Manado Beach Hotel adalah bekas hotel yang berdiri di lahan seluas 5,6 hektar di desa Mokupa, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), 20 kilometer barat daya Kota Manado, ibukota provinsi Sulut. Hotel berlantai 5 tersebut dibangun merupakan bagian dari kawasan perhotelan dan pariwisata Pantai Tasik Ria, salah satu upaya pemerintah Indonesia di masa Orde Baru mengembangkan daerah tujuan wisata di luar Bali dan Jawa yang, sayangnya, tidak berhasil.
Sejarah kawasan Tasik Ria termasuk Manado Beach Hotel diawali dari keberhasilan pembangunan kawasan Bali Tourism Development Corporation di Nusa Dua, dan komentar dari Menteri Pariwisata & Postel Soesilo Soedarman yang mengatakan bahwa Manado belum memiliki hotel yang representatif untuk kegiatan pariwisata. Maka BTDC (sekarang Indonesia Tourism Development Corporation, ITDC), bersama dengan Bank Ekspor-Impor Indonesia, Hotel Indonesia Internasional, Pemprov Sulut dan investor lokal, membentuk Manado TDC untuk mengembangkan kawasan Tasik Ria, termasuk Manado Beach Hotel.
Pembangunan Manado Beach Hotel di lot 4 kawasan Tasik Ria sendiri dimulai sejak Juni 1990 hingga pertengahan 1991, dilakukan oleh pemborong lokal Papetra Perkasa Utama. Hotel dengan biaya konstruksi mencapai Rp 37 milyar (nilai 1991) itu akhirnya mulai beroperasi pada bulan Juli 1991 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto tiga bulan setelahnya di tanggal 11 September 1991, bersamaan dengan sembilan proyek lainnya di Sulut. Saat dibuka, MBH sebagai hotel berbintang empat, dianggap sebagai hotel terbaik di propinsi kawanua, karena belum ada pesaing di kelas yang sama.
Namun, sayangnya, Manado Beach Hotel, seperti adiknya di Papua Barat, layu dini. Jelang tutup tahun 2002, karena krisis keuangan yang akhirnya berimbas pada penunggakan gaji pegawai, pegawai MBH menjarah seluruh isi hotel beserta perabotannya hingga habis. Saat itu pegawai menyatakan tetap menyita perabotan hotel tersebut hingga kewajibannya lunas. Tidak ada perkembangan lain dari hotel yang dahulu berbintang empat tersebut, hingga akhirnya terbengakalai dan menjadi arena uji nyali dan cerita-cerita mistis.
Di luar masalah pengosongan aset hotel oleh pegawainya, hotel ini juga membawa masalah bagi Pemprov Sulut. Pada tahun 2003, Badan Penyehatan Perbankan Nasional memberitahukan Pemprov bahwa utang Pemprov ke BPPN hanya 6,7 milyar rupiah – bukan 18 milyar (nilai 2003) seperti yang dibayarkan oleh Pemprov – sehingga muncul persoalan bahwa terjadi korupsi di dalamnya. Tidak hanya soal korupsi, sengketa kepemilikan juga mendera hotel ini. Usai memenangkan gugatan tersebut sejak Januari 2022, pihak Pemprov Sulawesi Utara berencana akan mengembalikan kejayaan hotel yang di era Dilan sering diinapi pejabat negara dan wisatawan.
Arsitektur dan profil hotel
Manado Beach Hotel yang megah di masanya dirancang sepenuhnya oleh tim arsitek dari Desakota Infra dari arsitektur, struktur hingga instalasi air bersih dan listrik. Secara penampilan, hotel ini tidaklah begitu spesial, bahkan ada kesamaan dengan hotel-hotel sejenis yang dibangun di Bali (pangkalan blog SGPC), yaitu berbentuk seperti capit kepiting, yang mengelilingi taman yang merupakan fasilitas jogging dan arena bermain anak.
Bedanya dengan hotel-hotel sejenis di Bali, hotel ini mengadopsi atap khas rumah adat Minahasa sebagai identitas lokalnya. Manado Beach Hotel memiliki dua sayap yang difungsikan untuk kamar tamu sebanyak 206 kamar yang terbagi ke beberapa kelas dari standard hingga presidential suite, sementara gedung utamanya dimanfaatkan sebagai lobi, rumah makan hingga balai sidang. Keseluruhan luas lantai mencapai 25.798 m2.
Data dan fakta
Alamat | Mokupa, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara |
Arsitek | Desakota Infra |
Pemborong | Papetra Perkasa Utama |
Lama pembangunan | Juni 1990 – Juli 1991 |
Diresmikan | 11 September 1991 |
Jumlah lantai | 5 lantai |
Jumlah kamar | 206 |
Biaya pembangunan | Rp. 37 milyar (1991) Rp. 428 milyar (inflasi 2022) |
Referensi
- Saptiwi Djati Retnowati; Dwi Ratih; Urip Yustono (1990). “Info proyek: Manado Beach Hotel.” Majalah Konstruksi No. 151, November 1990, hal. 63.
- Saptiwi Djati Retnowati (1990). “Manado Beach Hotel.” Majalah Konstruksi No. 152, Desember 1990, hal. 39.
- Erwin Patandjengi (1991). “Bangkitnya Pariwisata Kawanua.” Majalah Prospek, 14 September 1991, hal. 35
- Dwi Ratih (1991). “Manado Beach Hotel: Memanfaatkan Potensi Alam Seoptimal Mungkin.” Majalah Konstruksi No. 165, Januari 1992, hal. 54-58
- zal (1991). “Presiden Akan Resmikan Delapan Proyek Senilai Rp. 150 Milyar.” KOMPAS, 11 Juni 1991, hal. 2
- osd; fr (1991). “Kebijakan Tata Niaga Cengkeh Masih Dalam Proses Perbaikan.” KOMPAS, 12 September 1991, hal. 1
- Aldrien Arief (2002). “Karyawan Manado Beach Hotel Menyita Aset Perusahaan.” Liputan 6 SCTV, 29 Desember 2002. Diakses 24 April 2022 (arsip)
- fr (2004). “Kas Pemprov Sulut Bobol Rp. 11 Milyar.” KOMPAS, 14 Februari 2004, hal. 33
- “Sualang: Puji Tuhan, Hutang Itu Sudah Terbayarkan.” Berita Kawanua, 7 Mei 2012. Diakses 24 April 2022 (arsip)
- Ryo Noor (2022). “Pemprov Sulut Menang Gugatan Kepemilikan Manado Beach Hotel, Ini Rencana Gubernur Olly Dondokambey.” Tribun Sulut, 21 Januari 2022. Diakses 24 April 2022 (arsip)
Tinggalkan Balasan