Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Setiap Gedung Punya Cerita kembali ke kota Gudeg, dan dari beberapa bangunan dari kota ini yang blog ini bahas, SGPC sebenarnya belum membahas gedung ini. Gedung ini lantainya sedikit, luas lahan dan gedungnya macam hotel-hotel di Bali dan secara arsitekturnya tidak terlalu spesial. Namun, bagi SGPC, Loman Park Hotel Yogyakarta di Sleman, Yogyakarta, menarik untuk diangkat dan dibahas.

Loman Park Hotel Yogyakarta adalah sebuah hotel mewah berlantai 3 yang berdiri di Jalan Affandi, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, atau secara praktis masih masuk wilayah Kota Yogyakarta. Mewah karena bintangnya empat. Hotel bergaya resort ini kini dikelola sendiri setelah selama hampir 30 tahun ia dikelola di bawah nama Prime Plaza Hotel, dan sebelum April 2003 ia menjadi bagian dari Radisson Hotels sebagai Hotel Radisson Yogyakarta.

Prime Plaza Yogya
Terhalang pos satpam. Hotel mewah ini memang ada nuansa Jawa-nya. Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Sejarah Loman Park Hotel Yogyakara: Terbantu Keberadaan Salim

Pembangunan hotel ini sudah ada sejak awal 1993, dilatari oleh booming perhotelan di Kota Pelajar se-Indonesia ini. Saat itu, perusahaan bernama PT Adichandra Grahawisata mengadakan kerjasama dengan perusahaan daerah bernama PT Anindya untuk membangun sebuah hotel di atas lahan bekas kolam renang dan diskotik Colombo di Gejayan seluas 2,27 hektar, yang lahannya sendiri milik PT Anindya. Pengelolaannya dalam bentuk bangun-guna-serah alias BGS/BOT selama 25 tahun.

Namun, pertengahan Juni 1993, Salim bergabung dengan konsorsium Adichandra-Anindya, termasuk menyediakan pendanaan melalui Bank Central Asia, bank milik Grup Salim. Konstruksi tahap pertama dengan tiga blok dan 129 kamar dimulai pada bulan November 1993, dilaksanakan oleh Multibangun Adhitama Konstruksi (Multikon). Struktur tahap pertamanya pasang rangka terakhir (Topping-off diartikan sebagai tutup atap secara harfiah. Tetapi, strukturnya yang beratap genteng membuat tutup atap tidak selamanya benar) pada 29 Januari 1995.

Operasional resmi Hotel Radisson Yogyakarta, dengan biaya investasi mencapai Rp. 30 milyar (1995), dimulai pada 10 Juli 1995, setelah peresmian oleh Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Joop Ave. Hotel di samping Universitas Negeri Yogyakarta ini menjadi hotel kedua Radisson di Indonesia, setelah di Surabaya, menyediakan 129 kamar. Pada tahun 1996, Radisson menggebrak pasar perhotelan Indonesia dengan menyediakan Kartini Room, kamar hotel khusus wanita. Sayangnya, pembangunan tahap kedua, sisa dua blok untuk menggenapkan jumlah kamarnya menjadi 200, urung direalisasikan.

Hotel ini berganti nama menjadi Hotel Plaza Jogjakarta sejak 2003, dan selanjutnya Prime Plaza Hotel Jogjakarta. Pasca-merdeka dari Radisson, hotel ini dua kali menerima renovasi, yaitu pada tahun 2008 (menjadi 157 kamar) dan 2013 dengan menambah 20 kamar menjadi 177 kamar, alias berhasil mendekati rencana awal jumlah kamar sebanyak 200 buah, hanya dengan menambah satu gedung saja, iaitu Sekar Arum Spa & Klub Kebugaran Kirana yang pindah ke gedung baru itu pada awal 2012.

Setelah 28 tahun operasional di bawah tiga bendera yang berbeda, Prime Plaza Hotel Jogjakarta akhirnya tutup pada 16 September 2023, menjadikannya aset bangun-guna-serah berikutnya yang kembali ke pangkuan Pemprov DI Yogyakarta. Sebulan kemudian, hotel ini dibuka kembali dibawah manajemen PT Anindya Mitra Internasional dengan nama Loman Park Hotel Yogyakarta mulai 28 Oktober 2023.


Iklan

Arsitektur Loman Park Hotel Yogyakara: Arsitektur bergaya “londo ireng”

Loman Park Hotel Yogyakarta
Ditakdirkan untuk menjadi resort perkotaan. Foto oleh mimin SGPC

Arsitektur Loman Park Hotel Yogyakarta dirancang oleh Teddy Boen & Rekan yang merancang arsitektur sekaligus tulangan gedung ini sekaligus mengawasi pembangunan. Sebagai sebuah resort yang “kecantol” di dalam kota yang padat (ini macam Hotel Santika, rival dari Jalan Jenderal Sudirman yang benar-benar ada di dalam kota), alias pinggiran Yogyakarta, Loman Park Hotel mengadopsi konsep resort dan dirancang dalam bentuk “blok-blokkan” agar tidak terkesan makin “urban” alias kota dan tidak menjulang, hanya maksimal 3 lantai.

Eksteriornya dipoles dengan “gaya Jawa kolonial” kata pihak pengembang kepada pihak Majalah Konstruksi. Dua kata yang meringkas pendapat pihak pengembang adalah pascamodern “londo ireng”. Di BERNAS, pihak pengembang menjabarkan sebagai gaya Joglo yang kental karena jumlah lantainya tak seberapa.

Sekarang profil hotelnya. Loman Park Hotel Yogyakarta menyediakan 177 kamar yang terbagi ke dalam enam tipe kamar (Deluxe dan Executive dipecah lagi sesuai dengan keperluan akses langsung ke kolam ex-Colombo di tengah tiga blok). Fasilitas yang disediakan oleh hotel ini, selain kolam renang yang mungkin adalah bekas kolam renang Colombo serta spa dan klub kesehatan, adalah rumah makan Pawon Indigo, ballroom berkapasitas maksimal 300 orang dan 8 ruang rapat yang bisa dibagi-bagi, plus taman yang luas untuk mengadakan acara luar ruangan.

Bila anda tertarik, anda bisa memesan kamar hotelnya disini.


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaRadisson Plaza Yogyakarta
Prime Plaza Hotel Jogjakarta
AlamatJalan Affandi Depok, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta
ArsitekTeddy Boen & Rekan (arsitektur dan struktur)
PemborongMultibangun Adhitama Konstruksi (Multikon)
Lama pembangunanNovember 1993 – Juli 1995
Dibuka10 Juli 1995
Diresmikan10 Juli 1995 (Radisson Plaza/Prime Plaza)
28 Oktober 2023 (Loman Park Hotel)
Jumlah lantai3 lantai
Jumlah kamar177
Biaya pembangunanRp 30 milyar (1995)
Rp 209 milyar (inflasi 2023)
Referensi: Majalah Konstruksi #188 Desember 1993; BERNAS 30/1/1995, 8/7/1995

Referensi

  1. Saptiwi Djati Retnowati (1993). “Info proyek: Radisson Hotel Yogyakarta.” Majalah Konstruksi No. 188, Desember 1993, hal. 57
  2. dhi; bud; dey (1993). “Salim Group Digaet Bikin Hotel di Yogya, Lokasinya Bekas Kolam Renang Colombo.” Harian Berita Nasional (Bernas), 16 Juni 1993, hal. 1
  3. hjl (1995). “Radisson Plaza Hotel Beroperasi Juli.” Harian Berita Nasional (Bernas), 25 Januari 1995, hal. 5
  4. hjl (1995). “Pembangunan Hotel Radisson Masuk Tahap Akhir.” Harian Berita Nasional (Bernas), 30 Januari 1995, hal. 5
  5. gus (1995). “Grand Opening Hari Senin: Radisson, Resort in a City Pertama di Yogya.” Harian Berita Nasional (Bernas), 8 Juli 1995, hal. 5
  6. gus (1995). “Radisson Sediakan Nomor Telepon Bebas Pulsa.” Harian Berita Nasional (Bernas), 11 Juli 1995, hal. 5
  7. dhi (1996). “Hotel Radisson Operasikan “Kartini Room”.” Harian Berita Nasional (Bernas), 20 April 1996, hal. 5
  8. Halaman resmi Prime Plaza Hotel Jogjakarta, diakses 18 Januari 2023 (arsip 2023, arsip 2008)
  9. Holy Kartika NS (2013). “JPH Tambah Kamar Baru Ramah Lingkungan.” Solopos, 2 Mei 2013. Diakses 19 Januari 2023 (arsip)
  10. Dewi Yanti (2013). “Jogjakarta Plaza Hotel Favorit Mahasiswa Baru di Yogyakarta.” Okezone, 25 Juni 2013. Diakses 19 Januari 2023 (arsip)
  11. Advertorial; Gora Kunjana (2015). “Hotel Dengan Sentuhan Khas Jawa.” Investor Daily, 6 September 2015. Diakses 19 Januari 2023 (arsip)
  12. Halaman resmi Multikon Adhitama Konstruksi, diarsip 17 Januari 2007
  13. Dwi Ratih; Saptiwi Djati Retnowati (1995). “Hotel Radisson Plaza Yogya, bertaraf internasional dengan nuansa arsitektur Yogyakarta.” Majalah Konstruksi No. 210, September 1995, hal. 47-50
  14. Danar W. (2023). “Ra Loman ra oman, titik awal perjalanan Loman Park Hotel Yogyakarta.” Kedaulatan Rakyat (online), 29 Oktober 2023. Diakses 25 November 2023 (arsip)
  15. Instagram resmi Hotel Prime Plaza, diakses 25 November 2023

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Kunjungilah Trakteer SGPC untuk mendapatkan konten-konten akses dini, eksklusif serta kliping artikel dari Rak Arsip SGPC!
Dukungan via Saweria akan ditutup pada 1 Juli 2024.


Bagaimana pendapat anda......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *