta & Partners)156 meter
Biaya pembangunanRp. 650 milyar (2007)
Rp. 1,3 triliun (inflasi 2023)

Referensi

  1. Uni Z. Lubis; Naphtarina Mussolini (1993). “Gedung Kipas Probo-Robby.” Majalah Warta Ekonomi No. 48/IV, 26 April 1993, hal. 29
  2. Saptiwi Djati Retnowati (1993). “City Tower, rancangannya mengikuti bentuk tapak.” Majalah Konstruksi No. 183, Juli 1993, hal. 75-76
  3. Musfihin Dahlan (1994). “Mereka yang tersandung di Properti.” Majalah Properti Indonesia No. 1, Februari 1994, hal. 38-41
  4. nas (2007). “Enam Lantai The City Tower Telah Tersewa.” Investor Daily, 21 Februari 2007. Dipost via Skyscrapercity pada 22 Februari 2007.
  5. Advertorial (2007). “Menyajikan konsep “private office”, solusi perkantoran masa depan.” Majalah Bisnis Properti (Panangian) No. 50, Desember 2007, hal. 12-13
  6. Davy Sukamta (2008). “City Tower – Gedung kantor modern, Jawaban perancang struktur terhadap rancangan arsitek yang menantang.” Majalah Indonesia Design Vol. 5 No. 26, 2008, hal. 85-87
  7. Umi Suswatiani (2008). “The City Tower, topping-off lebih cepat dari rencana.” Majalah Techno Konstruksi No. 1, Mei 2008, hal. 45-48
  8. Colliers International Asia Pacific (2009). “Indonesia Property Market Overview“. Colliers Internasional, Februari 2009. Diarsip 23 Agustus 2009
  9. Halaman resmi Davy Sukamta & Partners, diakses 20 Januari 2024 (arsip)
  10. Halaman resmi KG Global, diakses 20 Januari 2024 (arsip)

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *