Iklan

Google Translation avaliable here. Use at your own risk; some translation may be incorrect or misleading:

Menara BRI adalah gedung perkantoran tinggi yang berdiri di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, dan merupakan satu dari empat perkantoran niaga awal yang dibangun setelah Wisma Bumiputera, Gedung Monex, dan Wisma CIMB Niaga.

Menara BRI Bandung
Foto oleh mimin SGPC

Iklan

Dibangun di atas tanah bekas rumah makan Indische Restaurant, restoran era Belanda yang menjadi tonggak awal peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946. Rumah makan Indische Restaurant digempur kemungkinan setelah insiden Bandung Lautan Api dan dibangun gedung penggantinya di tahun 1960an. Pembangunan gedung barunya dimulai pada April 1991 dan selesai dibangun April 1993, tetapi sebulan sebelumnya, operasional Menara BRI Bandung sudah dimulai[mfn]Gedung BRI Bandung tidak dibangun pada 1986[/mfn].

Menara BRI Bandung yang merupakan proyek kerjasama Bank Rakyat Indonesia dan PT Bandung Asri Mulia melalui PT Bandung Asia Afrika ini dibangun untuk menyediakan ruang perkantoran Kota Bandung yang di era 1990an semakin tumbuh. Saat pertama dibuka pada 1993, 70 persen dari 24 ribu meter persegi luas kantor bersih sudah ditempati. Belum diketahui besar okupansi saat ini. Sesuai namanya, gedung ini menjadi kantor dari Bank Rakyat Indonesia untuk wilayah Jawa Barat dan cabang utama Asia Afrika.

Arsitektur dan struktur

Desain yang diusung dari Menara BRI Bandung, dirancang oleh Ir. Bagus Anggoro Rico dari (versi asumsi SGPC) PRW Architects bersama dengan tim arsitek internal dari Bandung Asia Afrika, menggabungkan langgam indische dengan arsitektur pascamodernisme (versi Media Indonesia, kolonial dan art deco), agar berbaur dengan lingkungan Jalan Asia Afrika yang didominasi oleh gedung-gedung era Belanda seperti Jiwasraya dan Kantor Pos.

Desain indische bisa terlihat pada bagian terbawah Menara BRI Bandung, walaupun kulit luarnya dilapisi granit berwarna merah. Bagian atas gedung hanya gambaran reguler dari gaya pascamodernisme yang dipengaruhi oleh gaya indisch, diberi finishing kaca hitam riben dan cladding berwarna biru. Dilihat dari atas, gedung ini terlihat simetris, dan ukuran gedungnya yang besar dibanding gedung lainnya di Bandung, terutama lokasinya yang dekat dengan Alun-Alun Bandung, menjadikan gedung berketinggian 68 meter tersebut sebuah landmark Kota Bandung.

Kritikus dan penulis Jamaludin alias “Kang Jamal”, dalam bukunya Desain, Bandung & Budaya Sunda, tidak mengapresiasi dan bahkan mengejek PRW Architects dengan menyebut Menara BRI “memakai langgam arsitektur kontemporer yang acuannya robot mainan anak.”

Secara struktural, Menara BRI Bandung berdiri di atas pondasi bored pile berkedalaman 16-19 meter, dan gedung ini dibangun dengan struktur berupa beton bertulang dan beton pratekan, shear wall pada core, dan lantainya masih konvensional.

Sejak 2021, bagian bawah (podium) gedung ini mengalami perombakan menjadi bergaya art deco tulen berwarna putih untuk lebih menyesuaikan diri dengan bangunan lain di Jalan Asia Afrika.

Selengkapnya mengenai garis besar gedung era 1990an dapat anda baca di artikel ini


Iklan

Data dan fakta

Nama lamaBRI Tower Bandung
AlamatJalan Asia Afrika No. 57-59 Sumur Bandung, Bandung, Jawa Barat
ArsitekIr. Bagus Anggoro Rico (PRW Architects) (arsitektur)
Bandung Asia Afrika (architect of record)
PemborongBandung Asia Afrika
Lama pembangunanApril 1991 – April 1993
Jumlah lantai17 lantai
2 basement
Tinggi gedung (Republika, 15/8/1993)68 meter
Biaya pembangunanRp. 49,6 milyar (1993)
Rp. 497 milyar (inflasi 2023)
SignifikasiSejarah (lokasi awal dimulainya Bandung Lautan Api, 1945)
Referensi: Majalah Konstruksi #179 Maret 1993, Republika 15 Agustus 1993

Referensi

  1. Dwi Ratih; Djati Retnowati, Saptiwi. “BRI Bandung Tower: Mengangkat Langgam Arsitektur Indo-European”. Majalah Konstruksi No. 179, Maret 1993.
  2. Bandoeng Tempo Doeloe via All About Bandung
  3. Teguh Setiawan (1992). ” BRI Tower Menembus Cakrawala Bandung”. Media Indonesia, 14 Oktober 1992.
  4. Arys Hilman (1993). “BRI Bandung Tower, Gaya ‘Indo-Eropa’ di Pusat Kota”. Republika, 15 Agustus 1993, hal. 11
  5. Jamaludin (2022). “Tamatnya Riwayat Alun-alun Bandung,” dalam “Desain, Bandung & Budaya Sunda.” Bandung: Kiblat Buku Utama, hal. 76

Lokasi

Anda suka SGPC dan ingin membantu suksesnya blog ini? Dukung kami dengan memberi saweran via Saweria, dan anda mendapat kesempatan nama anda dipajang di halaman khusus ini. Atau, bila anda berminat dengan artikel majalah yang dikutip oleh blog ini, sekaligus butuh referensi, belilah di TORSIP SGPC!


Bagaimana pendapat anda......

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights